Gaya HidupSidoarjo

Monggo Moco: Perlawanan Sunyi Aisa Aprllia Melawan Matinya Budaya Baca Anak Sidoarjo

×

Monggo Moco: Perlawanan Sunyi Aisa Aprllia Melawan Matinya Budaya Baca Anak Sidoarjo

Sebarkan artikel ini

KaMedia – Di sudut Taman Tara, Pagerwojo, setiap akhir pekan ada pemandangan yang tak biasa. Bukan sekadar anak-anak berlarian atau keluarga yang bersantai, melainkan sekelompok bocah yang duduk melingkar, tenggelam dalam halaman-halaman buku. Di tengah mereka, seorang perempuan muda dengan senyum hangat mengawasi, sesekali membantu mengeja kata. Dialah Aisa Aprllia, penggerak kecil yang diam-diam menyalakan api literasi di Kabupaten Sidoarjo.

Berangkat dari kegelisahan yang sederhana namun tajam, minimnya ruang baca yang ramah anak, Aisa memilih tidak menunggu perubahan datang. Ia menciptakannya sendiri. Dengan bermodal koleksi buku pribadinya, perempuan kelahiran 1996 asal Desa Sugiwaras itu menggagas sebuah gerakan yang ia beri nama “Monggo Moco”.

Gerakan ini bukan perpustakaan megah, bukan pula program resmi yang didukung anggaran besar. “Monggo Moco” justru hadir dalam bentuk paling sederhana: lapak buku yang digelar di taman, di bawah langit terbuka, setiap hari Minggu atau saat libur sekolah. Buku-buku yang tersusun rapi itu adalah milik Aisa sendiri, koleksi yang ia kumpulkan sejak kecil.

“Sejak kecil saya sudah dekat dengan buku. Selain itu saya juga suka kegiatan sosial. Bahkan waktu SD, saya sudah pernah bikin perpustakaan kecil di rumah,” ujarnya, mengenang awal mula kecintaannya pada dunia literasi.

Kecintaan itu tidak berhenti sebagai hobi pribadi. Ia tumbuh menjadi kepedulian. Aisa melihat, di tengah derasnya arus gawai dan hiburan instan, buku mulai kehilangan tempat di hati anak-anak. Ruang baca semakin jarang, dan kebiasaan membaca perlahan memudar.

Dari situlah “Monggo Moco” lahir, sebuah ajakan yang sederhana namun mengandung harapan besar: mengembalikan budaya membaca, satu anak dalam satu waktu.

Selama enam tahun terakhir, Aisa konsisten menggelar lapak baca keliling. Dari taman ke taman, dari satu sudut desa ke sudut lainnya, ia membawa buku dan harapan. Ia tidak hanya membuka lapak, tapi juga membangun interaksi, mengajak anak-anak membaca bersama, berdiskusi ringan, bahkan sekadar bercerita.

Namun perjalanan ini tidak selalu mulus.

Di awal, Aisa sempat merasakan penolakan. Ajakan membaca yang ia tawarkan tidak langsung disambut hangat. Beberapa orang tua bahkan memandang skeptis. Membaca buku dianggap bukan prioritas, kalah oleh aktivitas lain yang dianggap lebih “penting” atau lebih praktis.

“Itu jadi tantangan tersendiri. Pernah mengajak anak-anak, tapi respons orang tuanya kurang positif. Tapi saya tidak menyerah,” katanya.

Alih-alih mundur, Aisa justru semakin yakin bahwa gerakan kecil ini memang dibutuhkan. Ia memahami bahwa membangun budaya membaca bukan pekerjaan instan. Butuh kesabaran, konsistensi, dan ketulusan.

Perlahan, perubahan mulai terlihat. Anak-anak yang awalnya hanya datang karena penasaran, kini mulai menunggu kehadiran lapak buku setiap minggunya. Mereka datang bukan hanya untuk membaca, tapi juga untuk merasakan suasana yang berbeda, suasana di mana buku menjadi teman bermain.

Bagi Aisa, momen-momen sederhana itu adalah kemenangan kecil yang berarti besar.

Latar belakangnya sebagai mahasiswa Sastra Inggris di salah satu universitas di Surabaya turut memperkuat keyakinannya bahwa literasi adalah kunci masa depan. Ia percaya, kebiasaan membaca bukan hanya soal menambah pengetahuan, tapi juga membentuk cara berpikir, memperluas imajinasi, dan membuka peluang yang lebih luas bagi anak-anak.

“Monggo Moco” mungkin tampak kecil. Tidak ada gedung, tidak ada sponsor besar, tidak ada sorotan berlebihan. Tapi justru dari kesederhanaan itulah kekuatannya muncul.

Di tengah dunia yang serba cepat dan instan, Aisa memilih jalan yang sunyi, menanam benih literasi dengan sabar, halaman demi halaman. Ia tidak sekadar membuka buku, tapi juga membuka jendela dunia bagi anak-anak di sekitarnya.

Dan di setiap Minggu pagi di Taman Tara, harapan itu terus hidup dalam tawa anak-anak, dalam lembaran buku yang dibalik, dan dalam keyakinan seorang perempuan muda bahwa perubahan besar selalu bisa dimulai dari langkah kecil.