JatimSurabaya

Di Sepertiga Malam Terakhir: Gubernur Khofifah Menyapa Langit, Menguatkan Umat

×

Di Sepertiga Malam Terakhir: Gubernur Khofifah Menyapa Langit, Menguatkan Umat

Sebarkan artikel ini

KaMedia – Malam itu, langit Surabaya seakan lebih teduh dari biasanya. Di pelataran megah Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, puluhan ribu jemaah larut dalam keheningan yang khusyuk. Di antara mereka, tampak sosok Khofifah Indar Parawansa berdiri bersama Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak, menyatu dalam barisan hamba yang mencari ridha-Nya.

Malam ke-27 Ramadan 1447 Hijriah bukan sekadar penanda waktu. Ia adalah harapan, tentang turunnya Lailatul Qadar, tentang doa-doa yang melangit, dan tentang hati yang kembali bersih. Lebih dari 35 ribu jemaah berkumpul, menundukkan kepala dalam qiyamul lail, memohon ampun, dan merajut harap di penghujung Ramadan.

Dalam suasana yang penuh haru, Khofifah mengajak umat untuk tidak melewatkan sepuluh malam terakhir begitu saja. Baginya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang menyisir setiap detik dengan ibadah dan keikhlasan.

“Semoga Allah memberi kita kesempatan, kesehatan, dan keikhlasan untuk terus beribadah,” tuturnya lirih, namun penuh makna.

Namun malam itu, doa-doa tidak hanya dipanjatkan untuk diri sendiri. Dari Surabaya, Khofifah mengajak seluruh jemaah menengadahkan tangan untuk dunia, untuk kedamaian yang terasa semakin mahal. Ia menyebut konflik di Timur Tengah, berharap ketegangan segera mereda, agar bumi kembali tenang dan ibadah haji di Tanah Suci berjalan dengan aman.

Doa itu terasa begitu luas: dari sajadah-sajadah di Surabaya, harapan dikirimkan hingga ke Arab Saudi, tempat jutaan umat Islam akan bersimpuh dalam rukun Islam kelima.

Bagi Khofifah, kemampuan berhaji bukan sekadar soal materi. Ada dimensi lain yang tak kalah penting: keamanan, ketenangan, dan keselamatan. Sebab ibadah yang khusyuk lahir dari hati yang merasa aman.
Rangkaian ibadah malam itu diawali dengan muhasabah, dzikir, dan lantunan kalimat thayyibah yang dipimpin Achmad Muzakki.

Lalu berlanjut dengan salat tahajud, tasbih, hingga hajat, setiap gerakan seolah menjadi bahasa cinta antara hamba dan Tuhannya.
Usai air mata dan doa, suasana berubah hangat. Di selasar masjid, Khofifah duduk bersahaja bersama cucunya dan ribuan jemaah lainnya. Sahur sederhana terasa istimewa, terlebih ketika Pemerintah Provinsi Jawa Timur membagikan sekitar 10 ribu paket makanan.

“Selamat makan sahur semuanya,” ucapnya, menyapa dengan kehangatan seorang pemimpin yang hadir bukan hanya sebagai pejabat, tetapi juga sebagai bagian dari umat.

Malam itu, bukan sekadar kegiatan seremonial. Ia menjadi cermin tentang kepemimpinan yang merangkul spiritualitas, tentang pemerintah yang hadir di tengah umat, dan tentang Ramadan yang mengajarkan, bahwa dalam diamnya malam, ada kekuatan besar yang mampu mengubah dunia.

Dan di antara ribuan doa yang terucap, terselip satu harapan sederhana: semoga kita semua dipertemukan kembali dengan Ramadan, dalam keadaan yang lebih baik, lebih bersih, dan lebih dekat dengan-Nya.