KaMedia – Sore di Yogyakarta terasa lebih muram pada Senin (21/9). Kabar duka datang dari dunia seni pertunjukan. Seniman legendaris asal Yogyakarta, Susilo Nugroho, atau yang selama puluhan tahun dikenal lewat nama panggung Den Baguse Ngarso, berpulang.
Aktor panggung yang menjadi salah satu wajah penting kesenian Yogyakarta itu meninggal dunia pada Senin sore.
Kabar kepergian Susilo pertama kali dikonfirmasi oleh rekan sesama seniman, Bambang Paningron. Bambang mengaku baru menerima kabar tersebut dan belum mengetahui secara rinci kronologi maupun penyebab meninggalnya sahabatnya itu
” Iya betul. Saya juga barusan dikabari. Saya belum dapat detailnya,” ujar Bambang saat mengonfirmasi kabar berpulangnya Den Baguse Ngarso, Senin (21/9).
Kabar serupa disampaikan kolega mendiang, Gregorius Budi Subanar atau yang akrab disapa Romo Banar. Ia mengatakan berita meninggalnya Susilo telah beredar di antara lingkaran terdekat para pekerja seni di Yogyakarta pada Senin sore.
” Mas Susilo Den Baguse Ngarso baru saja meninggal dunia. Saya baru menerima berita yang beredar,” tutur Romo Banar.
Kepergian Susilo meninggalkan jejak panjang dalam perjalanan seni pertunjukan Yogyakarta. Ia lahir pada 5 Januari 1959 dengan nama lengkap Susilo Nugroho. Kecintaannya terhadap seni peran tumbuh sejak masih duduk di bangku SLTA pada 1977.
Namanya kemudian dikenal luas melalui karakter Den Baguse Ngarso dalam serial Mbangun Deso di TVRI Yogyakarta. Lewat tokoh itu, Susilo menghadirkan sosok priyayi yang sombong, sok tahu, ceplas-ceplos, dan tak mau kalah.
Karakter tersebut melekat kuat pada ingatan penonton. Namun di balik nama Den Baguse Ngarso, ada seorang seniman panggung yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk teater.
Pada 1983, Susilo bersama Heru Kesawa Murti, Jujuk Prabowo, Sepnu Heryanto, dan Saptaria Handayaningsih mendirikan Teater Gandrik. Dari panggung kelompok inilah perjalanan panjangnya sebagai aktor semakin mengakar.
Susilo kemudian kerap dipercaya memerankan tokoh utama dalam berbagai pementasan Teater Gandrik. Dengan karakter, gestur, dan cara bertutur yang khas, ia menjadi salah satu wajah yang turut membentuk identitas kelompok teater tersebut.
Bertahun-tahun ia berdiri di atas panggung, memainkan berbagai watak, menghidupkan cerita, dan mengajak penonton tertawa. Kini, panggung itu harus kehilangan salah satu pemain pentingnya.
Den Baguse Ngarso telah pergi. Namun tokoh yang pernah ia hidupkan, tawa yang pernah ia hadirkan, serta jejak panjangnya dalam dunia teater Yogyakarta akan tetap tinggal dalam ingatan mereka yang pernah menyaksikan dan mengenalnya.
Dari panggung yang selama ini menjadi rumahnya, Susilo Nugroho meninggalkan satu warisan yang tak mudah padam, kesenian yang terus hidup setelah seorang seniman berpulang.











