KaMedia – Rekor 13 laga tanpa kekalahan milik Persebaya Surabaya akhirnya runtuh dengan cara yang paling menyakitkan. Bermain di hadapan ribuan Bonek di Stadion Gelora Bung Tomo, Sabtu (14/2/2026) malam WIB, Bajul Ijo dipaksa menyerah 1-2 dari tamunya, Bhayangkara FC, dalam pekan ke-21 BRI Super League 2025/2026.
Kekalahan ini bukan sekadar terhentinya tren impresif, tetapi juga luka di kandang sendiri. Laga yang dipimpin wasit asal Jepang, Yudai Yamamoto, berlangsung dalam guyuran hujan sejak awal. Lapangan licin tak mengurangi tensi pertandingan yang sejak menit pertama sudah berjalan keras dan cepat.
Persebaya mencoba mengambil inisiatif serangan. Namun justru Bhayangkara yang tampil lebih efektif. Peringatan pertama datang dari sepakan melintir Moussa Sidibe di menit ketujuh yang masih bisa diamankan Andhika.
Dominasi penguasaan bola perlahan berpihak pada tim tamu. Persebaya yang tampil lebih menunggu justru kesulitan menciptakan peluang bersih. Hingga menit ke-20, belum ada ancaman berarti yang benar-benar menguji Aqil Savik.
Petaka datang pada menit ke-26. Berawal dari bola mati yang dieksekusi Sidibe, Bernard Doumbia sukses memenangkan duel udara dan menanduk bola ke gawang. Skor berubah 0-1. Stadion Gelora Bung Tomo terdiam. Situasi semakin panas setelah pelanggaran keras Nehar Sadiki terhadap Perovic memicu ketegangan di lapangan.
Namun alih-alih bangkit, Persebaya kembali terpukul di penghujung babak pertama. Moussa Sidibe mencetak gol kedua Bhayangkara, membuat Bajul Ijo tertinggal 0-2 saat turun minum.
Memasuki babak kedua, Persebaya menunjukkan reaksi. Intensitas serangan meningkat drastis. Peluang emas hadir di menit ke-54 lewat Gali Freitas, tetapi penyelamatan gemilang Aqil Savik menggagalkan kesempatan tersebut.
Tekanan demi tekanan terus dilancarkan. Milos dan Bruno bergantian mencoba peruntungan, namun disiplin lini belakang Bhayangkara membuat setiap celah tertutup rapat. Gol yang dinanti akhirnya lahir pada menit ke-63. Kombinasi Gali dan Jefferson membuka ruang bagi Mihailo Perovic yang dengan tenang menuntaskan peluang. Skor berubah menjadi 1-2. Harapan kembali tumbuh, dan publik GBT kembali bersuara.
Persebaya menggempur habis-habisan. Milos kembali mengancam di menit ke-78 lewat sepakan keras mendatar. Leo Lelis bahkan didorong menjadi striker tambahan di menit-menit akhir demi mengejar ketertinggalan.
Namun hingga peluit panjang berbunyi, skor tak berubah.
Kekalahan ini membuat Persebaya tertahan di peringkat kelima klasemen sementara dengan 35 poin. Sementara Bhayangkara membawa pulang tiga angka penting yang mengangkat posisi mereka ke peringkat kedelapan.
Bagi Bajul Ijo, ini bukan sekadar kehilangan tiga poin. Ini adalah malam ketika rekor gemilang runtuh di rumah sendiri, di tengah hujan, di depan pendukung setia, dan setelah sempat menyalakan harapan. Sebuah kekalahan yang terasa lebih dalam dari sekadar angka 1-2 di papan skor.











