KaMedia– Di tengah naiknya kebutuhan pokok saat Ramadan, senyum warga Pare, Kabupaten Kediri, tampak merekah. Sejak pagi, halaman Gedung Serbaguna di Kelurahan Pare dipadati ibu rumah tangga, lansia, hingga pekerja harian yang berburu bahan pangan dengan harga lebih terjangkau.
Program Pasar Murah yang dihadirkan Khofifah Indar Parawansa ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari strategi konkret Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah.
Di lokasi pasar, selisih harga terasa nyata. Jika harga ayam di pasaran menyentuh Rp40.000 per kilogram, di sini warga bisa mendapatkannya seharga Rp30.000. Telur yang umumnya dijual Rp30.000, tersedia Rp22.000. Beras premium dijual Rp14.000 per kilogram, beras medium Rp11.000 per kilogram, hingga MinyaKita Rp13.000 per liter.
Bagi Siti (45), warga Pare, pasar murah ini sangat membantu. “Belanja jadi lebih ringan. Selisihnya bisa untuk kebutuhan lain,” ujarnya sambil membawa dua kantong belanja.
Khofifah menegaskan bahwa pasar murah merupakan instrumen strategis pengendalian inflasi daerah, terutama saat permintaan meningkat tajam di bulan suci. Menurutnya, langkah ini bersifat komplementer atau melengkapi program yang telah dijalankan pemerintah kabupaten/kota.
“Harapannya keterjangkauan kebutuhan masyarakat bisa kita dukung bersama. Ini bentuk sinergi agar intervensi semakin luas dan efektif,” ungkapnya.
Selain pasar murah, Pemprov Jatim bersama Bank Indonesia juga meluncurkan Mobil EPIK (Etalase Pengendalian Inflasi Kabupaten/Kota). Program ini memperkuat kerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui strategi 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Mobil EPIK membawa komoditas strategis seperti beras, gula, dan minyak goreng bersubsidi, berkeliling ke berbagai daerah untuk memastikan distribusi lancar hingga ke pelosok. Pendekatan ini diharapkan mampu menekan gejolak harga sekaligus menjaga stabilitas ekonomi daerah.
Secara ekonomi, langkah ini memiliki dampak ganda. Di satu sisi menjaga inflasi tetap terkendali, di sisi lain memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap stabilitas pasokan pangan. Stabilitas harga menjelang hari besar keagamaan juga menjadi faktor penting dalam menjaga konsumsi rumah tangga, komponen utama penggerak ekonomi daerah.
Khofifah pun mengapresiasi tingginya antusiasme warga setiap kali pasar murah digelar. Baginya, keberhasilan program ini bukan hanya terlihat dari angka inflasi yang terkendali, tetapi dari ketenangan masyarakat dalam menjalani Ramadan tanpa kekhawatiran lonjakan harga.
Dengan pendekatan yang menyentuh langsung kebutuhan warga, pasar murah di Pare menjadi gambaran bagaimana kebijakan ekonomi dapat hadir secara humanis, menjaga stabilitas sekaligus menghadirkan rasa aman di meja makan masyarakat.











