KaMedia – Lembaga Pendidikan Tinggi Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (LPT PWNU) Jawa Timur merumuskan enam rekomendasi untuk Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pesantren Tambakberas, Jombang, Jatim pada 27-31 Agustus 2026, terkait pentingnya penguatan sinergi antar Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) pada Abad Kedua NU.
“LPTNU Jatim telah merumuskan rekomendasi untuk Muktamar ke-35 NU melalui sarasehan dan diskusi Pra-Muktamar ke-35 NU yang bekerja sama dengan Universitas Islam Malang (Unisma) dan diikuti pimpinan PTNU se-Jatim (12/8),” kata Ketua LPT PWNU Jawa Timur, Prof. Dr. Junaidi Mistar, Ph.D., dalam keterangan di Malang, Jumat.
Dalam sarasehan bertema “Transformasi PTNU 2045: Membangun Ekosistem Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama yang Unggul, Mandiri, Berdampak dan Mendunia” itu, Sekretaris LPT PBNU Dr. rer.pol. M. Faishal Aminuddin menjadi narasumber bersama Prof. Dr. Mukhammad Najib, M.M (Direktur Kelembagaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI).
“Ada enam agenda besar transformasi PTNU yang dinilai mendesak untuk ditata secara sistematis dan terintegrasi pada level nasional. Pertama, pentingnya penguatan kelembagaan dan badan hukum penyelenggara, terkait penataan struktur organisasi, penguatan Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi (BPP), pengembangan otonomi kampus, serta penguatan hubungan sinergis antara LPTNU dan pimpinan PTNU,” katanya.
Pada aspek tata kelola, regulasi, dan penjaminan mutu, peserta mendorong harmonisasi statuta, penyusunan standar operasional prosedur akademik dan administrasi yang lebih adaptif, penguatan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), serta integrasi nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dalam instrumen tata kelola perguruan tinggi.
“Kedua, isu pengembangan sumber daya manusia dan kaderisasi akademik menitikberatkan pada strategi percepatan jabatan akademik dosen menuju Lektor Kepala dan Guru Besar, peningkatan kualifikasi dosen, penguatan kompetensi tenaga kependidikan, serta pembangunan sistem rekrutmen dan pembinaan talenta unggul di lingkungan PTNU,” katanya.
Dalam bidang riset, publikasi, dan inovasi kolaboratif, forum menegaskan perlunya penguatan mutu penelitian, peningkatan produktivitas publikasi ilmiah bereputasi, hilirisasi produk inovasi, serta pengembangan kolaborasi riset antarkampus PTNU dan dunia industri untuk menghasilkan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Ketiga, isu pemeringkatan, reputasi, dan internasionalisasi, para peserta membahas strategi peningkatan posisi PTNU dalam klasterisasi Kemendiktisaintek, penguatan kinerja SINTA dan Webometrics, peningkatan sitasi publikasi ilmiah, serta pembentukan jejaring kemitraan internasional yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Isu lainnya terkait tata kelola kemahasiswaan, beasiswa, dan jejaring alumni, yang meliputi penguatan prestasi mahasiswa, pengembangan soft skills, perluasan akses beasiswa, kaderisasi mahasiswa berbasis nilai-nilai ke-NU-an, serta penguatan peran alumni sebagai mitra strategis pengembangan perguruan tinggi.
Dalam forum itu, Sekretaris LPT PBNU Dr. rer.pol. M. Faishal Aminuddin menggarisbawahi pentingnya sinergi nasional antar-PTNU agar tidak berjalan sendiri-sendiri. “PTNU perlu bergerak sebagai satu ekosistem yang saling menguatkan dalam bidang kelembagaan, sumber daya manusia, riset, maupun internasionalisasi,” katanya.
Sementara itu, Direktur Kelembagaan Kemendiktisaintek RI, Prof. Dr. Mukhammad Najib, M.M., menegaskan bahwa transformasi perguruan tinggi saat ini tidak cukup hanya berfokus pada aspek administratif dan akademik, tetapi juga harus mampu membangun ekosistem yang sehat, kolaboratif, dan berorientasi pada dampak.
“Karena itu, penguatan tata kelola, mutu, serta daya saing menjadi kunci bagi PTNU untuk mengambil peran yang lebih besar dalam pembangunan bangsa, apalagi Jawa Timur sebagai provinsi dengan jumlah PTNU terbesar di Indonesia,” katanya.











