HeadlineNasionalSidoarjo

Namanya Bang Zul: Penjaga Harapan di Tengah Lautan Lumpur dan Air Mata

×

Namanya Bang Zul: Penjaga Harapan di Tengah Lautan Lumpur dan Air Mata

Sebarkan artikel ini
Ahmad Zulkarnain atau Bang Zul ( dua dari kanan) saat bersama media dilokasi semburan lumpur Lapindo / Foto : Istimewa.

KaMedia – Malam di tanggul Lumpur Lapindo selalu terasa panjang. Angin berembus kencang membawa aroma lumpur yang khas. Di kejauhan, lampu-lampu alat berat berkelip samar. Sementara ribuan warga yang kehilangan rumah, sawah, pekerjaan, bahkan masa depan, mencoba bertahan di tengah ketidakpastian.

Di saat banyak orang memilih menjauh dari lokasi bencana, seorang pria muda justru menghabiskan hari-harinya di sana. Namanya Ahmad Zulkarnain. Orang-orang mengenalnya sebagai Bang Zul.

Pria asal Jakarta itu datang ke Sidoarjo bukan karena pilihan pribadi. Negara menugaskannya berada di garis depan penanganan bencana Lumpur Lapindo atau BPLS. Jauh dari keluarga dan kampung halamannya, ia harus menjalani hidup baru di tengah salah satu tragedi kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi di Indonesia.

Hampir setiap malam, Bang Zul menunggangi motor trail biru kesayangannya menyusuri tanggul demi tanggul. Dari satu titik ke titik lain. Dari Porong hingga Jabon.

Ketika sebagian orang terlelap, ia justru memulai pekerjaannya. Memastikan tanggul tetap aman,mendengar keluhan warga, meredam kemarahan korban dan mencari solusi atas persoalan yang muncul nyaris tanpa jeda.

Celana jins dan kemeja wana cerah menjadi seragam yang hampir selalu melekat di tubuhnya. Waktu kerja tidak pernah mengenal jam kantor. Telepon bisa berdering tengah malam. Warga bisa datang kapan saja. Situasi darurat bisa muncul sewaktu-waktu.

“Ya kalau capai pasti iya, Mas. Tapi tentu ada hal-hal penting yang harus dilakukan meski capai. Keselamatan masyarakat tetap yang utama,” kenangnya.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan tahun-tahun panjang pengabdian yang tidak mudah.

Karena menjadi penghubung antara korban dan pemerintah bukan pekerjaan yang selalu mendapat tepuk tangan.

Di satu sisi, Bang Zul harus menyampaikan kebijakan pemerintah kepada warga yang sedang marah. Di sisi lain, ia harus membawa suara warga kepada pemerintah yang sering kali dihadapkan pada berbagai keterbatasan.

Tak jarang ia menjadi tempat pelampiasan emosi, menjadi sasaran protes dan menerima caci maki. Bahkan mendengar tangisan orang-orang yang kehilangan segalanya. Namun ia tetap datang ke lokasi yang sama keesokan harinya. Lalu mengulang semuanya lagi.

Dua puluh tahun telah berlalu. Lumpur masih ada. Tanggul masih berdiri. Tetapi Bang Zul sudah lama kembali ke Jakarta. Kehidupannya kini berbeda. Ia telah menjadi seorang profesional di ibu kota, menjalani rutinitas yang jauh dari aroma lumpur dan suara alat berat.

Namun ada bagian dari dirinya yang tertinggal di Sidoarjo. Jejak itu masih bisa ditemukan di sebuah tempat sederhana bernama Warung Tengah Sawah atau yang lebih dikenal dengan WTS.

Dulu, warung itu nyaris tak dikenal. Pelanggannya hanya pekerja tanggul, petugas lapangan, dan beberapa warga sekitar. Bang Zul termasuk salah satunya.

“Kalau lapar saya pasti ke sana sambil mengawasi tanggul. Sekalian membangun komunikasi dengan masyarakat karena salah satu wilayah terdampak ada di Jabon,” tuturnya.

Kini warung kecil itu berubah menjadi destinasi kuliner yang ramai. Pengunjung datang dari Sidoarjo, Surabaya, bahkan Pasuruan. Tidak banyak yang tahu bahwa di salah satu sudut sejarah warung tersebut, pernah ada seorang petugas muda yang singgah hampir setiap hari di sela-sela perjuangan menghadapi bencana.

Sejarah sering kali mencatat angka. Berapa desa tenggelam, berapa rumah hilang. berapa miliar rupiah kerugian.

Tetapi sejarah jarang mencatat orang-orang yang diam-diam mengabdikan hidupnya di tengah bencana. Bang Zul adalah salah satunya.

Bagi banyak korban Lumpur Lapindo, ia bukan sekadar pejabat humas. Ia adalah pendengar ketika mereka kehilangan harapan. Penyambung lidah ketika suara mereka tak terdengar. Tempat mengadu ketika kemarahan tak lagi bisa dibendung.

Dua puluh tahun kemudian, lumpur itu mungkin masih menjadi luka bagi banyak orang.

Namun di antara kisah kehilangan dan penderitaan, tersimpan pula cerita tentang seorang anak muda dari Jakarta yang pernah menghabiskan malam-malamnya di atas motor trail biru, berkeliling tanggul tanpa kenal lelah.

Bukan untuk mencari nama. Melainkan untuk memastikan ribuan orang yang terdampak bencana tetap merasa bahwa negara hadir di tengah mereka. Dan mungkin, itulah jejak pengabdian yang tidak akan pernah tenggelam bersama lumpur.