KaMedia – Suasana Kelurahan Bendomungal, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, tampak berbeda pada Rabu (21/1). Lingkungan yang dulu dikenal padat dan kurang tertata, kini mulai bertransformasi menjadi kawasan yang lebih rapi, bersih, dan nyaman.
Perubahan ini ditandai dengan diresmikannya Program Penanganan Kawasan Permukiman Kumuh Terpadu dan Terintegrasi (PERMATA JATIM) oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Didampingi jajaran pemerintah daerah dan masyarakat setempat, Gubernur Khofifah meninjau langsung hasil penataan kawasan. Bagi Khofifah, PERMATA JATIM bukan sekadar proyek pembangunan fisik, melainkan wujud kehadiran negara dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.
“Hari ini kita meresmikan hasil Program PERMATA JATIM sebagai bukti nyata komitmen pemerintah menghadirkan lingkungan hunian yang layak, sehat, aman, dan manusiawi bagi masyarakat,” ujar Khofifah.
Ia menegaskan, penanganan kawasan permukiman kumuh tidak bisa dilakukan setengah-setengah. Dibutuhkan pendekatan komprehensif dan kolaboratif yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat sebagai subjek utama pembangunan.
Program PERMATA JATIM sendiri dirancang tidak hanya memperbaiki infrastruktur dasar, seperti jalan, drainase, dan sanitasi, tetapi juga memperkuat aspek sosial dan ekonomi warga. Di Bendomungal, penataan kawasan bahkan diarahkan untuk mengoptimalkan potensi lokal, salah satunya sebagai kawasan wisata religi yang telah lama hidup dan tumbuh di tengah masyarakat.
“Penataan ini kami dorong agar Bendomungal menjadi kawasan yang tidak hanya layak huni, tetapi juga nyaman bagi peziarah dan mampu menggerakkan ekonomi lokal,” kata Khofifah.
Berdasarkan data Pemprov Jatim, luas kawasan kumuh di Jawa Timur mencapai 8.117,23 hektare, dengan Kabupaten Pasuruan menyumbang 440,44 hektare. Sementara itu, kawasan kumuh di Kelurahan Bendomungal seluas 11,82 hektare dan masuk kategori kumuh ringan. Untuk penanganan terpadu di kawasan ini, Pemprov Jatim mengalokasikan anggaran APBD sebesar Rp 9,09 miliar.
Anggaran tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan strategis, mulai dari pembangunan jalan paving dan drainase, normalisasi sungai, penataan kawasan makam Habib Abdullah Bin Ali Al Haddad, pembangunan TPS3R, SPAM, hingga septictank komunal. Seluruh intervensi dirancang untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan.
Khofifah menekankan bahwa keberhasilan pembangunan tidak berhenti saat proyek selesai. Justru, peran masyarakat menjadi kunci utama agar kawasan yang telah tertata dapat terus terjaga dan memberi manfaat jangka panjang.
“Pemukiman yang sudah bersih dan sehat ini tolong dijaga dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Rasa memiliki dari masyarakat adalah kunci keberlanjutan,” pesannya.
Lebih dari itu, kawasan yang tertata dinilai mampu mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi warga, khususnya pelaku UMKM di sekitar kawasan wisata religi. Lingkungan yang aman dan nyaman menjadi modal penting bagi interaksi sosial dan perputaran ekonomi yang berkelanjutan.
Sementara itu, Wakil Bupati Pasuruan HM Shobih Asrori mengakui bahwa penanganan kawasan kumuh merupakan pekerjaan kompleks karena menyentuh persoalan sosial, ekonomi, dan lingkungan secara bersamaan. Ia menyampaikan apresiasi atas dukungan dan kolaborasi Pemprov Jatim yang telah menjadikan Bendomungal sebagai lokus program terpadu.
“Dengan konsep tematik religi dan wisata keluarga, kawasan ini kini berubah menjadi lingkungan yang bersih, tertata, dan nyaman. Dampaknya sangat terasa bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Ia pun mengajak seluruh warga Bendomungal untuk bersama-sama merawat fasilitas yang telah dibangun agar kawasan ini terus berkembang sebagai ruang hidup sosial, ekonomi, dan religi yang membanggakan.
Dengan hadirnya PERMATA JATIM, Bendomungal tak hanya berbenah hari ini, tetapi juga menata masa depan, menjadi kawasan yang layak huni, bermartabat, dan memberi harapan bagi generasi mendatang.











