HeadlineJatimNasionalOlahraga

Bertahan Saat Deltras Terluka, Bima Ragil Dijual Di Puncak Pengabdian

×

Bertahan Saat Deltras Terluka, Bima Ragil Dijual Di Puncak Pengabdian

Sebarkan artikel ini
Setelah 3 musim, Bima Ragil ( tengah ) akan meninggalkan Deltras FC dan bergabung dengan Persipura Jayapura / Foto : Fifin Jun.

KaMedia– Tidak semua perpisahan lahir dari kegagalan. Ada yang datang justru ketika segalanya sedang baik-baik saja. Itulah yang kini dialami Bima Ragil. Tiga musim ia bertahan, berlari, dan berdarah untuk Deltras FC. Namun ketika performanya sedang mencapai puncak, namanya dilepas begitu saja ke Persipura Jayapura.Tak ada drama di lapangan. Tak ada kartu merah. Tak ada penurunan performa. Yang ada hanya satu keputusan, transfer.

Bima Ragil resmi meninggalkan Deltras FC pada putaran ketiga Pegadaian Championship 2025/2026. Bagi manajemen, ini disebut sebagai langkah profesional. Bagi banyak pendukung, ini terasa seperti akhir yang pahit, bahkan tragis.

Selama tiga musim berturut-turut, sejak Liga 2 2023/2024 hingga 2025/2026, Bima Ragil memilih bertahan di Sidoarjo. Saat Deltras jatuh-bangun, saat target tak selalu tercapai, ia tetap di sana. Tidak mencari jalan keluar. Tidak meminta dilepas. Ia bermain, diam-diam, dengan cara yang paling jujur, bekerja keras.

Ironinya, justru di musim ketika ia tampil paling matang, Deltras memutuskan berpisah. Dalam dua putaran musim ini, Bima tiga kali dinobatkan sebagai Man of the Match. Ia menjadi salah satu pemain paling produktif, paling konsisten, dan paling hidup di lapangan. Tapi sepak bola profesional jarang memberi ruang bagi cerita setia.

CEO Deltras FC, Amir Burhannudin, menyebut transfer ini sebagai kebutuhan karier sang pemain.

“Bima butuh jenjang karier yang bisa meningkatkan kualitasnya, dan momennya memang di putaran ketiga ini,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).

Kalimat itu terdengar rapi, rasional, dan masuk akal. Namun di baliknya, ada satu kenyataan pahit: pemain yang membela klub saat situasi sulit justru dilepas ketika ia paling dibutuhkan.

Manajemen mengakui nilai transfer yang disepakati tergolong besar. Angkanya tidak diungkap, hanya disebut “fantastis”. Barangkali di situlah jawaban paling jujur dari semua pertanyaan: loyalitas kalah oleh angka.

Tak ada seremoni perpisahan. Tak ada salam terakhir di hadapan tribun. Bima Ragil pergi dengan cara sunyi, meninggalkan lapangan yang pernah ia bela dengan sepenuh hati.
Kini ia akan mengenakan seragam Persipura Jayapura, klub besar dengan sejarah panjang.

Kariernya mungkin akan lebih terang. Namun di Sidoarjo, namanya akan selalu diingat sebagai pemain yang bertahan saat Deltras membutuhkan, tetapi dilepas ketika harapan mulai tumbuh.

Sepak bola memang tentang bisnis. Tapi bagi suporter, kehilangan ini terasa lebih dari sekadar transfer. Ini tentang rasa, tentang pengabdian, dan tentang kenyataan pahit bahwa kesetiaan tidak selalu mendapat akhir yang layak.