HeadlineJatim

RSD Prof. dr. Moeljono: Percobaan Bunuh Diri di Jatim Meledak, Anak Muda Usia 20–30 Tahun Jadi Korban Terbanyak

×

RSD Prof. dr. Moeljono: Percobaan Bunuh Diri di Jatim Meledak, Anak Muda Usia 20–30 Tahun Jadi Korban Terbanyak

Sebarkan artikel ini
Angka depresi anak muda di Jatim meningkat tajam, pemerintah daerah dituntut untuk mencari akar permasalahannya / Foto : Ilustrasi by Wawan.

RSD Prof. dr. Moeljono: Percobaan Bunuh Diri di Jatim Meledak, Anak Muda Usia 20–30 Tahun Jadi Korban Terbanyak

Lonjakan kasus percobaan bunuh diri di Jawa Timur memasuki fase yang mengkhawatirkan. Rumah Sakit Daerah (RSD) Prof. dr. Moeljono mencatat, sepanjang Mei hingga Juni 2026, hampir setiap hari ada pasien yang datang setelah melakukan percobaan bunuh diri. Ironisnya, mayoritas berasal dari kelompok usia produktif, 20 hingga 30 tahun.

Direktur Utama RSD Prof. dr. Moeljono, Vitria Dewi, mengungkapkan, rumah sakit kini menangani rata-rata satu kasus percobaan bunuh diri setiap hari. Dalam sebulan, jumlahnya mencapai sekitar 30 kasus, melonjak drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya yang biasanya hanya muncul pada akhir pekan.

Ini adalah kasus percobaan bunuh diri karena pasien masih sempat tertolong dan dibawa ke rumah sakit. Kalau tidak tertolong, tentu hasilnya berbeda,” ujar Vitria, Selasa (14/7/2026).

Data rumah sakit menunjukkan, mereka yang mencoba mengakhiri hidup justru didominasi anak muda dengan latar belakang pendidikan dan kehidupan yang relatif baik. Namun, di balik itu tersimpan tekanan psikologis yang begitu berat hingga mendorong mereka mengambil keputusan ekstrem.

Konflik dalam keluarga menjadi pemicu yang paling banyak ditemukan, mulai dari benturan antara orang tua dan anak, hubungan yang tidak harmonis, hingga tuntutan akademik yang semakin menghimpit.

Anak-anak muda ini menghadapi banyak tekanan. Konflik keluarga dan tuntutan akademik menjadi faktor yang paling sering kami temukan,” kata Vitria.

Metode percobaan bunuh diri yang ditangani juga semakin beragam, mulai dari melompat dari ketinggian, melukai diri sendiri (self-harm), hingga tindakan lain yang berisiko menghilangkan nyawa. Seluruh pasien yang berhasil diselamatkan menjalani penanganan medis darurat, asesmen psikologis, serta perawatan lanjutan sesuai kondisi masing-masing.

Berbeda dengan kelompok usia muda, pasien berusia 40 hingga 50 tahun lebih banyak terdorong melakukan percobaan bunuh diri akibat tekanan ekonomi yang berkepanjangan.

Lonjakan kasus ini menjadi sinyal keras bahwa krisis kesehatan mental di Jawa Timur kian nyata. Persoalan ini tidak lagi bisa dianggap sebagai urusan pribadi. Ketika tekanan keluarga, akademik, sosial, dan ekonomi terus menumpuk tanpa penanganan yang memadai, semakin banyak nyawa berada di ujung tanduk. Penguatan layanan kesehatan jiwa, edukasi di lingkungan keluarga, serta deteksi dini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang mendesak.