KaMedia — Pagi itu, suasana di halaman Kantor Sekretariat Daerah Jawa Timur terasa berbeda. Di hadapan ratusan aparatur sipil negara, Khofifah Indar Parawansa berdiri bukan sekadar sebagai pemimpin apel, tetapi sebagai sosok yang mengingatkan arti pengabdian di momen paling sibuk dalam setahun: mudik Lebaran.
Ia berbicara tentang sesuatu yang dekat dengan kehidupan banyak orang, perjalanan pulang, bertemu keluarga, dan harapan agar semuanya berjalan aman.
“Tugas kita memastikan masyarakat bisa mudik dengan aman, lancar, dan nyaman,” pesannya.
Tahun ini, beban itu tidak ringan. Sekitar 24,9 juta orang diperkirakan akan masuk ke Jawa Timur selama musim mudik. Angka yang besar, yang berarti tanggung jawab besar pula, dari kelancaran lalu lintas, kesiapan rumah sakit, hingga keamanan di jalur-jalur utama.
Namun, bagi Khofifah, kesiapan bukan hanya soal teknis. Ia juga bicara tentang kewaspadaan terhadap alam. Cuaca ekstrem yang berpotensi memicu banjir dan longsor menjadi perhatian serius. Karena itu, pemerintah menyiapkan berbagai langkah, termasuk operasi modifikasi cuaca agar perjalanan masyarakat tidak terganggu hujan lebat.
Di balik semua itu, ada pesan yang lebih dalam: koordinasi. Ia meminta semua pihak, dari dinas perhubungan hingga tenaga kesehatan bergerak bersama, saling terhubung, dan cepat merespons jika terjadi situasi darurat.
Di sisi lain, Khofifah juga menyentuh hal yang lebih personal bagi para ASN. Ia mengingatkan bahwa fleksibilitas kerja atau Work From Anywhere (WFA) bukan berarti mengendurkan tanggung jawab.
“WFA bukan libur,” tegasnya.
Pelayanan publik, menurutnya, harus tetap terasa hadir. Warga tetap harus dilayani, bahkan saat sebagian pegawai bekerja dari lokasi berbeda.
Ada pula pesan tegas yang disampaikan tanpa berbelit, kendaraan dinas tidak boleh digunakan untuk mudik. Ia meminta seluruh ASN menjaga integritas, mematuhi aturan, dan menjadi contoh di tengah masyarakat.
“Parkirkan kendaraan dinas di kantor,” ujarnya lugas.
Menjelang akhir arahannya, nada bicara Khofifah kembali melunak. Ia mengingatkan bahwa Lebaran tahun ini juga berdekatan dengan Hari Raya Nyepi. Di situlah pentingnya saling menghormati dan menjaga toleransi.
Pesan itu sederhana, tapi kuat, menjadi aparatur negara bukan hanya soal bekerja, tetapi juga memberi teladan.
Di tengah hiruk pikuk persiapan mudik, Khofifah seolah ingin memastikan satu hal, bahwa negara tetap hadir. Bukan hanya lewat kebijakan, tetapi lewat kepedulian, kedisiplinan, dan kerja bersama.
Agar di ujung perjalanan nanti, masyarakat benar-benar bisa merasakan makna pulang: aman, tenang, dan penuh kebahagiaan.











