KaMedia – Keberadaan Bank Perkreditan Rakyat atau BPR yang ilegal di Jawa Timur terus dipantau oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hal ini tidak lepas dari banyaknya laporan masyarakat ke OJK Jawa Timur terkait dengan sepak terjang BPR Ilegal yang meresahkan tersebut.
Dedy Patria Direktur Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Pelindungan Konsumen dan Layanan Manajemen Strategis OJK Jawa Timur
menegaskan, dari laporab yang masuk, OJK telah banyak melakukan penindakan terhadap BPR Ilegal tersebut dengan langkah penutupan.
Namun demikian Dedy menegskan bahwa penutupan bank perkreditan rakyat (BPR) sepanjang tahun 2024 telah melalui mekanisme dan kehati-hatian. Begitu pula dengan proses yang dilakukan sudah sesuai aturan yang ditetapkan pemerintah. Selain itu juga dilakukan kajian, sehingga mekasnisme penutupan BPR membutuhkan waktu panjang.
“Penutupan BPR bukan ujug-ujug (tiba-tiba). Semuanya melalui proses, karena kami melakukan penilaian kinerja tiap periode,” kata Dedi dalam media gathering, di Semarang, Kamis (3/10/2024).
Selain menutup, OJK juga melakukan penanganan terhadap BPR yang bermasalah secara likuidatas. Terhadap BPR yang bermasalah, Dedy menyampaikan dilakukan tahapan untuk menyelamatkan. Proses yang dilakukan OJK meliputi pembinaan, prudential meeting, membeber action plan, dan mendorong mencari investor baru. Langkah ini diambil apabila kinerja BPR terus mengalami penurunan. Namun demikian, OJK tidak memiliki kewenangan mencari investor apabila BPR dalam masalah.
“Kami mendorong BPR yang bermasalah secara kinerja, bergabung dengan BPR yang lebih kuat, agar bisa lebih sehat. Pilihannya memang merger atau mencari investor baru. Karena yang dibutuhkan itu bukan banyaknya kepemilikan (bank), tetapi perusahaan yang sehat,” papar lelaki 58 tahun tersebut.
Menurut Dedy Patria, langkah OJK tersebut merupakan penguatan perbankan ini untuk menghindari risiko penutupan usaha. Sebab, sepanjang tahun 2024 ini terdapat 15 BPR yang tutup usia secara nasional. Dari jumlah tersebut, dua di antaranya di Sidoarjo dan satu di Mojokerto.
Dalam paparan terkait di Media Gathering OJK 2024, Dedy Patria juga menyoroti kinerja perbankan di Jawa Timur. Hingga Agustus 2024 perbankan di Jawa Timur menunjukkan optimisme tinggi. Tiga indikator yang meliputi rasio kecukupan modal, kecukupan likuiditas, dan risiko kredit menunjukkan optimisme yang baik.
” Ditahun 2024 ini pantaun OJK terhadap kinerja perbankan di Jawa Timur cukup baik Rasio kecukupan modal, likuiditas serta resiko kredit semua dalam kondisi yang baik ” lanjut Dedy Patria
Berdasar data OJK Jawa Timur, rasio kecukupan modal BPR masih 39,66 persen, dan kecukupan likuiditas 24,59 persen. Kedua indikator ini cukup bagus, lantaran masih di atas ambang batas aman.











