KaMedia – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Vocational Epicentre 2026 yang akan digelar Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya (UNESA) pada 2–4 Agustus 2026. Ajang berskala internasional ini dinilai menjadi momentum strategis untuk memperkuat inovasi, memperluas kolaborasi, sekaligus meningkatkan daya saing sumber daya manusia (SDM) vokasi Indonesia di tingkat global.
Dukungan tersebut disampaikan Khofifah saat menerima audiensi jajaran pimpinan UNESA yang dipimpin Rektor UNESA Prof. Dr. Nurhasan di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (6/7).
“Insya Allah kita siap mendukung penuh penyelenggaraan Vocational Epicentre yang di dalamnya juga menghadirkan OLIVIA XI 2026,” ujar Khofifah.
Menurutnya, pendidikan vokasi memiliki peran penting sebagai jembatan yang menghubungkan dunia pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. Karena itu, peningkatan kualitas SDM vokasi harus terus didorong agar mampu menjawab tantangan global.
Kesiapan sumber daya manusia yang unggul, terampil, serta hilirisasi inovasi terapan dari ranah vokasi akan menjadi pilar utama dalam menyongsong masa depan bangsa,” tegasnya.
Khofifah optimistis penyelenggaraan Vocational Epicentre 2026 akan menjadi wadah strategis untuk menampilkan keunggulan pendidikan vokasi, inovasi terapan, serta kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan dunia industri. Jawa Timur, lanjutnya, siap menjadi episentrum pengembangan pendidikan vokasi yang berdampak nyata bagi kemajuan Indonesia.
Mengusung tema “Satu Titik, Sejuta Inovasi, Level Up The Nation”, Vocational Epicentre 2026 diperkirakan melibatkan sekitar 1.735 peserta dari dalam dan luar negeri melalui empat agenda utama, yakni Olimpiade Vokasi Indonesia (OLIVIA) XI 2026, The 3rd International Conference on Aligning Sustainability with Vocational Innovations (ICASVI) 2026, Vokasi Expo 2026, serta Kongres X Forum Perguruan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI).
Salah satu agenda unggulan adalah OLIVIA XI 2026, yang diselenggarakan UNESA bekerja sama dengan Forum Perguruan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI). Kompetisi bergengsi ini diikuti 65 perguruan tinggi vokasi dari seluruh Indonesia dengan total 1.504 tim yang berkompetisi pada 26 cabang lomba. Babak penyisihan sendiri telah melibatkan hampir 4.700 mahasiswa jenjang D1 hingga D4 atau Sarjana Terapan.
Selain kompetisi, The 3rd ICASVI 2026 akan menjadi ruang kolaborasi ilmiah internasional melalui tema “Applied Innovation for Sustainable Impact”. Konferensi yang digelar secara hibrida di Gedung Serba Guna UNESA ini ditargetkan diikuti sekitar 300 peserta, mulai dari dosen, peneliti, mahasiswa hingga praktisi dari berbagai perguruan tinggi di tiga benua.
Forum internasional tersebut juga menghadirkan lima keynote speaker dari lima negara berbeda dan diarahkan menghasilkan publikasi ilmiah bereputasi internasional yang berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan terapan.
Ini merupakan kesempatan luar biasa bagi perguruan tinggi di Jawa Timur untuk memperluas kontribusi, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional,” kata Khofifah.
Sementara itu, Vokasi Expo 2026 akan menjadi ajang pameran karya inovatif mahasiswa Fakultas Vokasi UNESA bersama perguruan tinggi vokasi lainnya. Pameran ini menampilkan berbagai produk inovasi terapan dari 16 program studi yang diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia industri. Kegiatan tersebut juga mengundang siswa SMA, SMK, dan MA se-Jawa Timur sebagai sarana memperkenalkan potensi pendidikan vokasi.
Rangkaian acara juga diintegrasikan dengan Seminar Nasional dan Kongres X FPTVI yang diperkirakan dihadiri lebih dari 250 peserta, termasuk 139 pimpinan perguruan tinggi vokasi dari seluruh Indonesia untuk merumuskan arah kebijakan pendidikan vokasi nasional.
Di penghujung pertemuan, Khofifah berharap penyelenggaraan Vocational Epicentre 2026 semakin memperkuat sinergi antara Fakultas Vokasi UNESA dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Selama ini, kolaborasi keduanya telah diwujudkan melalui berbagai program bersama, termasuk pengembangan produk grafis digital berbasis kearifan lokal bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah.
Sejak periode pertama kepemimpinan kami, pendidikan menjadi prioritas karena kami meyakini pendidikan adalah kunci untuk menurunkan bahkan memutus rantai kemiskinan. Karena itu, peningkatan kualitas SDM adalah sebuah keharusan. Kita ingin memastikan tidak ada masyarakat Jawa Timur yang tertinggal. No One Left Behind,” pungkasnya.











