KaMedia – Menjelang senja di pertengahan Februari 2026, Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya tak sekadar bersiap menyambut Ramadhan. Di antara kubah megah dan semilir angin kawasan air mancur, masjid terbesar di Jawa Timur itu tengah menyiapkan sesuatu yang lebih dalam: ruang pemulihan bagi jiwa-jiwa yang lelah.
Ramadhan 1447 Hijriah di Al-Akbar hadir dengan tema “Healing Ramadhan, Tenang Jiwa, Kuat Raga.” Sebuah ajakan halus namun kuat, bahwa bulan suci bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang merawat batin dan meneguhkan kembali daya hidup manusia.
“Ramadhan kami posisikan sebagai ruang jeda. Tempat orang-orang kembali menemukan ketenangan, memulihkan diri dari lelah mental, emosional, dan fisik,” ujar Humas Masjid Al-Akbar Surabaya, H. Helmy M. Noor.
Persiapan Ramadhan bahkan dimulai jauh sebelum hilal terlihat. Satu bulan sebelumnya, selokan di sekitar masjid dibersihkan, sampah ditata, lingkungan dirawat. Tim Riayah BPP MAS bekerja bersama Dinas PU Sumber Daya Air dan Dinas Lingkungan Hidup Jawa Timur, membersihkan saluran air sepanjang 1,2 kilometer dan menyiapkan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik.
Seolah ingin mengatakan: kesucian Ramadhan dimulai dari lingkungan yang bersih dan niat yang jernih. Penyambutan Ramadhan secara simbolik akan digelar melalui tradisi Megengan, dua hingga tiga hari menjelang puasa. Anak-anak dari TK hingga mahasiswa STAI Al-Akbar akan memadati kawasan air mancur masjid, membawa doa, harap, dan keceriaan. Tradisi Jawa itu menjadi penanda bahwa Ramadhan selalu punya tempat di hati lintas generasi.
Di balik tema besar Healing Ramadhan, Masjid Al-Akbar merangkainya dalam empat pilar utama, ibadah dan dakwah, sosial kemasyarakatan, kreativitas, serta penguatan raga.
Sholat Tarawih, tadarus Al-Qur’an, ngaji ngabuburit, qiyamul lail di sepuluh malam terakhir, hingga peringatan Nuzulul Qur’an menjadi denyut utama spiritualitas. Semua diarahkan untuk menghadirkan ketenangan, tenang jiwa, di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.
Namun Al-Akbar tak berhenti di sajadah. Ada buka puasa bersama setiap hari, donor darah, hingga program MAS Berbagi bagi dhuafa, anak yatim, penyandang disabilitas, guru, dan marbot. Sebab ketenangan batin, kata Helmy, juga tumbuh dari berbagi dan merasakan kebersamaan.
Yang menarik, Ramadhan di Al-Akbar juga memberi ruang bagi tubuh. Liga Marbot Soccer dan Ngaji Bareng Bintang Bola dihadirkan sebagai simbol bahwa ibadah dan kesehatan berjalan beriringan. Di sinilah makna kuat raga menemukan tempatnya, bahwa iman tak bertentangan dengan kebugaran.
Ketua Panitia Healing Ramadhan, M. Jakfar, menyebut masih ada program kreatif yang disiapkan, mulai dari Festival Ramadhan, lomba patrol, qosidah, hingga dakwah cilik. Bahkan para marbot, penjaga denyut masjid, akan mendapat cek kesehatan khusus sebagai bentuk apresiasi.
“Kami ingin Ramadhan ini benar-benar dirasakan semua kalangan. Dari anak-anak, pemuda, hingga mereka yang setia menjaga masjid,” katanya.
Di Masjid Al-Akbar, Ramadhan tak diperlakukan sebagai rutinitas tahunan. Ia dihadirkan sebagai perjalanan pulang, tempat manusia menata ulang diri, membersihkan yang kusam, dan menguatkan langkah ke depan.
Di sanalah Healing Ramadhan menemukan maknanya: ketika masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga rumah bagi jiwa yang ingin tenang dan raga yang ingin kembali kuat.











