KaMedia– Menutup tahun 2025, Ketua KONI Jawa Timur Muhammad Nabil tidak hanya berbicara soal target dan angka medali. Ia mengajak seluruh insan olahraga Jawa Timur melakukan refleksi tentang proses, konsistensi, dan keberanian mengambil keputusan strategis demi prestasi yang lebih terukur menuju PON 2028.
Dalam pemaparannya, Nabil menegaskan bahwa pembinaan olahraga ke depan harus dilakukan secara realistis dan fokus, dengan menempatkan cabang olahraga (cabor) prioritas sebagai ujung tombak prestasi Jawa Timur.
“Kita tidak mungkin memegang seluruh cabor secara penuh. Maka yang kita lakukan adalah memprioritaskan nomor-nomor yang benar-benar punya peluang prestasi,” ujar Nabil.
Fokus pada Potensi, Bukan Sekadar Jumlah
KONI Jatim telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap capaian setiap cabor. Hasilnya, pembinaan tidak lagi bersifat merata, melainkan diarahkan pada nomor dan atlet yang memiliki rekam jejak kompetisi jelas serta peluang medali paling besar.
Pendekatan ini, menurut Nabil, bukan bentuk pengabaian, melainkan upaya agar pembinaan lebih tepat sasaran dan berdampak nyata bagi atlet.
Untuk agenda jangka pendek, KONI Jatim menyiapkan event olahraga bela diri yang direncanakan berlangsung pertengahan tahun 2026 di Sulawesi Utara. Delapan cabor akan dipersiapkan dengan waktu yang lebih panjang dan program yang lebih matang.
“Belajar dari event sebelumnya di Kudus, kali ini kita siapkan lebih serius. Waktunya cukup agar peningkatan prestasi benar-benar terlihat,” jelas Nabil.
Sementara untuk jangka panjang, kalkulasi menuju PON 2028 sudah mulai dilakukan, termasuk memetakan cabor unggulan yang berpotensi menjadi lumbung emas Jawa Timur.
Nabil menekankan bahwa ukuran keberhasilan atlet tidak cukup hanya dari latihan atau pemusatan latihan (training camp). Menurutnya, kompetisi adalah alat ukur utama.
“Kalau hanya latihan, prestasinya belum terukur. Atlet harus turun di single event, baik nasional maupun internasional. Dari situlah kita melihat track record yang sesungguhnya” pungkas Nabil











