KaMedia – Begitu matahari mulai turun, halaman Balai Kota Surabaya kembali menemukan nadinya. Lampu-lampu taman menyala perlahan, memantulkan cahaya di antara pepohonan dan kolam ikan. Di sanalah, Taman Surya kembali menjadi ruang temu, tempat warga melepas penat setelah sepekan bergulat dengan rutinitas.
Anak-anak berlarian tanpa beban, sesekali berhenti memandangi burung-burung di sangkar besar yang berdiri anggun di sudut taman. Suara tawa mereka berpadu dengan gemericik air kolam, menciptakan suasana yang terasa hangat, meski malam mulai turun di jantung Kota Pahlawan.
Di sisi lain, orang tua duduk santai, sebagian menikmati jajanan Festival UMKM, sebagian lain larut dalam alunan musik akustik yang mengalir lembut. Lagu-lagu sederhana itu seakan menjadi penghapus hiruk-pikuk lalu lintas dan kepenatan kota yang tak pernah benar-benar tidur.
Beberapa pekan terakhir, suasana ini sempat dirindukan. Air mancur yang biasanya menjadi magnet utama pengunjung berhenti mengalir. Musik akustik pun sempat absen di salah satu malam akhir pekan. Namun, rindu warga akhirnya terbayar. Taman Surya kini kembali hidup.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya, Heri Purwadi, menjelaskan bahwa air mancur memang harus berhenti sementara demi perawatan.
“Kolam kami bersihkan sejak 20 Januari dan baru selesai 23 Januari. Setelah itu perlu waktu dua hari untuk pengisian air. Baru pada Minggu pagi, 25 Januari, air mancur bisa kembali beroperasi,” tuturnya.
Sementara itu, jeda musik akustik pada Sabtu malam (24/1) terjadi karena area Taman Surya digunakan untuk persiapan kegiatan olahraga yang digelar keesokan harinya. Meski begitu, Heri memastikan kini seluruh fasilitas kembali siap menyambut warga.
“Sekarang air mancur dan musik akustik sudah bisa dinikmati lagi. Kami ingin warga merasa nyaman menghabiskan malam akhir pekan di sini,” ujarnya.
Kepala Bidang Kebudayaan Disbudporapar Surabaya, Fauzie Mustaqiem Yos, menambahkan bahwa musik akustik di Balai Kota sejatinya hadir rutin setiap Jumat hingga Minggu malam. Namun, karena Balai Kota juga menjadi ruang publik untuk berbagai kegiatan, pengaturan jadwal kadang membutuhkan penyesuaian.
“Sabtu malam itu panggung digunakan untuk pengecekan sound kegiatan olahraga, sehingga live music tidak bisa digelar. Setelah acara selesai dan panggung dibongkar, musik kembali tampil,” jelas Yos.
Ia mengakui adanya keluhan warga di media sosial atas absennya pertunjukan tersebut dan menyampaikan permohonan maaf. Ke depan, koordinasi lintas perangkat daerah akan diperkuat agar hiburan publik tetap berjalan tanpa banyak jeda.
Live musik di Taman Surya biasanya dimulai pukul 17.00 WIB, berhenti sejenak saat Magrib, lalu kembali mengalun hingga pukul 21.00 WIB. Bagi banyak keluarga, momen ini bukan sekadar hiburan, melainkan ritual kecil, mengajak anak mengenal ruang publik, berbagi tawa, dan menciptakan kenangan sederhana.
Kini, Taman Surya kembali menjalankan perannya, ruang hijau yang ramah keluarga, penuh aktivitas positif, dan selalu terbuka bagi siapa saja. Di bawah cahaya lampu taman dan iringan gitar akustik, Surabaya terasa lebih dekat dan akhir pekan pun terasa lengkap.











