KaMedia – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak generasi muda menjadikan semangat juang Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) sebagai inspirasi dalam menghadapi tantangan zaman, mulai dari disrupsi teknologi, persaingan global, hingga ancaman terhadap persatuan bangsa.
Pesan tersebut disampaikan Khofifah saat menghadiri Upacara Ziarah dan Tabur Bunga memperingati Peristiwa Pertempuran 31 Juli 1947 di Monumen Pahlawan TRIP, Jalan Pahlawan TRIP, Kota Malang, Jumat (31/7).
Upacara yang berlangsung khidmat itu digelar untuk mengenang 79 tahun perjuangan para Pelajar TRIP yang gugur mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Ketua Umum Pengurus Pusat Paguyuban Mas TRIP Jawa Timur yang juga Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah menegaskan bahwa perjuangan para Pelajar TRIP merupakan warisan sejarah yang sarat nilai patriotisme dan tetap relevan menjadi pedoman menghadapi tantangan bangsa saat ini.
Ia mengingatkan, hanya dua tahun setelah Indonesia merdeka, para pelajar yang sebagian besar masih duduk di bangku SMP dan SMA rela meninggalkan sekolah untuk mengangkat senjata mempertahankan kemerdekaan dari agresi Belanda.
“Fragmennya sederhana dan pendek. Tapi pesannya, kebayang nggak sih anak-anak SMP-SMA berjuang saat itu mempertahankan kemerdekaan ketika Indonesia baru dua tahun merdeka, lalu Belanda datang lagi,” ujar Khofifah.
Dan mereka berjuang dengan menggunakan senjata apa adanya yang bisa mereka akses,” imbuh Ketua Dewan Pembina Kehormatan Paguyuban Mas TRIP Jawa Timur itu.
Menurut Khofifah, keberanian para Pelajar TRIP membuktikan bahwa pengabdian kepada bangsa tidak pernah dibatasi usia. Nilai keberanian, keikhlasan berkorban, cinta tanah air, dan patriotisme harus terus diwariskan kepada generasi penerus.
“Ikhtiar ini penting agar sejarah tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Sejarah harus tetap hidup sebagai sumber keteladanan, inspirasi, dan kekuatan moral untuk membangun masa depan bangsa,” tegasnya.
Khofifah menilai, bentuk perjuangan setiap generasi boleh berbeda, tetapi semangatnya harus tetap sama. Jika generasi 1945 mempertahankan kemerdekaan melalui perlawanan fisik, maka generasi saat ini menghadapi tantangan berupa disrupsi digital, hoaks, intoleransi, radikalisme, kejahatan siber, penyalahgunaan narkotika, hingga krisis lingkungan.
“Sekarang senjata kita adalah ilmu pengetahuan, teknologi, persatuan, gotong royong, dan kualitas sumber daya manusia,” katanya.
Menurutnya, kepahlawanan di era modern tidak lagi identik dengan mengangkat senjata. Menjadi pahlawan dapat diwujudkan melalui karya, prestasi, integritas, inovasi, serta kontribusi nyata bagi masyarakat.
Kepahlawanan masa kini juga berarti berani menjaga kebenaran di tengah derasnya arus informasi, merawat persaudaraan di tengah perbedaan, dan terus menghadirkan solusi di tengah berbagai keterbatasan,” ungkapnya.
Kepada para pelajar, mahasiswa, anggota Resimen Mahasiswa (Menwa), dan seluruh generasi muda Jawa Timur, Khofifah berpesan agar terus meningkatkan kompetensi, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, adaptif terhadap perubahan, serta memiliki daya saing global tanpa meninggalkan nilai-nilai kebangsaan.
“Jangan pernah merasa terlalu muda untuk mengambil peran. Para Pelajar Pejuang TRIP telah membuktikan bahwa usia muda bukan penghalang untuk mencintai, membela, dan memberikan karya terbaik bagi Indonesia,” pesannya.
Pada kesempatan itu, Khofifah juga menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar Paguyuban Mas TRIP Jawa Timur yang konsisten menjaga warisan sejarah perjuangan bangsa sekaligus menanamkan nilai-nilai patriotisme kepada generasi muda.
Menurutnya, Paguyuban Mas TRIP memiliki peran strategis sebagai ruang pembelajaran sejarah sekaligus jembatan yang menghubungkan nilai-nilai perjuangan para pendahulu dengan generasi masa kini.
“Kita semua memiliki tugas yang sama, yakni menjaga kemerdekaan Republik Indonesia sesuai profesi, peran, dan bidang pengabdian masing-masing,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Paguyuban Mas TRIP Jawa Timur, Destry Damayanti, menegaskan bahwa semangat perjuangan Pelajar TRIP harus terus dihidupkan agar nilai-nilai patriotisme tidak luntur oleh perkembangan zaman.
Menurutnya, peringatan Hari Bersejarah 31 Juli bukan sekadar seremoni, melainkan momentum membangun kesadaran sejarah sekaligus memperkuat rasa cinta tanah air di kalangan generasi muda.
“Kita ingin memberikan teladan kepada anak-anak sekaligus menyadarkan mereka betapa besar dan berpotensinya negara kita sehingga harus terus kita jaga bersama,” ujar Destry.
Ia menambahkan, semangat perjuangan Mas TRIP merupakan warisan kebangsaan yang harus terus diteruskan lintas generasi sebagai fondasi penguatan karakter bangsa.
Ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi ikhtiar membangun kesadaran bahwa para pendahulu kita telah menjadi bagian penting dari perjuangan Merah Putih. Tugas kita sekarang adalah melanjutkan semangat itu,” pungkasnya.











