KaMedia – Sambung Generasi Mataram (SGM) merupakan sebuah perkumpulan/paguyuban yang didirikan oleh beberapa keturunan trah pancer dari Raja Mataram ke-4 Sri Susuhunan Amangkurat Agung. Selanjutnya, diikuti dengan pendirian sebuah Yayasan bernama Yayasan Miluhuring Sayidin Arum (MSA).
Yayasan ini didirikan oleh beberapa orang yang sama dengan pendiri Perkumpulan/Paguyuban Sambung Generasi Mataram (SGM).
“Perkumpulan Sambung Generasi Mataram (SGM) yang sudah berbadan hukum tersebut, memiliki tagline JAGA BUDAYA yang berarti menjaga & melestarikan budaya . Sekaligus bertujuan mengumpulkan saudara-saudara para keturunan trah raja-raja nusantara,” seperti yang diungkapkan oleh salah satu pendiri Perkumpulan SGM & Yayasan Miluhuring Sayidin Arum, R. Novi Yudanegara, SH.
Tak hanya itu, perkumpulan SGM sebagai unit kerja Yayasan MSA memiliki misi membentuk kepengurusan di berbagai wilayah Provinsi & Kabupaten/Kota serta merekrut anggota baik dari kalangan darah biru maupun masyarakat umum yang concern terhadap budaya bangsa.
Adapula, menurut tim kebijakan pendiri Yayasan MSA, RT. Susilo Indrianto Projobudoyo, SPd, ST, MM dan R.Ngt.Selvie Novitasari, SH, MKN, program kerja Perkumpulan SGM nantinya akan lebih banyak menyentuh bidang edukasi & pembelajaran tentang kebudayaan bangsa, penyelenggaraan kegiatan budaya nusantara dan pelestariannya. Selain itu program kerja perkumpulan SGM juga akan menciptakan Leader & Sales Force yang kompeten dalam upaya peningkatan kesejahteraan anggotanya.
Seiring dengan adanya Perkumpulan SGM, Yayasan MSA sebagai induk organisasi-nya memiliki tugas dan fungsi sebagai supporting system dengan menciptakan berbagai unit usaha & produk. Nantinya akan dimanfaatkan oleh Perkumpulan SGM dalam mensejahterakan anggotanya. Harapannya bisa memupuk kemandirian dalam mendukung penyelenggaraan kegiatan budaya. Hal tersebut diungkapkan oleh Bendahara Umum Yayasan MSA, R.Ngt. Eischa Jayaningrat, SS.
“Ibarat-nya Perkumpulan SGM dan Yayasan MSA, seperti dua sisi mata uang, saling melengkapi dan saling support satu sama lainnya. Sisi satu-nya menciptakan kail usaha (Yayasan MSA), sementara sisi lainnya memanfaatkan kail tersebut untuk penyelenggaraan kegiatan budaya. Sekali lagi disesuaikan dengan tagline-nya JAGA BUDAYA,” pungkas Eischa Jayaningrat.






