OlahragaSurabaya

Ketika Jempol Menjadi Senjata: Piala Gadisku Buka Panggung Esport Inklusif Bagi Atlet Disabilitas Surabaya

×

Ketika Jempol Menjadi Senjata: Piala Gadisku Buka Panggung Esport Inklusif Bagi Atlet Disabilitas Surabaya

Sebarkan artikel ini
Ketua KONI Surabaya Arderio Hukom ( berdiri, kaos hitam ) ditengah para penyandang disabilitas yang mengikuti turnamen esport Piala Gadisku di Surabaya /Foto: KONI Surabaya.

KaMedia – Sorak kecil, tatapan penuh konsentrasi, dan jari-jari yang menari cepat di layar gawai memenuhi ruangan Galeri Disabilitas di Jalan Jemur Andayani, Surabaya. Di tempat sederhana itu, 40 penyandang disabilitas berkumpul bukan untuk dikasihani, melainkan untuk bertanding dan menunjukkan kemampuan mereka dalam Piala Gadisku Disabilitas Esport Mobile Legends.

Turnamen ini menjadi lebih dari sekadar kompetisi gim. Ia menjelma menjadi ruang pembuktian, bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berprestasi di dunia olahraga modern bernama esport.

Peserta yang tergabung dalam delapan tim tampil penuh semangat. Mereka saling adu strategi, ketepatan, dan kerja sama tim, unsur utama yang menjadikan Mobile Legends bukan sekadar permainan, melainkan cabang olahraga kompetitif.

Ketua Umum KONI Surabaya, Arderio Hukom, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut, tak menutupi apresiasinya. Baginya, esport adalah cabang olahraga yang paling terbuka terhadap keberagaman.

“Esport harus menjadi olahraga yang inklusif. Di sini, tidak ada batasan fisik. Yang dibutuhkan adalah fokus, strategi, dan mental juara,” ujar Arderio.

Pria yang juga berprofesi sebagai advokat itu menegaskan komitmen KONI Surabaya untuk terus mendorong pengembangan atlet esport disabilitas agar dapat naik kelas dan bersaing di level yang lebih tinggi.

“KONI Surabaya siap mendukung. Kami berharap dari turnamen seperti ini akan lahir atlet-atlet esport disabilitas yang bisa berprestasi di tingkat regional hingga nasional,” katanya.

Tak hanya KONI, dukungan juga datang dari berbagai pihak. Perwakilan Dinas Sosial dan Dinas Kominfo Jawa Timur, serta ESI Surabaya, turut hadir memberi semangat. Kehadiran mereka menjadi sinyal bahwa esport disabilitas mulai mendapat tempat yang layak dalam ekosistem olahraga daerah.

Ketua Pelaksana Turnamen, Veygel Revelino Nelwan, menyebut antusiasme peserta justru melampaui ekspektasi panitia.

“Pendaftaran kami buka tiga hari, langsung penuh. Bahkan banyak yang ingin ikut tapi belum bisa kami akomodasi karena keterbatasan tempat,” ungkap Veygel, yang juga mewakili Ketua ESI Surabaya, Achmad Nurdjayanto.

Sebanyak 40 peserta akhirnya dibagi ke dalam delapan tim. Namun bagi Veygel, angka itu hanya permulaan. Ia melihat semangat besar dari komunitas disabilitas terhadap esport, khususnya Mobile Legends.

“Harapan kami, Piala Disabilitas ini bisa berlanjut dengan tempat yang lebih besar. Teman-teman disabilitas punya potensi luar biasa dan butuh lebih banyak ruang untuk berkembang,” tambahnya.

Di balik layar ponsel dan suara notifikasi permainan, tersimpan pesan kuat, esport adalah tentang kesempatan yang setara. Dan di Surabaya, lewat Piala Gadisku Disabilitas, kesempatan itu mulai terbuka lebar, memberi panggung bagi para atlet yang selama ini kerap terpinggirkan, namun kini berdiri sejajar, bertarung dengan percaya diri, dan bermimpi menjadi juara.