JatimPemerintahan

Pelukan Ramadan dan Mimpi Yang Tumbuh: Kisah Siswa Sekolah Rakyat Bertemu Gubernur Khofifah Indar Parawansa

×

Pelukan Ramadan dan Mimpi Yang Tumbuh: Kisah Siswa Sekolah Rakyat Bertemu Gubernur Khofifah Indar Parawansa

Sebarkan artikel ini

KaMedia – Di tengah hangatnya suasana Ramadan, ada momen-momen kecil yang diam-diam mengubah cara pandang seseorang terhadap hidup. Bukan sekadar tentang bantuan yang diberikan, melainkan tentang perasaan dilihat, dihargai, dan dipercaya untuk punya masa depan. Itulah yang dirasakan para siswa Sekolah Rakyat saat bertemu dengan Khofifah Indar Parawansa dalam rangkaian Sapa Bantuan Sosial Amaliyah Ramadan 1447 H di berbagai penjuru Jawa Timur.

Sejak awal kegiatan hingga memasuki titik ke-17, kehadiran siswa Sekolah Rakyat selalu menjadi bagian yang dinantikan. Di sembilan sekolah yang telah terlibat, mulai dari Bangkalan hingga Gresik, anak-anak datang bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai wajah harapan. Mereka tampil, menyapa, dan menunjukkan bahwa pendidikan yang inklusif bukan sekadar wacana.

Di setiap titik kunjungan, suasana terasa lebih dari sekadar seremoni. Ada hadrah yang dilantunkan, ada tawa yang pecah, dan ada rasa gugup yang perlahan berubah menjadi kebanggaan ketika para siswa berdiri dekat dengan sosok pemimpin yang sebelumnya hanya mereka kenal dari layar.

Bagi Khofifah, kehadiran mereka bukan pelengkap. Ia ingin anak-anak Sekolah Rakyat merasakan bahwa mereka juga bagian penting dari masa depan Jawa Timur. Dukungan itu tak hanya hadir lewat kata-kata, tetapi juga melalui perhatian sederhana, peralatan ibadah, tas sekolah, hingga ajakan berbuka puasa bersama.

Namun, yang paling membekas justru momen-momen tak terencana: ketika seorang siswa dipeluk, ketika tangan kecil menjabat erat, atau ketika percakapan singkat menghadirkan rasa percaya diri yang selama ini tersembunyi.

Raffa Inayah, siswa dari SRT 51 Bangkalan, masih mengingat betul detik pertemuan itu. Matanya berbinar saat bercerita. Ia tidak hanya senang, ia merasa diakui.

“Ini pertama kalinya saya bertemu Ibu Gubernur, apalagi sampai dipeluk. Saya bangga sekali,” tuturnya pelan, seolah masih menyimpan kehangatan momen tersebut.

Bagi Raffa, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar. Di sanalah ia menemukan versi baru dirinya yang lebih disiplin, lebih percaya diri, dan berani bermimpi. Ia belajar bahwa pendidikan bukan hanya soal pelajaran di kelas, tetapi juga tentang bagaimana menjadi manusia yang utuh.

Ia kini punya mimpi yang dulu terasa jauh. Ia ingin sukses, membanggakan orang tua, dan membuktikan bahwa kesempatan yang diberikan tidak sia-sia.

Cerita Raffa hanyalah satu dari banyak kisah serupa. Di balik seragam sederhana dan latar belakang yang tak selalu mudah, para siswa Sekolah Rakyat menyimpan tekad yang besar. Program ini, bagi mereka, menjadi titik balik membuka jalan yang sebelumnya terasa tertutup.

Ramadan kali ini mungkin akan berlalu seperti biasa bagi sebagian orang. Namun bagi anak-anak itu, ada kenangan yang akan tinggal lama: tentang pertemuan, tentang pelukan, dan tentang keyakinan baru bahwa masa depan mereka layak diperjuangkan.