HeadlineSurabaya

William Wirakusuma: Surabaya Harus Naik Kelas Jadi Kota Wisata Urban dan Budaya Dunia

×

William Wirakusuma: Surabaya Harus Naik Kelas Jadi Kota Wisata Urban dan Budaya Dunia

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua Fraksi PSI DPRD Kota Surabaya William Wirakusuma / Foto : Ist

KaMedia – Di balik hiruk pikuknya sebagai kota bisnis dan industri, Surabaya menyimpan potensi besar sebagai destinasi wisata urban dan budaya kelas dunia. Keyakinan itu disampaikan Wakil Ketua Fraksi PSI DPRD Kota Surabaya, William Wirakusuma, yang mendorong Pemerintah Kota untuk berani melakukan lompatan besar dalam pengembangan pariwisata kota.

Bagi William, Surabaya bukan sekadar kota transit. Kota Pahlawan memiliki kekuatan narasi sejarah, kekayaan sungai dan pantai, hingga ragam kuliner autentik yang tidak dimiliki kota lain.

“Surabaya punya cerita, punya rasa, dan punya wajah yang khas. Tinggal bagaimana kita mengemasnya menjadi pengalaman wisata yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan,” ujar William saat ditemui di Surabaya, Kamis (15/1).

William menilai, strategi pariwisata Surabaya ke depan tidak bisa lagi berjalan konvensional. Wisata harus berbasis pengalaman, memanfaatkan teknologi digital, serta melibatkan warga sebagai bagian utama dari ekosistem wisata.
Ia menyebutkan beberapa sektor kunci yang perlu mendapat perhatian serius.

Salah satu gagasan yang paling ia tekankan adalah revitalisasi wisata air, khususnya Sungai Kalimas. Menurutnya, Kalimas dapat disulap menjadi ikon wisata layaknya kanal-kanal di Eropa atau Singapura.

“Kalimas itu bukan sekadar saluran air. Ia adalah nadi sejarah Surabaya. Dengan perahu hias, panggung seni terapung, dan pencahayaan artistik, kita bisa menghidupkan ekonomi malam dan memberi pengalaman baru bagi wisatawan,” jelasnya.

Tak hanya sungai, kawasan Pantai Kenjeran dan Taman Suroboyo dengan air mancur menari dinilai memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi warga pesisir jika dikelola secara konsisten.

William juga menyoroti kawasan Surabaya Utara, mulai dari Kya-Kya, Jalan Karet, Jembatan Merah hingga Ampel. Ia mendorong integrasi kawasan heritage dan religi, baik secara fisik maupun narasi.

“Wisatawan tidak hanya ingin melihat bangunan tua, tapi ingin mendengar ceritanya,” ujarnya.

Ia mengusulkan jalur pedestrian yang nyaman dan teduh, serta insentif bagi pemilik bangunan bersejarah agar bersedia mengalihfungsikan gedungnya menjadi galeri, kafe, atau ruang kreatif tanpa menghilangkan nilai sejarah.

Menurut William, kekuatan Surabaya justru ada di kampung-kampungnya. Kampung Peneleh, misalnya, memiliki nilai sejarah yang sangat kuat.

“Wisata itu harus masuk ke kampung. Di situlah autentisitas Surabaya. Warga perlu dilatih hospitality agar bisa menjadi pemandu wisata di rumah sendiri,” kata politisi muda yang akrab disapa Bro Will ini.

Sebagai pencinta kuliner, William menilai kekayaan rasa Surabaya adalah aset luar biasa. Mulai dari rawon, tahu tek, lontong balap, semanggi, bebek goreng, hingga lontong kikil, semuanya tersebar di berbagai sudut kota.

“Kalau sentra wisata kuliner di tiap kecamatan dihidupkan, ekonomi warga pasti ikut bergerak. Jangan lupa, Jalan Tunjungan juga sudah jadi magnet kafe dan restoran anak muda,” ujarnya antusias.

Namun, William mengingatkan bahwa pariwisata tidak akan berkembang tanpa transportasi publik yang layak dan ramah wisatawan. Ia menyoroti masih banyaknya persoalan pada layanan Suroboyo Bus dan Wira-Wiri.

Mulai dari pramudi yang ugal-ugalan, armada yang menua, monitor informasi yang mati, hingga sistem manajemen armada yang tidak berjalan optimal.

“Saya temukan banyak OBD rusak, monitor command center mati, dan pramudi yang tidak memahami sistem. Ini serius, karena transportasi umum seharusnya menjadi wajah pariwisata kota,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya satu aplikasi terintegrasi yang memudahkan wisatawan mengakses transportasi, tiket wisata, hingga direktori kuliner UMKM.

Sebagai anggota DPRD, William berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan dan anggaran yang berpihak pada pembangunan pariwisata yang inklusif dan ramah lingkungan.

“Mari kita jadikan Surabaya bukan hanya tempat bekerja, tapi juga kota yang dirindukan untuk dikunjungi. Kalau wisatanya maju, ekonomi warga terangkat. Surabaya itu mampu,” pungkasnya optimistis.