KaMedia – Pertandingan bertensi tinggi tersaji di Stadion Jenggolo, Rabu (7/1/2026), saat Persida Sidoarjo menumbangkan Persinga Ngawi dengan skor 2-1. Laga berjalan panas sejak awal dan diwarnai insiden serius di penghujung pertandingan akibat protes keras dari official Persinga terhadap kepemimpinan wasit.
Persinga Ngawi tampil dominan di awal babak pertama. Serangan masif dari kedua sisi sayap memaksa lini belakang Persida bekerja keras. Beberapa kali kemelut tercipta di depan gawang tuan rumah, namun penyelesaian akhir Persinga gagal menembus penjagaan kiper Persida, Fahmi Idris, yang tampil solid di bawah mistar.
Memasuki babak kedua, intensitas permainan meningkat drastis. Jual beli serangan terjadi sejak menit awal. Persinga akhirnya memecah kebuntuan pada menit ke-50 melalui sundulan Dimas Galih yang tak mampu dihalau Fahmi. Gol tersebut membuat Persida tertinggal 0-1.
Tersentak oleh gol tersebut, Persida langsung merespons dengan mengubah tempo dan pola permainan. Tekanan bertubi-tubi berbuah hasil cepat. Dua gol bersarang ke gawang Persinga dalam rentang tujuh menit, masing-masing pada menit ke-62 dan ke-69. Skor berbalik 2-1 untuk Persida dan bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.
Namun kemenangan Persida ternodai insiden pascalaga. Official Persinga Ngawi meluapkan ketidakpuasan terhadap keputusan wasit dengan melakukan protes keras di lapangan. Situasi memanas dan nyaris berujung baku hantam antar pihak.
Kericuhan baru mereda setelah Komisi Disiplin PSSI Asprov Jawa Timur, Makin Ramad, turun langsung ke lapangan untuk menenangkan suasana dan mengamankan jalannya akhir pertandingan.
Insiden ini dipastikan menjadi perhatian serius otoritas sepak bola setempat. Selain hasil pertandingan, sorotan kini tertuju pada sikap official Persinga yang dinilai mencederai sportivitas dan berpotensi berbuntut sanksi disipliner.











