EkonomiHeadlineJatim

PLN Peringatkan Bahaya Balon Udara Liar di Tulungagung: Bisa Picu Pemadaman Listrik Luas Saat Ramadan

×

PLN Peringatkan Bahaya Balon Udara Liar di Tulungagung: Bisa Picu Pemadaman Listrik Luas Saat Ramadan

Sebarkan artikel ini
PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali (UIT JBM), PLN menggandeng pemerintah daerah, TNI, dan Polri untuk mencegah gangguan kelistrikan akibat tradisi penerbangan balon udara yang kerap terjadi menjelang Idul Fitri / Foto : PLN

KaMedia – PT PLN (Persero) memperingatkan keras masyarakat agar tidak menerbangkan balon udara liar selama Ramadan. Aktivitas tersebut dinilai berpotensi membahayakan jaringan listrik dan dapat memicu pemadaman dalam skala luas.

Melalui PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali (UIT JBM), PLN menggandeng pemerintah daerah, TNI, dan Polri untuk mencegah gangguan kelistrikan akibat tradisi penerbangan balon udara yang kerap terjadi menjelang Idul Fitri.

Langkah itu diwujudkan melalui sosialisasi yang digelar oleh PLN Unit Pelaksana Transmisi Madiun pada Rabu (4/3) di Kantor Desa Bandung, Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung.

Kegiatan tersebut dihadiri unsur pemerintah kecamatan, aparat kepolisian, TNI, kepala desa, hingga Bhabinkamtibmas dari wilayah Kecamatan Bandung dan Besuki. Sinergi lintas sektor ini dilakukan untuk memperkuat pengawasan serta memberikan peringatan tegas kepada masyarakat terkait risiko balon udara liar.

Wilayah Tulungagung sendiri dikenal memiliki tradisi menerbangkan balon udara, terutama saat Ramadan hingga perayaan Idul Fitri. Namun, balon udara yang diterbangkan tanpa kendali dianggap sangat berbahaya karena dapat mendekati bahkan tersangkut pada jaringan listrik bertegangan tinggi.

PLN menjelaskan, sebagian balon udara tradisional menggunakan api sebagai sumber panas. Kondisi tersebut meningkatkan risiko ketika balon terbang mendekati jaringan listrik seperti Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) maupun Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET).

Jika balon tersangkut pada konduktor atau tower transmisi, dampaknya tidak hanya mengganggu sistem kelistrikan, tetapi juga dapat menyebabkan jaringan listrik mengalami trip hingga memicu pemadaman listrik dalam skala luas.

Gangguan tersebut berpotensi berdampak langsung pada masyarakat, terutama di momen Ramadan ketika kebutuhan listrik meningkat untuk aktivitas ibadah, rumah tangga, dan layanan publik.

General Manager PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali, Ika Sudarmaja, menegaskan bahwa PLN tidak ingin risiko tersebut terjadi.

“PLN terus berupaya menjaga keandalan penyaluran listrik agar masyarakat dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan nyaman. Melalui sosialisasi ini kami ingin meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya balon udara terhadap jaringan transmisi listrik,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa dukungan pemerintah daerah, aparat keamanan, serta masyarakat sangat dibutuhkan untuk mencegah potensi gangguan tersebut.

“Dukungan dari pemerintah daerah, TNI, Polri, serta seluruh elemen masyarakat sangat penting untuk mencegah potensi gangguan yang dapat berdampak pada pasokan listrik,” kata Ika.

Dalam forum tersebut, PLN juga memaparkan secara teknis potensi bahaya balon udara terhadap infrastruktur transmisi listrik yang melintasi wilayah Tulungagung, khususnya di Kecamatan Bandung dan Besuki.

Selain sosialisasi, langkah pencegahan juga akan diperkuat melalui patroli jaringan, edukasi masyarakat di tingkat desa, serta koordinasi dengan aparat keamanan untuk melakukan pengawasan selama Ramadan hingga Idul Fitri.

Para camat, kapolsek, dan danramil yang hadir dalam kegiatan tersebut menyatakan komitmen mereka untuk mendukung upaya pencegahan tersebut melalui pengawasan di wilayah masing-masing.

PLN berharap masyarakat dapat memahami risiko yang ditimbulkan dari balon udara liar. Tanpa kerja sama semua pihak, tradisi tersebut dikhawatirkan justru menimbulkan gangguan serius terhadap sistem kelistrikan.

Dengan kolaborasi antara PLN, pemerintah daerah, TNI, dan Polri, diharapkan pasokan listrik di Tulungagung tetap aman sehingga masyarakat dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan tenang tanpa gangguan pemadaman listrik.