HeadlineJatimSidoarjo

Rembesan Tanggul Lapindo Bikin Warga Ketar-Ketir, Trauma Ambrol 2014 Kembali Menghantui

×

Rembesan Tanggul Lapindo Bikin Warga Ketar-Ketir, Trauma Ambrol 2014 Kembali Menghantui

Sebarkan artikel ini
Rembesan air endapan lumpur yang muncul dari saluran drainase tanggul memicu alarm bahaya dan membangkitkan trauma lama yang belum sepenuhnya hilang. Warga khawatir, tragedi ambrolnya tanggul seperti yang terjadi pada 2014 bisa kembali terulang / Foto : Fifin Jun.

KaMedia – Kepanikan kembali menyelimuti kawasan sekitar tanggul Lumpur Lapindo di Sidoarjo. Rembesan air endapan lumpur yang muncul dari saluran drainase tanggul memicu alarm bahaya dan membangkitkan trauma lama yang belum sepenuhnya hilang. Warga khawatir, tragedi ambrolnya tanggul seperti yang terjadi pada 2014 bisa kembali terulang.

Rembesan diduga dipicu tingginya endapan lumpur di balik tanggul yang meningkatkan tekanan terhadap struktur penahan. Sejumlah titik rawan ditemukan, terutama di kawasan perbatasan Desa Glagaharum dan Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin. Dalam sepekan terakhir, rembesan dilaporkan muncul memanjang hingga puluhan meter, memunculkan kekhawatiran baru di tengah masyarakat.

Situasi semakin mengkhawatirkan karena kondisi kolam penampungan lumpur disebut berada di ambang kritis. Jarak permukaan air dengan bibir tanggul kini hanya sekitar satu meter. Artinya, tekanan terhadap tanggul semakin besar dan risiko gangguan struktur tidak bisa dianggap remeh.

Bagi warga yang pernah merasakan langsung dahsyatnya bencana lumpur Lapindo, rembesan ini bukan sekadar persoalan teknis. Ini adalah ancaman yang membangkitkan luka lama.

“Adanya rembesan yang sempat viral ini membuat warga was-was. Harapan kami sebagai warga segera diperbaiki sehingga trauma itu jangan terulang lagi,” ujar Niko, warga Desa Kali Tengah yang rumahnya berada dekat dengan tanggul.

Kekhawatiran warga akhirnya memaksa pemerintah pusat turun tangan. Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air melakukan inspeksi langsung ke lokasi guna memetakan kondisi terkini tanggul.

Perwakilan kementerian, Navian, mengatakan pihaknya akan melakukan penelitian menyeluruh untuk mengetahui kondisi sebenarnya dan menyiapkan langkah antisipasi.

“Penelitian ini menjadi dasar untuk mengetahui kondisi tanggul sehingga kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi bisa diantisipasi,” katanya saat meninjau lokasi.

Namun bagi warga, penelitian saja tidak cukup. Mereka menuntut tindakan cepat dan nyata. Sebab, setiap tetes rembesan yang muncul dari tubuh tanggul dianggap sebagai peringatan bahwa ancaman masih ada di depan mata.

Kini pertanyaannya bukan lagi apakah rembesan itu berbahaya, melainkan seberapa cepat perbaikan dilakukan sebelum kecemasan berubah menjadi bencana yang sesungguhnya. Warga tidak ingin tragedi yang pernah mengubur kampung, memutus mata pencaharian, dan meninggalkan trauma panjang itu kembali mengetuk pintu rumah mereka.