KaMedia – Keberadaan relawan selama ini menjadi salah satu garda terdepan dalam setiap upaya penanggulangan bencana. Mereka selalu hadir ketika dibutuhkan, mulai dari penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo hingga penanganan dampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang hingga kini masih berlangsung.
Namun, di balik peran besar tersebut, kesehatan para relawan kerap luput dari perhatian.
Berangkat dari kepedulian itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Chiba Institute of Science (CIS) Jepang, serta Universitas Budi Luhur menggelar pemeriksaan kesehatan bagi para relawan kebencanaan di Jawa Timur.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 19-21 Agustus 2026, tersebut diikuti 200 relawan kebencanaan dari berbagai daerah di Jatim.
Pemeriksaan kesehatan dipusatkan di Aula Taman Edukasi Bencana BPBD Jatim dan diawali dengan seremoni pembukaan pada Rabu (19/8/2026).
Hadir dalam pembukaan tersebut Koordinator Tim CIS Jepang Prof. Ryo Tanaka, Peneliti Utama BRIN Prof. Ma’mun Nuryana, serta perwakilan Universitas Budi Luhur. Dari BPBD Jatim, hadir Sekretaris BPBD Jatim Andhika N. Sudigda yang mewakili Kalaksa BPBD Jatim, serta Kabid PK BPBD Jatim Deni Kiki Melia Tamara.
Prof. Ryo Tanaka, didampingi Prof. Ma’mun Nuryana, mengatakan kehadiran timnya di Jawa Timur secara khusus bertujuan melakukan pemeriksaan kesehatan bagi para relawan yang selama ini terlibat dalam berbagai operasi penanggulangan bencana.
Menurutnya, pemeriksaan tersebut penting dilakukan karena dalam menjalankan tugas, para relawan sering kali mengabaikan kondisi kesehatan mereka sendiri. Padatnya aktivitas, minimnya waktu istirahat, pola makan yang tidak teratur, hingga beban kerja yang berlebihan menjadi sejumlah faktor yang perlu mendapat perhatian.
” Kita akan melakukan cek kesehatan, baik fisik maupun mental. Karena beban kerja yang berat kadang juga berdampak pada psikologis seseorang,” terang Prof. Ryo.
Sementara itu, Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto yang turut hadir dan menyapa tim dari Jepang serta para relawan menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi tersebut.
Menurut Gatot, kerja sama antara BPBD Jatim dengan sejumlah pihak, termasuk tim dari Jepang, bukan kali pertama dilakukan. Kolaborasi terus dibangun mengingat Jawa Timur memiliki potensi bencana yang sangat beragam.
“Kolaborasi ini bukan yang pertama, namun sudah yang kesekian kali. Hanya saja, kali ini fokus pada pemeriksaan kesehatan para relawan,” ujarnya.
Gatot menilai pemeriksaan kesehatan tersebut sangat penting. Sebab, aktivitas relawan di lapangan memiliki tingkat risiko yang cukup tinggi, terlebih ketika mereka harus bekerja dalam kondisi darurat dan menghadapi kelelahan fisik.
Tak hanya persoalan fisik, lanjutnya, kondisi psikologis juga perlu mendapat perhatian. Tingginya intensitas aktivitas di lapangan, ditambah beban kehidupan keluarga yang terkadang harus ditinggalkan ketika menjalankan tugas kemanusiaan, dapat menjadi tekanan tersendiri bagi relawan.
“Selain dampak fisik, tentu juga ada dampak psikologis akibat padatnya aktivitas mereka, dan beban hidup keluarga yang kerap mereka tinggalkan,” katanya.
Melalui kegiatan ini, BPBD Jatim berharap hasil pemeriksaan kesehatan dapat menjadi bahan kajian sekaligus rekomendasi untuk meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan para relawan kebencanaan.
Lebih dari sekadar pemeriksaan, kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah preventif agar para relawan tetap sehat dan mampu menjalankan tugas kemanusiaan secara optimal, tanpa mengabaikan kesehatan diri mereka sendiri.











