KaMedia – Prof Akhmad Muzakki, PhD, akhirnya mundur dari jabatan Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA). Pengunduran diri itu terjadi setelah gelombang penolakan dari mahasiswa dan dosen kian membesar hingga berujung pada penyegelan kampus dan lumpuhnya aktivitas akademik.
Akhmad Muzakki mengundurkan diri pada Selasa (22/9/2026) malam, hanya sepekan setelah dilantik Menteri Agama Prof Dr Nasaruddin Umar sebagai Rektor UINSA untuk periode kedua.
” Prof Muzakki mengundurkan diri pukul 10 tadi malam karena kondisinya sudah tidak kondusif,” ujar seorang guru besar UINSA, Rabu (23/9/2026) pagi.
Guru besar tersebut mengungkapkan, dirinya mendapat informasi langsung dari pejabat Kementerian Agama di Jakarta.
“Saya ditelepon pejabat Kemenag Jakarta tadi malam. Beliau memberi tahu bahwa Prof Zakki sudah mundur,” katanya.
Menurut dia, pejabat tinggi Kemenag tersebut juga sempat meminta pendapat mengenai kemungkinan menunjuk pelaksana tugas (Plt) rektor sebelum mengangkat rektor definitif.
“Saya tidak setuju karena pasti terjadi gejolak lagi. Karena sudah pernah di-Plt,” ujarnya.
Ia menilai tidak ada alasan untuk memperpanjang ketidakpastian di UINSA. Kampus, menurutnya, membutuhkan kepastian kepemimpinan agar aktivitas akademik segera kembali berjalan.
“Lagi pula, apa untungnya ditunda-tunda. Kita berharap UINSA segera kondusif dan semua aktivitas berjalan lancar lagi,” tegasnya
Akhmad Muzakki dilantik Menteri Agama pada Selasa (15/9/2026) sebagai Rektor UINSA untuk periode 2026-2030. Ini merupakan periode keduanya setelah sebelumnya memimpin UINSA pada 2022-2026.
Namun, pelantikan tersebut langsung memicu penolakan keras dari civitas akademika UINSA, terutama mahasiswa dan dosen.
Penolakan berkembang menjadi aksi demonstrasi besar-besaran. Para mahasiswa dan dosen menuntut Muzakki mundur dan mempersoalkan kepemimpinannya yang mereka nilai telah merusak reputasi UINSA.
Situasi kemudian semakin memburuk. Kampus UINSA disegel sehingga aktivitas kampus lumpuh total. Meski tekanan terus meningkat, Muzakki sempat tetap bertahan.
Para demonstran kemudian membawa persoalan tersebut ke Komisi VIII DPR RI. Mereka menyampaikan berbagai persoalan terkait kepemimpinan Muzakki, termasuk tudingan bahwa gaya kepemimpinannya menebar ketakutan, otoriter, dan emosional
Komisi VIII DPR RI kemudian memanggil Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar untuk meminta penjelasan mengenai polemik pengangkatan Rektor UINSA tersebut.
Dalam rapat tersebut, anggota Komisi VIII mendesak agar pengangkatan Akhmad Muzakki sebagai Rektor UINSA segera ditinjau dan diselesaikan.
Menag Nasaruddin Umar merespons tekanan tersebut dengan menjanjikan penyelesaian dalam waktu tiga hari.
” Saya berjanji tidak akan terjadi lagi. Kalau itu terjadi berarti saya gagal, dan saya tidak ingin karena saya sampai sistem negara kami ini yang kita cinta bersama ini bermasalah,” tegas Nasaruddin Umar dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VIII di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (22/9/2026
Nasaruddin tidak membeberkan langkah yang akan diambil Kementerian Agama. Namun, ia memastikan keputusan akan segera dibuat.
“Maka itu, saya tidak ingin sampaikan apa yang kami akan lakukan, tetapi saya berjanji jangankan 15 hari, Pak, tiga hari ini kami akan lakukan keputusan,” katanya.
Imam Besar Masjid Istiqlal itu juga mengakui belum sepenuhnya memahami seluruh aturan terkait proses pemilihan dan pengangkatan rektor.
“Saya tidak ingin kebobolan. Sejarah hidup saya di Kementerian Agama baru kali ini saya kebobolan dan ini saya mohon maaf betul-betul,” pungkas Menag








