HeadlineJatim

Jelang Muktamar, PWNU Jatim Dorong “Aswaja Center” Jadi Lembaga Resmi NU

×

Jelang Muktamar, PWNU Jatim Dorong “Aswaja Center” Jadi Lembaga Resmi NU

Sebarkan artikel ini

KaMedia – Menjelang Muktamar Ke-35 NU, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menggulirkan gagasan strategis: mendorong Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah) Center agar menjadi lembaga atau badan khusus di lingkungan NU.

Usulan ini bukan sekadar wacana. Ia telah disepakati dalam sidang pleno Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) PWNU Jatim yang digelar di Tuban pada 11–12 April 2026. Forum penting tersebut dibuka oleh Rais Syuriah PBNU Prof. Mohammad Nuh dan ditutup Rais Aam PBNU KH Miftakhul Achyar.

Delegasi Aswaja Center, MZ Muhaimin, menegaskan bahwa keputusan ini lahir dari pembahasan serius di tingkat komisi program yang dipimpin Wakil Ketua PWNU Jatim KH Firjaun Barlaman.

“Pelembagaan Aswaja Center harus segera dikawal dalam Konbes dan Munas akhir April nanti, agar resmi tercantum dalam AD/ART NU atau Perkum PBNU sebagai lembaga atau badan khusus,” ujarnya.

Ia menambahkan, langkah ini bukan tanpa dasar. Dalam sidang komisi, Muhaimin bahkan memutar rekaman pleno Muktamar ke-34 NU di Lampung yang menunjukkan bahwa aspirasi serupa pernah diterima dan menunggu tindak lanjut pada forum yang lebih teknis.

“Artinya, ini tinggal kita kawal bersama agar benar-benar terwujud dalam bentuk pasal khusus,” tegasnya.

Di Jawa Timur sendiri, Aswaja NU Center bukan hal baru. Sejak 2011, lembaga ini telah aktif bergerak, bahkan jejaknya bisa ditelusuri secara digital. Tak hanya di tingkat wilayah, hampir seluruh PCNU hingga MWCNU di Jatim juga telah memiliki Aswaja Center sebagai badan khusus.

Gerakan serupa juga mulai tumbuh di daerah lain, seperti Jawa Tengah dan Jawa Barat, menandakan bahwa kebutuhan akan penguatan Aswaja semakin dirasakan secara luas.

Wakil Sekretaris PWNU Jatim, Dr. KH Wafiul Ahdi, menilai pelembagaan ini sangat mendesak. Menurutnya, Aswaja adalah ruh NU yang harus terus dijaga—terutama di tengah derasnya arus digital yang memicu “perang ideologi” secara terbuka.

“Peran Aswaja Center sangat penting untuk syiar dan kaderisasi. Apalagi ada temuan bahwa banyak generasi muda NU (Gen-Z NU) belum memahami Aswaja An-Nahdliyah secara mendalam. Ini tentu menjadi alarm serius,” ungkapnya.

Karena itu, ia mendorong agar Aswaja Center diperkuat sebagai pusat advokasi pemahaman Aswaja, literasi keilmuan, hingga penerbitan buku dan pengembangan konten edukatif.

Sebagai pengingat, Aswaja An-Nahdliyah memiliki landasan keilmuan yang kuat: dalam akidah mengikuti Asy’ariyah dan Maturidiyah, dalam fikih berpegang pada empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali), serta dalam tasawuf merujuk pada ajaran Imam Al-Ghazali dan Imam Junaid Al-Baghdadi.

Selain isu Aswaja Center, Muskerwil PWNU Jatim juga merumuskan berbagai rekomendasi penting untuk Munas dan Konbes. Di antaranya penguatan tiga pilar pemberdayaan ekonomi (UMKM, hilirisasi pertanian dan perhutanan sosial, serta filantropi/ZIS), pengembangan layanan kesehatan berbasis jamaah melalui RS NU dan klinik, hingga penguatan kelembagaan AHWA.

Dengan berbagai agenda strategis ini, PWNU Jatim berharap Muktamar Ke-35 NU tidak hanya menjadi forum rutin, tetapi juga momentum penguatan ideologi, kelembagaan, dan kemandirian umat.