KaMedia – Hujan belum sepenuhnya reda ketika sebuah keluarga berdiri terpaku di Taman Pemakaman Umum Delta Praloyo Asri, Sidoarjo. Di hadapan mereka, bukan liang lahat yang siap menerima jenazah orang tercinta, melainkan genangan air keruh yang menutup hampir seluruh area pemakaman. Minggu itu, duka tak hanya datang dari kematian, tetapi juga dari keadaan yang memaksa perpisahan terakhir berlangsung dalam ketidaklayakan.
Hujan deras yang mengguyur Sidoarjo dan sekitarnya kembali membuat TPU Delta Praloyo Asri terendam banjir. Sungai yang meluap akibat normalisasi yang tak kunjung tuntas, menenggelamkan makam-makam, seolah menghapus batas antara tempat peristirahatan terakhir dan kubangan air.
Pada Senin (6/1), sebuah jenazah terpaksa dipikul lebih jauh. Keluarga harus mencari titik tanah yang tidak tergenang, menjauh dari makam-makam lain yang sudah terendam. Langkah kaki mereka tertahan lumpur, sementara air mata tak bisa dibendung. Dalam duka yang seharusnya khidmat, mereka justru disuguhi kesulitan dan kecemasan.
Wawan, pengurus TPU Delta Praloyo Asri, menyaksikan pemandangan memilukan itu hampir setiap kali hujan deras turun.
“Air sungai meluber, makam terendam. Warga kebingungan mencari tempat untuk menguburkan jenazah keluarganya,” katanya lirih. Ia tahu betul, ini bukan kejadian sekali dua kali.
Menurut Wawan, lambannya penanganan normalisasi sungai oleh Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menjadi akar masalah yang terus berulang. Jalan menuju makam berubah menjadi lintasan berbahaya becek, licin, dan penuh lumpur. Bahkan untuk sekadar mengantar jenazah, warga harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset.
“Seharusnya tempat seperti ini dijaga kehormatannya,” ucap Wawan.
Ia berharap jalan di sekitar makam ditinggikan atau dipasang paving. Bukan untuk kemewahan, melainkan demi kelayakan dan rasa hormat bagi yang telah meninggal dan yang ditinggalkan.
Di sudut lain makam, Ronald berdiri menatap pusara orang tuanya. Setiap ziarah, ia harus menyiapkan diri menghadapi medan yang sulit.
“Kalau banjir, jalannya susah. Kadang sampai ragu mau ziarah karena licin dan tergenang,” katanya. Namun rindu selalu mengalahkan rasa takutnya.
Banjir di TPU Delta Praloyo Asri bukan sekadar persoalan air dan lumpur. Ia adalah cerita tentang jenazah yang tak bisa dimakamkan dengan tenang, tentang keluarga yang berduka namun harus berjuang di tengah genangan, dan tentang negara yang absen di saat warganya paling membutuhkan.
Di tempat di mana doa seharusnya mengalir dengan khusyuk, justru air banjir yang datang lebih dulu. Dan hingga kini, jenazah-jenazah itu seakan menunggu satu hal sederhana, perhatian dan tanggung jawab.











