KaMedia – Pertandingan lanjutan Championship 2025/2026 di Stadion Gelora Delta, Minggu (1/3/2026) malam, menjadi ajang pembuktian bahwa penguasaan bola tidak selalu sejalan dengan penguasaan nasib. Deltras FC dengan penuh percaya diri menjamu Barito Putera, namun harus menerima kenyataan pahit: tamu datang, tamu menang, tamu pulang membawa tiga poin.
Sejak kickoff 20.30 WIB, Deltras tampil agresif di hadapan pendukungnya sendiri. Serangan dibangun rapi, tekanan diciptakan bertubi-tubi, dan tendangan pojok berhasil dikoleksi dengan penuh kebanggaan. Sayangnya, gawang lawan tampaknya masih berstatus “coming soon” bagi lini depan tuan rumah.
Barito Putera yang sempat tertekan rupanya hanya sedang melakukan pemanasan. Pada menit ke-16, skema serangan balik cepat membuat pertahanan Deltras tersadar bahwa sepak bola juga soal kewaspadaan. Muchamad Wildan Ramdhani Nugraha sukses membobol gawang yang dijaga Panggih Prio Sembodho. Skor berubah 0-1, dan suasana stadion mendadak lebih hening dari grup keluarga saat topik warisan dibahas.
Belum sempat Deltras menyusun ulang napas, pada menit ke-29 Alexsandro Dos Santos Perreira menambah luka. Gol kedua lahir dengan efisiensi yang kontras dengan upaya tuan rumah. Skor 0-2 bertahan hingga turun minum, sekaligus menjadi pengingat bahwa efektif lebih penting daripada estetik.
Memasuki babak kedua, Deltras meningkatkan intensitas serangan. Bola terus mengalir, peluang terus hadir, dan harapan terus diproduksi massal. Namun rapatnya pertahanan Barito membuat setiap usaha hanya berakhir sebagai statistik. Hingga menit ke-63, papan skor tetap setia pada angka nol di sisi tuan rumah.
Menjelang menit ke-85, Deltras masih mencoba membongkar pertahanan lawan. Beberapa peluang kembali tercipta, dan kembali gagal. Tendangan gawang bagi Barito mungkin menjadi salah satu elemen permainan yang paling sering terlihat malam itu.
Hingga peluit panjang dibunyikan, skor 0-2 tak berubah. Barito Putera sukses mencuri poin penuh, sementara Deltras tampaknya perlu mengevaluasi satu hal penting: sepak bola bukan lomba siapa paling rajin menyerang, melainkan siapa paling rajin mencetak gol.











