Headline

Saat Banjir Mengancam, Kisah Endang Dan Hujan Yang Mengusik 25 Tahun Ketenangan

×

Saat Banjir Mengancam, Kisah Endang Dan Hujan Yang Mengusik 25 Tahun Ketenangan

Sebarkan artikel ini
Kondisi banjir di Desa Manang menyebabkan aktivitas masyarakat terganggu / Foto : Istimewa by Endang Indrati.

KaMedia – Hujan turun sejak sore itu, Selasa (14/4/2026). Bagi Endang Indrati, hujan hanyalah bagian biasa dari hari-hari panjangnya di Desa Prenggan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo. Tak ada firasat, tak ada kekhawatiran.

Selama 25 tahun tinggal di sana, ia tak pernah sekalipun berhadapan dengan banjir.
Namun pagi itu, segalanya berubah.
Air perlahan menggenangi jalan di depan rumahnya. Pemandangan yang selama ini hanya ia lihat di layar televisi, kini hadir di depan mata.

“Selama 25 tahun tinggal di tempat ini, tidak pernah terjadi banjir. Kaget juga melihat jalan depan rumah sudah tergenang air,” ujarnya pelan.

Endang, ibu dua anak yang tetap tampak tegar, kini harus berhadapan dengan kenyataan baru, lingkungannya tak lagi sama. Banjir ternyata tak hanya merendam desanya. Air juga menggenangi Desa Manang, tempat ia bekerja, hanya sekitar satu kilometer dari rumahnya. Jarak yang biasanya ia tempuh dalam 15 menit, kini terasa dua kali lebih jauh.

“Kalau tidak banjir, saya ke kantor 15 menit sampai. Tapi sekarang harus memutar, bisa sampai 30 menit,” katanya.

Di balik keluhannya, terselip kebingungan yang sulit disembunyikan. Banjir ini datang tanpa pengalaman sebelumnya, tanpa kesiapan.

Endang hanyalah satu dari ratusan warga yang terdampak banjir besar di Kabupaten Sukoharjo. Air merendam 14 desa di empat kecamatan, Grogol, Baki, Gatak, dan Kartasura.

Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo, Ariyanto Mulyatmojo, menjelaskan bahwa hujan deras selama sekitar 10 jam menjadi pemicu utama. Hujan mengguyur sejak pukul 18.00 hingga 04.00 WIB, Rabu (15/4/2026), hingga akhirnya air meluap dan merendam permukiman warga.

“Ratusan rumah warga tergenang di 14 desa. Sekolah juga terdampak, terutama di Kecamatan Baki dan Grogol,” jelasnya.

Di berbagai sudut desa, warga berusaha bertahan dengan cara seadanya. Sebagian mengungsi ke tempat yang mereka anggap aman, emper toko, masjid, atau rumah kerabat. Malam-malam dilalui tanpa kepastian, ditemani rasa cemas akan air yang belum sepenuhnya surut.

BPBD bersama dinas terkait kini terus bersiaga. Tempat pengungsian disiapkan, mengingat cuaca yang masih belum stabil dan potensi banjir susulan masih mengintai.

“Kami siaga karena kemungkinan banjir masih bisa terjadi,” pungkas Ariyanto.

Sementara itu dirumahnya, Endang hanya berharap satu hal, air segera surut, dan kehidupannya kembali seperti semula.Sebab baginya, banjir bukan sekadar genangan. Ia adalah pengalaman pertama yang mengubah rasa aman menjadi kekhawatiran, datang tiba-tiba, tanpa permisi.