HeadlineNasionalPemerintahan

Pemerintah Indonesia Terima Pengembalian Fosil Manusia Purba Homo Erectus Javanicus Dari Belanda

×

Pemerintah Indonesia Terima Pengembalian Fosil Manusia Purba Homo Erectus Javanicus Dari Belanda

Sebarkan artikel ini
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mewakili Pemerintah Indonesia menerima berita acara pengembalian fosil manusia purba dari Belanda / Foto : Ist.

KaMedia – Setelah 134 tahun akhirnya pemerintah Kerajaan Belanda mengembalikan fosil Homo erectus javanicus (yg dahulu dinamakan : Pithecanthropus erectus) ke Indonesia. Fosil manusia purba yg dijuluki “Manusia Jawa” itu, waktu itu ditemukan oleh ahli anatomi Belanda  Eugène Dubois di Desa Trinil, Ngawi, Jawa Tengah pada 1891 yg kemudian disimpan di museum di Belanda.

Penyerahan fosil bersejarah tersebut bersamaan dengan kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Istana Huis ten Bosch untuk bersilaturahmi dengan Raja Willem Alexander dan Ratu Maxima, Jumat ( 25/9/2025 ) di Den Haag. Sementara itu di Leiden Menteri Pendidikan, Kebudayaan & Ilmu Pengetahuan Belanda Gouke Moes menyerahkan secara simbolik fosil Manusia Jawa kepada Menteri Kebudayaan Indonesia Fadli Zon di Museum Naturalis.

Fadli Zon menyebutkan, pemulangan ini sebagai pemulihan kedaulatan dan kemenangan strategis Indonesia setelah lebih dari satu abad jejak pengetahuan tentang asal-usul manusia yg terpisah dari tanah kelahirannya.

“Hari ini kita menutup jurang sejarah dan memulihkan martabat pengetahuan yg lahir dari Trinil. Kepulangan koleksi Dubois ini adalah bukti, bahwa diplomasi kebudayaan Indonesia bekerja, kepemilikan sah NKRI diakui dan akses riset dunia tetap terjaga,” ujar Fadli Zon, Jumat (25/9/2025).

Selain fosil Manusia Jawa, Belanda juga akan mengembalikan sekitar 28.000 fosil atau spesimen dari koleksi Dubois, termasuk fosil yang ditemukan Dubois di Sumatra dan Jawa. Selama ini koleksi tersebut dikelola oleh Museum Naturalis.

Pengembalian itu dilakukan atas permintaan pemerintah Indonesia. Menurut Gouke Moes, mereka menyetujui permintaan itu atas saran dari Komite Koleksi Kolonial yang independen.

“Saran Komite didasarkan pada penelitian yg ekstensif dan menyeluruh. Kami akan menerapkan tingkat ketelitian yg sama dalam bekerja sama dengan Naturalis dan mitra kami di Indonesia untuk memastikan pengiriman (fosil) berjalan lancar,” katanya.

“Indonesia dan Belanda meyakini pentingnya koleksi ini untuk tetap menjadi sumber penelitian ilmiah.” lanjut Moes.

Moes mengatakan koleksi ini merupakan sumber daya berharga yg berkontribusi pada pemahaman ilmiah ttg sejarah evolusi manusia. Benda – benda penting dalam koleksi Dubois antara lain sebuah tempurung kepala, sebuah gigi geraham dan sebuah tulang paha dari Homo erectus, hominid yang dianggap Dubois sebagai penghubung antara kera dan manusia.

Direktur Jenderal Museum Naturalis Marcel Beukeboom mengatakan, saran Komite yang menyeluruh telah menghasilkan wawasan hukum baru, yg menegaskan pengembalian artefak sebagai jalan yg benar.

“Kami berharap dapat melanjutkan kolaborasi penelitian kami dgn para ilmuwan Indonesia dgn antusiasme yg tak terpadamkan,” kata dia.

Fosil – fosik yang tersimpan di Belanda tersebut digali di Indonesia pada akhir abad ke-19 oleh Eugène Dubois. Dari hasil penelitiannya Komite Koleksi Kolonial menyimpulkan bahwa negara Belanda secara resmi tidak pernah menjadi pemilik koleksi Dubois. Komite berpendapat bahwa keadaan saat fosil tersebut diperoleh menunjukkan bahwa kemungkinan besar fosil tersebut diambil di luar kehendak masyarakat, yang mengakibatkan tindakan ketidakadilan terhadap mereka.

Menurut Komite, fosil2 tersebut memiliki nilai spiritual dan ekonomi bagi masyarakat setempat, yg dipaksa untuk mengungkapkan situs fosil. Karenanya, Komite merekomendasikan agar koleksi Dubois dikembalikan ke Indonesia tanpa syarat.

Ini adalah keenam kalinya Belanda mengembalikan artefak bersejarah berdasarkan saran Komite. Moes maupun Beukeboom tidak menjelaskan lebih terperinci kapan puluhan ribu koleksi Dubois akan dikembalikan ke Indonesia.

Moes menyatakan pengembalian ini sebagai komitmen Belanda untuk melaksanakan repatriasi koleksi kolonial secara bertanggung jawab. Fadli Zon menyambutnya sebagai langkah bersejarah yg memperkaya riset arkeologi nasional sekaligus mempererat kerjasama budaya.

“Koleksi Dubois kini pulang ke rumahnya, namun pintu ilmu pengetahuan dunia tetap terbuka. Indonesia kini berdiri sebagai subjek pengetahuan, bukan sekadar lokasi temuan,” kata Fadli.

Fadli menuturkan bahwa pengembalian koleksi Dubois ini merupakan hasil kerja panjang Tim Repatriasi Kementerian Kebudayaan yg sejak awal 2025 telah melakukan riset asal-usul dan perundingan intensif dgn Komite Koleksi Kolonial Belanda. Kementerian Kebudayaan RI juga telah menyusun rencana teknis pemindahan koleksi tersebut, yg telah disepakati dengan pemerintah Belanda melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Sains Belanda.

Kedua kementrian juga menyepakati pembentukan tim gabungan untuk mengamankan tahapan pemulangan, memperkuat kerjasama riset bersama pasca-pemulangan, inventarisasi, konservasi, publikasi ilmiah, pameran, digitalisasi, serta peningkatan kapasitas peneliti dan pengelola koleksi.

Harry Widianto, arkeolog di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyambut baik pengembalian fosil Homo erectus.

“Saat ini kita berbangga dgn holotipe Homo erectus yg telah kembali ke tanah asalnya setelah lebih dari satu abad merantau ke Eropa dan melengkapi secara signifikan koleksi temuan manusia purba Homo erectus di Pulau Jawa sebagai salah satu tempat evolusi manusia di dunia,” pungkas Harry