HeadlineJatimPemerintahan

Jawa Timur Jadi Provinsi dengan Peserta PJJ Terbanyak, 109 Anak Tidak Sekolah Siap Kembali Belajar

×

Jawa Timur Jadi Provinsi dengan Peserta PJJ Terbanyak, 109 Anak Tidak Sekolah Siap Kembali Belajar

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, mengatakan keberhasilan tersebut merupakan hasil pendataan intensif yang dilakukan seluruh Cabang Dinas Pendidikan melalui pendekatan langsung kepada masyarakat / Foto : Istimewa

KaMedia – Komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam membuka kembali akses pendidikan bagi Anak Tidak Sekolah (ATS) membuahkan hasil. Jawa Timur tercatat sebagai provinsi dengan jumlah peserta terbanyak dalam Program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) jenjang pendidikan menengah yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Dari 124 calon peserta yang diusulkan Pemprov Jawa Timur, sebanyak 109 anak telah dinyatakan lolos proses verifikasi dan siap mengikuti pembelajaran. Sementara itu, 15 calon peserta lainnya masih menjalani tahapan verifikasi.

Capaian ini menempatkan Jawa Timur sebagai daerah dengan peserta PJJ terbanyak di Indonesia. Program tersebut menjadi salah satu ikhtiar pemerintah untuk mengembalikan hak pendidikan bagi anak-anak yang sempat putus sekolah sekaligus menekan angka Anak Tidak Sekolah di berbagai daerah.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, mengatakan keberhasilan ini tidak lepas dari kerja keras seluruh Cabang Dinas Pendidikan yang melakukan pendataan secara intensif hingga menyentuh langsung masyarakat.

“Program PJJ menjadi alternatif penting untuk memperluas akses pendidikan bagi anak tidak sekolah. Kami melakukan penjaringan secara masif hingga ke rumah-rumah warga sehingga berhasil mengusulkan 124 calon peserta, jumlah terbanyak di Indonesia,” ujar Aries.

Menurut Aries, pendataan dilakukan melalui dua mekanisme, yakni kunjungan langsung dari rumah ke rumah dan pendaftaran mandiri oleh masyarakat. Seluruh data yang terkumpul kemudian diverifikasi oleh Kemendikdasmen.

Proses verifikasi mencakup pemeriksaan kelengkapan administrasi, wawancara dengan orang tua atau wali, memastikan usia calon peserta berada pada rentang 16–18 tahun untuk jenjang kelas X, hingga memastikan mereka tidak sedang tercatat sebagai siswa aktif di sekolah lain.

Untuk mendukung pelaksanaan program, Dinas Pendidikan Jawa Timur menunjuk enam SMA Negeri sebagai penyelenggara. SMAN 1 Kepanjen ditetapkan sebagai sekolah induk dengan dukungan lima sekolah mitra, yakni SMAN Plus Sukowono, SMAN 1 Tosari, SMAN 4 Bangkalan, SMAN 4 Malang, dan SMAN 1 Ambunten.

Program PJJ dirancang bagi anak usia 16–18 tahun yang belum dapat mengikuti pendidikan reguler. Sasarannya meliputi anak yang putus sekolah, sudah bekerja, tinggal di wilayah terpencil atau daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), maupun mereka yang memiliki kondisi khusus lainnya.

Skema pembelajaran menggabungkan 30 persen pembelajaran sinkron melalui kelas virtual dan 70 persen pembelajaran asinkron yang memungkinkan peserta belajar secara mandiri sesuai kondisi masing-masing.

Selain itu, peserta juga memperoleh berbagai fasilitas pendukung, mulai dari modul pembelajaran, bantuan kuota internet, akun Belajar.id, akses Learning Management System (LMS), pendampingan guru secara daring maupun tatap muka, hingga ijazah yang memiliki legalitas setara dengan sekolah reguler.

Aries berharap semakin banyak Anak Tidak Sekolah di Jawa Timur memanfaatkan program tersebut sehingga kesempatan untuk kembali mengenyam pendidikan semakin terbuka.

“Harapannya semakin banyak anak yang kembali memperoleh akses pendidikan melalui PJJ sehingga jumlah anak tidak sekolah di Jawa Timur terus berkurang,” katanya.

Berdasarkan data Kemendikdasmen per 31 Juli 2026, lebih dari 700 Anak Tidak Sekolah di seluruh Indonesia telah lolos verifikasi dan siap mengikuti Program Pembelajaran Jarak Jauh.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa PJJ merupakan wujud nyata kehadiran negara dalam memastikan setiap anak tetap memiliki kesempatan untuk belajar dan meraih masa depan yang lebih baik.

” PJJ adalah bentuk negara menjemput bola agar anak-anak yang selama ini belum mendapatkan layanan pendidikan tetap memiliki kesempatan meraih cita-citanya,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menjelaskan bahwa pengembangan Program PJJ dilakukan bersama Universitas Terbuka dan SEAMEO SEAMOLEC guna menjaga kualitas pembelajaran.

Menurutnya, seluruh sekolah induk yang ditunjuk telah berakreditasi A sehingga mutu layanan pendidikan tetap terjamin meski proses belajar dilaksanakan secara jarak jauh.

“Hingga kini kami telah mengidentifikasi lebih dari 1.000 calon peserta. Setelah proses verifikasi, sekitar 700 anak dipastikan merupakan Anak Tidak Sekolah dan siap mengikuti Program PJJ. Ke depan, jangkauan program akan terus diperluas melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, organisasi masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan,” pungkas Tatang.