KaMedia – PT Terminal Teluk Lamong (TTL) terus memperkuat posisinya sebagai motor penggerak logistik nasional dengan membuka ruang dialog langsung bersama pelaku usaha. Melalui Forum Diskusi Strategis yang digelar bersama Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (DPW ALFI/ILFA) Jawa Timur, TTL menegaskan komitmennya membangun ekosistem logistik yang lebih efisien, kompetitif, dan siap menghadapi lonjakan arus barang di masa depan.
Forum yang berlangsung pada Rabu (10/6) itu tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, melainkan ruang evaluasi sekaligus penyampaian kritik dan masukan dari para pelaku logistik terhadap layanan kepelabuhanan yang selama ini berjalan.
Sebagai salah satu terminal petikemas modern terbesar di Indonesia Timur, TTL mencatat arus petikemas konsolidasi mencapai 2,19 juta TEUs sepanjang 2025. Angka tersebut menjadi bukti meningkatnya kepercayaan pengguna jasa sekaligus mempertegas peran strategis TTL dalam rantai pasok nasional maupun internasional.
Di hadapan para pengurus ALFI/ILFA Jawa Timur, manajemen TTL memaparkan sejumlah langkah transformasi yang telah dijalankan untuk meningkatkan efisiensi operasional. Salah satu yang menjadi sorotan adalah implementasi Truck Booking System (TBS) Stage 2 sejak Maret 2026.
Melalui sistem ini, kedatangan truk diatur berdasarkan slot waktu operasional selama empat jam. Skema tersebut dirancang untuk mengurai antrean, mengoptimalkan penggunaan peralatan terminal, serta menekan potensi kepadatan kendaraan di area gate maupun lapangan penumpukan.
Tak hanya fokus pada aspek operasional, TTL juga mulai memperhatikan kenyamanan para pengemudi truk melalui penyediaan Green Shelter Waiting Area. Fasilitas yang mampu menampung hingga 66 truk itu dilengkapi mushola, toilet, klinik, ruang induksi keselamatan, hingga minuman gratis bagi pengemudi yang menunggu jadwal pelayanan.
Langkah lain yang juga menjadi perhatian adalah optimalisasi kapasitas lapangan penumpukan melalui penataan ulang dan pengembangan layout yard. Strategi ini dinilai penting untuk mengantisipasi pertumbuhan arus petikemas sekaligus mempercepat pergerakan barang agar dwelling time dapat terus ditekan.
Meski demikian, ALFI/ILFA Jawa Timur menilai masih terdapat sejumlah ruang perbaikan. Dalam forum tersebut, para pelaku usaha logistik menyampaikan berbagai masukan strategis, mulai dari pengaturan slot TBS yang lebih fleksibel, kebijakan toleransi waktu kedatangan truk, keterbukaan informasi terkait Yard Occupancy Ratio (YOR), hingga pengembangan sistem notifikasi bagi pengguna jasa saat kendaraan memasuki area terminal.
Selain itu, percepatan pemeriksaan fisik dan dokumen impor yang melibatkan berbagai instansi juga menjadi perhatian utama guna mengurangi hambatan dalam rantai distribusi barang.
Menanggapi berbagai usulan tersebut, Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong, David P. Sirait, menegaskan bahwa setiap masukan akan menjadi bahan evaluasi penting dalam pengembangan layanan ke depan.
“Terima kasih atas seluruh masukan yang diberikan. Bagi kami, customer adalah konsultan terbaik. Seluruh usulan akan kami tindak lanjuti melalui kajian dan evaluasi bersama stakeholder terkait agar implementasinya dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat nyata bagi pengguna jasa,” ujar David.
Menurutnya, transformasi layanan logistik tidak mungkin dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi erat antara operator terminal, regulator, pelaku usaha logistik, perusahaan pelayaran, hingga asosiasi pengguna jasa agar seluruh perbaikan yang dilakukan dapat berjalan optimal.
“Transformasi layanan yang berkelanjutan hanya dapat terwujud melalui sinergi yang kuat antar pemangku kepentingan. Masukan dari ALFI/ILFA memiliki nilai strategis bagi kami untuk terus menghadirkan inovasi layanan yang meningkatkan efisiensi logistik dan daya saing pelabuhan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum DPW ALFI/ILFA Jawa Timur, Sebastian Wibisono, memberikan apresiasi atas keterbukaan manajemen TTL dalam menerima kritik dan masukan dari pelaku usaha.
Menurutnya, berbagai inovasi yang telah dijalankan, mulai dari Truck Booking System, Green Shelter Waiting Area hingga optimalisasi kapasitas lapangan penumpukan, menunjukkan keseriusan TTL dalam meningkatkan kualitas layanan.
“Forum seperti ini sangat penting dilakukan secara berkala sebagai sarana evaluasi dan koordinasi bersama. Dengan kolaborasi yang semakin erat, kami optimistis ekosistem logistik Jawa Timur akan semakin tangguh, kompetitif, dan mampu menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Sebastian.
Forum ini menjadi sinyal kuat bahwa penguatan sektor logistik tidak hanya bergantung pada investasi infrastruktur, tetapi juga pada kemauan seluruh pemangku kepentingan untuk duduk bersama, mengurai persoalan, dan mencari solusi demi menciptakan rantai pasok yang semakin efisien dan berdaya saing.











