HeadlineNasional

Khofifah Gaungkan Seruan Perdamaian Dunia di Harlah ke-80 Muslimat NU Kalimantan Barat

×

Khofifah Gaungkan Seruan Perdamaian Dunia di Harlah ke-80 Muslimat NU Kalimantan Barat

Sebarkan artikel ini

KaMedia – Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU yang juga Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menghadiri secara langsung Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-80 Muslimat Nahdlatul Ulama Pengurus Wilayah Muslimat NU Kalimantan Barat di Asrama Haji Kota Pontianak, Selasa (11/8).

Di hadapan ribuan kader dan anggota Muslimat NU se-Kalimantan Barat, Khofifah kembali menggaungkan seruan perdamaian dunia dan penghentian peperangan. Pesan tersebut sekaligus menegaskan peran Muslimat NU dalam menjaga perdamaian, merawat persaudaraan, dan ikut membangun peradaban yang teduh.

Seruan perdamaian itu menjadi bagian dari pesan yang disampaikan secara serentak oleh Muslimat NU dalam setiap peringatan Harlah di berbagai daerah.

“Jadi yang dilakukan di setiap Harlah Muslimat NU antara lain kita membacakan surat yang isinya adalah seruan perdamaian, hentikan peperangan. Surat itu di semua titik kita tunjukkan kepada PBB,” ujar Khofifah.

Khofifah, yang juga Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, mengatakan bahwa seruan tersebut merupakan bentuk nyata kepedulian Muslimat NU terhadap persoalan kemanusiaan dan perdamaian dunia.

Menurutnya, pesan itu selaras dengan tema Harlah ke-80 Muslimat NU, “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, Meneduhkan Peradaban.”

” Perdamaian dunia adalah tujuannya kita bersama dan meneduhkan peradaban adalah jalannya untuk mencapai tujuan tersebut,” tuturnya.

Khofifah menjelaskan, meneduhkan peradaban berarti menciptakan suasana yang adem, kondusif, toleran, dan bijak—bukan suasana yang panas, penuh kebencian, maupun radikalisme.

Menurutnya, upaya tersebut dapat diwujudkan dengan mengedepankan dialog, toleransi, keadilan, dan kemandirian. Persatuan juga harus terus diperkuat dengan semangat menyatukan, bukan memecah belah.

” Kalau peradabannya sudah teduh maka konflik bisa diredam sebelum pecahnya peperangan, dan perdamaian jadi lebih mudah dijaga,” imbuhnya.

Khofifah menegaskan, Muslimat NU akan terus berupaya agar pesan perdamaian tersebut dapat disampaikan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ia menuturkan, melalui Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, pihaknya telah berkoordinasi dengan Menteri Luar Negeri agar Muslimat NU mendapat kesempatan menyampaikan seruan perdamaian tersebut secara langsung kepada PBB.

Jadi seruan damai, seruan untuk hentikan perang itu adalah seruan dari semua Muslimat di mana saja mereka Harlah. Itu yang disampaikan,” tegasnya.

Menurut Khofifah, seruan perdamaian merupakan bagian dari peran Muslimat NU sebagai organisasi perempuan yang tidak hanya berfokus pada penguatan keluarga dan umat, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan dan masa depan peradaban.

“Muslimat NU tidak hanya merawat tradisi dan menguatkan kemandirian umat, tetapi juga hadir meneduhkan peradaban melalui pesan-pesan damai,” tambahnya.

Ia pun mengajak seluruh kader dan anggota Muslimat NU untuk terus menyemai kedamaian, menjaga persaudaraan, serta memperkuat semangat persatuan di tengah masyarakat.

Sebagai organisasi perempuan terbesar di dunia, Khofifah berharap Muslimat NU dapat terus memperluas pesan perdamaian agar gaungnya tidak hanya terdengar di tingkat nasional, tetapi juga sampai ke dunia internasional.

” Dari peradaban yang meneduhkan, lahir seruan perdamaian yang didengar dunia,” tegasnya.

Ia menambahkan, seruan kepada PBB untuk menghentikan peperangan merupakan ikhtiar sekaligus harapan agar perdamaian dunia terus diperjuangkan. Namun, perjuangan tersebut juga harus dimulai dari akar rumput.

Kerja-kerja Muslimat NU melalui pendidikan, penguatan UMKM, dakwah, istighosah, dan salawat menjadi fondasi penting dalam membangun peradaban yang teduh. Pesan perdamaian, dengan demikian, tidak berhenti pada seruan kepada dunia internasional, tetapi diwujudkan melalui kerja nyata di tengah masyarakat.

Penguatan keluarga, kemandirian ekonomi, pendidikan, dan kehidupan keagamaan menjadi bagian penting dalam merawat persaudaraan sekaligus mencegah munculnya konflik di lingkungan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga mengajak seluruh anggota Muslimat NU yang hadir untuk bersama-sama melantunkan salawat.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pengibaran Bendera Merah Putih, menyanyikan lagu Hari Merdeka, serta Garuda Pancasila.

Semangat Harlah ke-80 Muslimat NU pun menjadi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen organisasi dalam merawat tradisi, memperkuat kemandirian, dan menghadirkan peradaban yang lebih teduh, dimulai dari keluarga, masyarakat, hingga dunia.