KaMedia – Upaya memperkuat kesiapsiagaan bencana di Jawa Timur terus dilakukan secara nyata. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, meresmikan Gedung Gerha Majapahit dan Gedung Olahraga (GOR) BPBD Jatim di Kantor BPBD Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Sidoarjo, Kamis (9/4).
Peresmian ini bukan sekadar seremoni. Penandatanganan prasasti yang dilakukan menjadi simbol dimulainya babak baru dalam penguatan sistem penanggulangan bencana yang lebih modern, terstruktur, dan siap menghadapi tantangan ke depan.
Gedung Gerha Majapahit kini hadir sebagai pusat pengelolaan logistik kebencanaan yang lebih representatif. Di sinilah berbagai bantuan dan peralatan akan dikelola dengan lebih rapi dan terkontrol. Sementara itu, GOR BPBD Jatim disiapkan sebagai ruang pembinaan fisik dan pelatihan, memastikan para personel tetap tangguh dan sigap di lapangan.
Dalam sambutannya, Gubernur Khofifah menekankan pentingnya perubahan cara kerja, khususnya dalam pengelolaan logistik. Ia mendorong penerapan sistem digital dengan metode First In, First Out (FIFO), di mana barang yang pertama masuk harus menjadi prioritas untuk digunakan lebih dulu.
“Logistik itu bukan hanya soal tersedia atau tidak, tapi bagaimana dikelola dengan tepat. Sistem FIFO harus berjalan optimal agar distribusi efektif dan kualitas barang tetap terjaga,” ujarnya.
Menurutnya, digitalisasi menjadi kunci utama. Dengan sistem yang terintegrasi, setiap pergerakan logistik bisa dipantau secara akurat, mulai dari tanggal masuk hingga masa kedaluwarsa. Hal ini penting agar tidak ada bantuan yang terbuang sia-sia atau justru membahayakan karena sudah tidak layak pakai.
Lebih jauh, Khofifah juga mengingatkan seluruh jajaran BPBD kabupaten/kota untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi kemarau ekstrem yang kerap dikaitkan dengan fenomena Godzilla El Nino. Ia menegaskan bahwa kesiapsiagaan harus dilakukan secara menyeluruh dan terkoordinasi.
“Antisipasi sudah kita siapkan, termasuk penyediaan pompa air untuk daerah rawan. Target kita, sektor pertanian tetap terjaga dan indeks pertanaman tidak turun. Ini butuh kewaspadaan ganda dari kita semua,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, menyampaikan bahwa pembangunan kedua gedung ini merupakan bagian dari komitmen meningkatkan kualitas layanan kebencanaan, baik dari sisi logistik, operasional, maupun sumber daya manusia.
Ia berharap, dengan fasilitas yang lebih memadai, respons terhadap situasi darurat bisa semakin cepat, tepat, dan terkoordinasi.
Pembangunan Gedung Gerha Majapahit dan GOR BPBD Jatim sendiri dilaksanakan sepanjang tahun anggaran 2025, dengan durasi 180 hari kalender. Proyek ini didanai melalui APBD Provinsi Jawa Timur dan dirancang oleh Dinas PU Cipta Karya, dengan pendampingan dari Kejaksaan Tinggi Jawa Timur untuk memastikan proses berjalan transparan dan akuntabel.
Kini, dengan infrastruktur yang semakin lengkap dan sistem yang semakin modern, Jawa Timur melangkah lebih siap dalam menghadapi berbagai potensi bencana, melindungi masyarakat dengan kerja yang lebih cepat, cermat, dan terukur.











