KaMedia – Manajemen Deltras FC kembali menuai sorotan tajam. Di tengah persiapan menuju fase krusial Pegadaian Championship 2025/2026, klub berjuluk The Lobster justru kembali sibuk melepas pemain inti. Kali ini, Thaufan Hidayat, bek asal Surabaya yang sudah tiga musim membela Deltras, resmi ditransfer ke PSIS Semarang, tepat di detik terakhir penutupan pendaftaran pemain, pukul 00.00 WIB.
Langkah ini menegaskan pola lama yang terus berulang, Deltras aktif di bursa transfer, namun kerap kehilangan pemain kunci saat kompetisi sedang panas-panasnya.
Bagi publik sepak bola Sidoarjo, keputusan ini bukan lagi kejutan, melainkan kebiasaan yang menimbulkan tanda tanya besar soal arah dan konsistensi tim. CEO Deltras FC Amir Burhannudin menyebut keputusan tersebut sebagai hal wajar dalam dinamika sepak bola profesional. Menurutnya, proses transfer Thaufan telah melalui pertimbangan panjang antara manajemen dan pemain.
“Transfer pemain ini hal yang lumrah. Ada pemain masuk, ada juga yang keluar,” ujar Amir.
Namun pernyataan normatif itu sulit meredam kritik. Pasalnya, Thaufan bukan pemain pelapis. Ia adalah bek produktif, berpengalaman, dan sudah menjadi bagian penting Deltras sejak musim 2023/2024. Bersama Widodo C Putro, Thaufan turut membawa Deltras melaju ke babak 8 besar, bahkan mencetak gol di musim perdananya.
Kontribusinya justru meningkat di musim berikutnya. Pada kompetisi 2024/2025, Thaufan mencetak empat gol dari 20 penampilan, catatan impresif untuk seorang pemain belakang. Musim ini pun ia masih menjadi bagian penting tim, tampil dalam 13 laga dan mencetak dua gol krusial, masing-masing saat melawan Persiku Kudus dan Kendal Tornado.
Namun semua kontribusi itu seolah tak cukup untuk membuatnya dipertahankan hingga akhir musim. Amir menegaskan bahwa kepergian Thaufan tidak akan mengganggu keseimbangan tim menuju putaran ketiga. Ia optimistis komposisi skuad tetap solid dengan pemain yang ada.
“Tim akan menyesuaikan dengan pemain baru ke depan,” katanya.
Pernyataan itu justru memunculkan pertanyaan lanjutan, sampai kapan Deltras terus menyesuaikan diri? Di saat klub-klub pesaing menjaga stabilitas skuad, Deltras kembali memilih jalan instan, jual, beli, dan bongkar pasang.
Transfer Thaufan di menit-menit akhir bukan sekadar urusan administrasi. Ia mencerminkan persoalan klasik Deltras FC, ambisi yang kerap kalah oleh keputusan jangka pendek. Jika pola ini terus berulang, bukan tak mungkin Deltras kembali kehilangan momentum, bukan karena kalah di lapangan, tetapi karena kebijakan sendiri di luar lapangan.











