HeadlineJatim

Helikopter BNPB Mulai Water Bombing Karhutla Semeru, 21 Kali Bom Air Digelontorkan

×

Helikopter BNPB Mulai Water Bombing Karhutla Semeru, 21 Kali Bom Air Digelontorkan

Sebarkan artikel ini
Helikopter PK-DAP milik BNPB yang didatangkan dari Lampung diterjunkan untuk membantu menjangkau titik-titik api yang sulit ditembus melalui darat / Foto : Humas BPBD Jatim.

KaMedia – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, terus dikebut. Tim BPBD Jawa Timur bersama petugas gabungan kini memperkuat operasi pemadaman dari udara dengan mengerahkan helikopter untuk melakukan water bombing.

Mulai Rabu (2/9/2026), helikopter PK-DAP milik BNPB yang didatangkan dari Lampung diterjunkan untuk membantu menjangkau titik-titik api yang sulit ditembus melalui jalur darat.

Operasi water bombing difokuskan di kawasan bagian barat Pos 1 Pendakian, tepatnya di tebing punggungan Desa Ranupane, Kecamatan Senduro.

Hingga pukul 12.00 WIB, helikopter berkapasitas bucket 1.000 liter tersebut telah melakukan 21 kali water bombing, dengan total 21.000 liter air yang dijatuhkan ke area terdampak kebakaran.

Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto, mengatakan hingga kini masih terdapat dua titik api aktif di kawasan Gunung Semeru, yakni di sekitar Ranu Kumbolo dan Ranu Pane B29.

Kedua lokasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas karena berada di kawasan yang jauh, curam, serta sulit dijangkau melalui jalur darat.

” Kendala di lokasi adalah angin yang kencang. Selain membuat api cepat menjalar, operasi water bombing juga terkendala akibat hempasan angin,” ungkap Gatot.

Menurutnya, operasi pemadaman tidak hanya mengandalkan jalur udara. Tim gabungan di darat tetap bergerak melakukan pemadaman secara manual sekaligus membuat sekat bakar untuk menghentikan perambatan api.

Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah api terus meluas, terutama agar kobaran tidak mendekati permukiman dan rumah warga.

Sementara itu, berdasarkan data Pusdalop BPBD Jatim, kebakaran yang melanda kawasan Gunung Semeru sejak 26 Agustus 2026 hingga saat ini telah berdampak pada area seluas sekitar 600 hektare.

Gatot berharap kondisi cuaca pada Kamis (3/9/2026) lebih mendukung operasi pemadaman dari udara. Pasalnya, angin kencang bukan hanya mempercepat penyebaran api, tetapi juga menjadi faktor yang memengaruhi keselamatan helikopter saat menjalankan misi water bombing.

“Semoga besok cuacanya lebih mendukung, karena angin yang kencang mempengaruhi keamanan unit helikopter saat melakukan operasi water bombing,” harapnya.