Gaya HidupJatimPemerintahan

Napas Reyog dari Grahadi: Merawat Warisan, Menjaga Makna

×

Napas Reyog dari Grahadi: Merawat Warisan, Menjaga Makna

Sebarkan artikel ini

KaMedia – Siang itu, suasana Gedung Negara Grahadi terasa berbeda. Di antara dinding-dinding bersejarah yang biasanya tenang, semangat para seniman muda Reyog mengalir hangat. Mereka adalah bagian dari Tim Reyog Kyai Lodra, yang datang membawa bukan sekadar pertunjukan, melainkan cerita panjang tentang identitas, warisan, dan harapan.

Di hadapan mereka, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyambut dengan penuh perhatian. Bagi Khofifah, pertemuan ini bukan sekadar audiensi biasa. Ada misi besar yang tengah dirawat: menjaga denyut hidup Reyog Ponorogo setelah dunia mengakuinya sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO.

Reyog, dalam pandangan Khofifah, bukan sekadar tontonan yang memukau mata. Lebih dari itu, ia adalah cermin nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat.

“Reyog bukan sekadar atraksi. Di dalamnya ada filosofi tentang keberanian, kebenaran, dan harmoni dalam keberagaman,” ujarnya, menatap para seniman muda yang akan berlaga di Festival Reyog Nasional Ponorogo 2026.

Di balik gemerlap kostum dan dentuman musiknya, Reyog menyimpan perjalanan panjang. Pengakuan UNESCO yang diraih pada akhir 2024 bukanlah hasil instan. Ia lahir dari proses yang penuh tantangan—termasuk penyesuaian penting terkait isu kesejahteraan satwa.

Kini, penggunaan material dari satwa dilindungi menjadi perhatian serius. Upaya pelestarian tidak lagi hanya soal mempertahankan bentuk, tetapi juga memastikan nilai-nilai keberlanjutan berjalan seiring.

Bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur, pengakuan global ini justru menjadi titik awal, bukan garis akhir. Di sinilah ekosistem Reyog diuji bagaimana ia tetap hidup, relevan, dan terus diwariskan.

Di sudut lain, semangat itu terasa nyata pada Tim Reyog Kyai Lodra. Selama dua bulan terakhir, mereka menjalani karantina latihan mengasah gerak, memperkuat kekompakan, dan meresapi makna di balik setiap adegan.

Bagi Joko Winarko, perwakilan tim, panggung bukan sekadar tempat berkompetisi.

“Ini tentang kebanggaan. Tentang bagaimana generasi muda ikut menjaga warisan budaya,” tuturnya.

Kata-kata itu terasa sederhana, tetapi menyimpan tekad yang dalam: Reyog harus terus hidup, bukan hanya di panggung festival, tetapi juga di hati generasi penerus.

Pemerintah pun tak tinggal diam. Melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, kolaborasi dibangun dengan berbagai pihak, mulai dari institusi pendidikan hingga komunitas seni. Nama-nama seperti Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta, SMK 12 Surabaya, hingga Universitas Negeri Surabaya menjadi bagian dari simpul yang memperkuat ekosistem ini.

Bahkan, langkah inovatif mulai dijajaki. Bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam, upaya pengembangbiakan burung merak Jawa tengah dirancang sebagai solusi keberlanjutan bahan pertunjukan.

Namun, bagi Khofifah, satu hal yang tak kalah penting adalah keberlanjutan regenerasi. Ia percaya, kecintaan pada budaya bisa tumbuh dari kebiasaan sederhana: sering tampil, sering berlatih, dan sering berkumpul dalam ruang-ruang kreatif.

“Awalnya mungkin karena insentif. Tapi lama-lama akan tumbuh rasa bangga, dan dari situlah dedikasi lahir,” katanya.

Keyakinan itu seolah terjawab siang itu. Dalam suasana hangat, pemotongan tumpeng menjadi simbol doa dan harapan. Dukungan dana pembinaan pun diberikanbukan hanya sebagai bantuan, tetapi sebagai bentuk kepercayaan.

Reyog hari ini bukan lagi milik Ponorogo semata. Ia telah menjadi milik dunia. Namun, justru di tengah pengakuan global itulah, akar lokal harus semakin kuat.

Dari Grahadi, langkah kecil itu kembali ditegaskan: menjaga Reyog bukan hanya tentang mempertahankan bentuknya, tetapi merawat maknanya.

Karena selama nilai-nilainya tetap hidup, Reyog akan selalu menemukan panggungnya di mana pun, kapan pun.