Jatim

Gubernur Khofifah Buka Ruang Kolaborasi dengan ICMI, Jadikan Jatim “Laboratorium Hidup” Riset dan Inovasi

×

Gubernur Khofifah Buka Ruang Kolaborasi dengan ICMI, Jadikan Jatim “Laboratorium Hidup” Riset dan Inovasi

Sebarkan artikel ini
Gubernur Khofifah saat menghadiri Pengukuhan Pengurus ICMI Organisasi Wilayah (Orwil) Jawa Timur Periode 2026–2031 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya / Foto : Pemprov Jatim.

KaMedia – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Jawa Timur untuk menjadikan riset, inovasi, dan ilmu pengetahuan sebagai kekuatan baru dalam menjawab persoalan masyarakat.

Khofifah menilai Jawa Timur memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi ruang pengembangan pengetahuan. Tidak hanya ditopang kekuatan pangan dan sumber daya alam, Jawa Timur juga memiliki sumber daya manusia, perguruan tinggi, serta ekosistem pesantren yang dapat menjadi fondasi pengembangan inovasi.

Pesan tersebut disampaikan Khofifah saat menghadiri Pengukuhan Pengurus ICMI Organisasi Wilayah (Orwil) Jawa Timur Periode 2026–2031 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Sabtu (19/9) malam.

Menurut Khofifah, pengukuhan kepengurusan baru ICMI Jawa Timur tidak boleh berhenti sebagai seremoni organisasi. Momentum tersebut harus menjadi titik awal untuk memperkuat kemitraan antara pemerintah, kalangan akademisi, dan para cendekiawan.

Para cendekiawan, kata dia, memiliki posisi strategis untuk membaca perubahan, menawarkan perspektif, sekaligus menerjemahkan pengetahuan menjadi solusi yang bisa dirasakan langsung masyarakat.

” Jawa Timur ini bisa dibilang adalah paket lengkap. Sebagai wilayah Lumbung Pangan Nasional yang memiliki sumber daya alam beragam, Jatim juga menjadi salah satu Lumbung sumber daya manusia (SDM) berkualitas di Indonesia,” ujarnya.

Khofifah menyebut kekuatan pangan dan SDM tersebut merupakan modal penting untuk memperluas riset dan inovasi. Karena itu, Jawa Timur perlu dipandang bukan sekadar sebagai wilayah administratif, melainkan sebagai ruang terbuka untuk menguji gagasan, mengembangkan pengetahuan, sekaligus menyelesaikan persoalan nyata

” Jawa Timur dengan 42 juta jiwa penduduk dan berbagai potensi lainnya adalah sebuah laboratorium hidup atau Living Laboratory bagi para akademisi. Kami optimis bahwa berbagai penelitian, pengabdian masyarakat, dan program inovasi perguruan tinggi secara konsisten dapat diimplementasikan disini,” ucapnya.

Khofifah menegaskan, posisi Jawa Timur sebagai salah satu kekuatan utama pangan nasional memberikan ruang besar bagi pengembangan riset berbasis kebutuhan daerah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sejak 2020 hingga semester I 2026, Jawa Timur tercatat sebagai provinsi dengan produksi padi dan beras tertinggi secara nasional.

Kekuatan tersebut semakin lengkap dengan besarnya ekosistem pendidikan pesantren. Jawa Timur memiliki 7.347 pondok pesantren dengan sekitar 660 ribu santri serta lebih dari 41 ribu ustaz dan ustazah.

Bagi Khofifah, pesantren tidak hanya berperan dalam pendidikan dan dakwah. Ekosistem tersebut juga menyimpan modal intelektual, sosial, dan spiritual yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan pemberdayaan masyarakat.

Potensi besar itu, menurutnya, harus dipertemukan dalam ekosistem kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, pesantren, dunia usaha, dan organisasi cendekiawan seperti ICMI.

Pemprov Jawa Timur, lanjut Khofifah, siap memberikan dukungan kebijakan sekaligus membuka ruang kolaborasi agar hasil riset perguruan tinggi tidak berhenti di ruang akademik.

Riset harus didorong lebih jauh hingga menjadi inovasi yang bisa diterapkan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

” Kami membuka ruang seluas-luasnya untuk bersinergi dengan ICMI. Mari menjadikan kecendekiawanan sebagai kekuatan untuk memecahkan berbagai persoalan di tanah air Indonesia,” pesannya.

Kolaborasi pemerintah dan ICMI, kata Khofifah, juga sejalan dengan upaya menjadikan Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara.

Baginya, Gerbang Baru Nusantara bukan sekadar jargon, tetapi membutuhkan kerja bersama yang bertumpu pada potensi daerah, penguasaan pengetahuan, inovasi, dan kualitas SDM.

Ia berharap ICMI Jawa Timur dapat mengambil peran lebih besar dalam memberikan rekomendasi berbasis pengetahuan sekaligus memperkaya kebijakan publik. Dengan demikian, kebutuhan masyarakat dapat dipertemukan dengan kapasitas riset perguruan tinggi dan para cendekiawan.

Gagasan tersebut mendapat sambutan dari Ketua Umum ICMI Pusat sekaligus Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria.

Arif berharap keberadaan ICMI Jawa Timur dapat semakin memperkuat kebijakan pemerintah yang berbasis science evidence base atau bukti ilmiah.

Menurutnya, Jawa Timur memiliki kombinasi modal yang kuat: kekayaan sumber daya alam dan sumber daya intelektual. Keberadaan sejumlah perguruan tinggi dengan kapasitas akademik yang kuat menjadi potensi besar untuk menghasilkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.

” Jawa Timur itu kaya akan sumber daya alam dan kaya akan intelektual. Banyak kampus-kampus top yang ada di Jawa Timur. Saya kira ini adalah kekuatan yang sangat besar,” pujinya.

Arif juga mendorong ICMI Jawa Timur menjadi mitra strategis pemerintah dalam mengembangkan inovasi. Gagasan dan pengetahuan, menurutnya, harus bergerak dari tahap understanding menuju building agar dapat melahirkan solusi yang benar-benar diterapkan.

Karena itu, ICMI Jawa Timur juga diharapkan ikut memperkuat literasi masyarakat, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), serta mendorong masyarakat agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menghasilkan dan mengembangkannya.

” Jadi tidak hanya understanding, tetapi juga building. Gagasan-gagasan dari Ibu Gubernur dan Pak Wagub telah banyak kami dengar dan memang sangat futuristik untuk membuat Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara,” pungkas Arif.