KaMedia – Efisiensi ternyata bisa menjadi “infrastruktur baru” bagi industri logistik. Tanpa membangun dermaga tambahan atau memperluas area pelabuhan, Terminal Petikemas Nilam (TPK Nilam) yang dikelola oleh PT Terminal Teluk Lamong berhasil memangkas waktu pergantian kapal hingga 70 persen dan mencetak rekor arus petikemas tertinggi sepanjang 2026.
Capaian tersebut merupakan hasil implementasi Program EAZI (Easy Access Zone Integration) yang diterapkan di Zona Labuh 2 Pelabuhan Tanjung Perak selama periode 23 April hingga 25 Mei 2026. Program ini menjadi terobosan dalam penataan area labuh kapal melalui kolaborasi antara operator terminal, regulator, dan berbagai pemangku kepentingan kepelabuhanan.
Dampaknya langsung terasa pada kinerja operasional. Waktu pergantian antar kapal atau ship to ship (STS) yang sebelumnya membutuhkan 4 hingga 5 jam berhasil dipangkas menjadi rata-rata hanya 1 jam 30 menit. Bahkan, rekor tercepat tercipta pada pelayanan Kapal Intan Daya 12 dan Meratus Wakatobi pada 24 Mei 2026 dengan waktu STS hanya 31 menit.
Efisiensi tersebut tidak hanya mempercepat arus kapal, tetapi juga membuka ruang bagi peningkatan kapasitas layanan terminal. Jika sebelumnya TPK Nilam rata-rata melayani 14 kapal setiap pekan, setelah EAZI diterapkan jumlah kunjungan meningkat menjadi 17 kapal per minggu atau tumbuh sekitar 21 persen.
Peningkatan produktivitas itu berujung pada capaian yang lebih besar. Pada Mei 2026, TPK Nilam membukukan arus petikemas mencapai 49.685 TEUs, menjadi volume tertinggi yang berhasil dicatat terminal tersebut sepanjang tahun ini.
Terminal Head TPK Nilam, Retno Pujianto, menilai keberhasilan EAZI membuktikan bahwa peningkatan kapasitas layanan tidak selalu bergantung pada investasi fisik yang mahal.
“Efisiensi operasional yang dihasilkan EAZI memberikan ruang bagi peningkatan jumlah kunjungan kapal sekaligus memperkuat kapasitas layanan terminal. Hasilnya, kami mampu mencatat arus petikemas tertinggi tahun ini,” ujarnya.
Keberhasilan tersebut menjadi sinyal positif bagi sektor logistik nasional yang selama ini menghadapi tantangan tingginya biaya distribusi. Dengan waktu tunggu kapal yang semakin singkat, biaya operasional dapat ditekan dan perputaran barang menjadi lebih cepat.
Dari sisi regulator, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Perak turut mengapresiasi hasil implementasi program tersebut. Kepala Bidang P2 KSOP Utama Tanjung Perak, Arizal, menyebut percepatan layanan kapal berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas terminal tanpa mengesampingkan aspek keselamatan dan keamanan pelayaran.
Menurutnya, sejumlah aspek masih akan terus disempurnakan, mulai dari akurasi informasi kedatangan kapal (ETA), sinkronisasi antarinstansi, hingga optimalisasi proses perencanaan dan perizinan labuh agar manfaat program semakin berkelanjutan.
Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong, David P. Sirait, menegaskan bahwa EAZI merupakan bagian dari transformasi operasional yang sedang dijalankan perusahaan untuk meningkatkan daya saing pelabuhan nasional.
Ia menilai keberhasilan program tersebut menjadi bukti bahwa inovasi, kolaborasi, dan optimalisasi aset yang sudah tersedia mampu menghasilkan peningkatan kapasitas layanan yang signifikan tanpa harus selalu mengandalkan pembangunan infrastruktur baru.
Ke depan, PT Terminal Teluk Lamong berencana memperluas implementasi EAZI ke Terminal Petikemas Berlian. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat pelayanan kapal di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak sekaligus memperkuat posisinya sebagai gerbang logistik utama Indonesia Timur.
Di tengah meningkatnya kebutuhan efisiensi rantai pasok nasional, keberhasilan EAZI menjadi contoh bahwa transformasi pelabuhan tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kemampuan menghadirkan sistem kerja yang lebih cepat, terintegrasi, dan produktif. Bagi dunia usaha, waktu adalah biaya. Dan di Tanjung Perak, waktu yang berhasil dipangkas kini telah berubah menjadi nilai ekonomi yang nyata.











