HeadlineJatim

Jejak Fatima Al-Fihriya di Grahadi: Saat Kepemimpinan Perempuan Hadir Merangkul dan Memberdayakan

×

Jejak Fatima Al-Fihriya di Grahadi: Saat Kepemimpinan Perempuan Hadir Merangkul dan Memberdayakan

Sebarkan artikel ini
Penghargaan bergengsi edisi keenam ini menjadi bentuk penghormatan atas kiprah panjang Gubetnur Khofifah dalam menahkodai kepemimpinan perempuan, memperjuangkan kemanusiaan, dan menggerakkan pemberdayaan sosial / Foto : Pemprov Jatim

KaMedia – Ruang Utama Gedung Negara Grahadi, Surabaya, memancarkan kehangatan yang tak biasa pada Jumat (6/11) malam. Di tempat yang menjadi saksi bisu berbagai keputusan penting bagi Jawa Timur tersebut, nilai-nilai keteladanan seorang tokoh perempuan legendaris dunia kembali dihidupkan.

​Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa secara resmi menerima penganugerahan Fatima Al-Fihriya Award 2026. Penghargaan bergengsi edisi keenam ini menjadi bentuk penghormatan atas kiprah panjang Khofifah dalam menahkodai kepemimpinan perempuan, memperjuangkan kemanusiaan, dan menggerakkan pemberdayaan sosial.

Penghargaan internasional ini terselenggara atas kolaborasi Asosiasi Profesor Muslimat NU, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Programme MED 21, Association de Soutien au Programme MED 21, dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Tak sendiri, Khofifah menerima apresiasi ini berdampingan dengan empat tokoh perempuan inspiratif dunia lainnya, Ibu Negara RI periode 1999–2001 Sinta Nuriyah Wahid (advokasi kemanusiaan & gender), mantan Presiden Singapura Halimah Yacob (kepemimpinan & keadilan sosial), Bassima Hakkaoui dari Maroko (kebijakan sosial), serta Neziha Labidi dari Tunisia (hak perempuan & anak).

Ibu Negara RI periode 1999–2001 Sinta Nuriyah Wahid juga pernah menerima Fatima Al-Fihriya Award dan juga hadir secara khusus di Gedung Negara Grahadi dan mendapatkan sambutan hangat Gubernur Khofifah / Foto : Pemprov Jatim.

Saat melangkah menerima penghargaan, Khofifah memilih untuk melihat penganugerahan ini bukan sekadar pencapaian pribadi. Dengan penuh keharuan dan rasa syukur, ia mempersembahkan kehormatan tersebut kepada mereka yang selama ini bekerja sunyi di lapangan.

​“Kehormatan ini saya dedikasikan kepada para perempuan Jawa Timur dan Indonesia, kader Muslimat NU, kader organisasi wanita lainnya, serta para relawan sosial,” tutur Khofifah usai penerimaan penghargaan.

​Bagi Khofifah, pengabdian sejati terpancar dari ketulusan para ibu dan relawan yang menyapa masyarakat hingga ke pelosok. “Terima kasih atas pengabdian Ibu dan Saudara sekalian dalam mendampingi keluarga, membantu anak-anak melanjutkan pendidikan, dan hadir bagi masyarakat yang membutuhkan. Semoga semangat Fatima al-Fihriya terus membuka pintu ilmu dan kesempatan bagi perempuan di mana pun berada,” ungkapnya.

Khofifah lantas mengenang sosok Fatima al-Fihriya, wanita visioner yang lebih dari seribu tahun lalu mewakafkan seluruh hartanya untuk membangun Masjid al-Qarawiyyin di Fez, Maroko, ikhtiar mulia yang kelak menjelma menjadi salah satu universitas tertua di dunia.

​“Lebih dari 1.000 tahun lalu, Fatima al-Fihriya mewakafkan hartanya untuk mendirikan masjid. Kepedulian beliau berangkat dari kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Manfaatnya kemudian dirasakan para pencari ilmu jauh melampaui masa hidup beliau,” jelas Khofifah.

​Kisah tersebut, lanjut Khofifah, mengajarkan esensi terdalam dari kepemimpinan perempuan. Kepemimpinan bukan soal menduduki tahta, melainkan tentang keberanian membuka jalan agar perempuan lain bisa belajar, berdiri mandiri, dan berani menentukan masa depan mereka sendiri

Pengalaman berkhidmat di tengah-tengah warga bersama Muslimat NU, serta perjalanan panjang sebagai anggota DPR RI, Menteri Pemberdayaan Perempuan, Menteri Sosial, hingga Gubernur Jatim, menempa gaya kepemimpinan Khofifah menjadi begitu humanis dan mengakar.

​Ia menceritakan bagaimana para kader di lapangan memahami persis denyut kehidupan warga mulai dari keluarga yang kesulitan bertolak ke fasilitas kesehatan, anak yang terancam putus sekolah, hingga perempuan yang memikul beban ekonomi sendirian.

​“Kepercayaan warga tumbuh karena para kader hadir dan mendengarkan. Dari merekalah saya belajar bahwa mendengar dengan sungguh-sungguh merupakan bagian penting dari memimpin,” ujar Khofifah

Pengalaman itu yang terus melahirkan kebijakan konkret, salah satunya melalui program Kewirausahaan Inklusif Produktif Perempuan Tangguh Mandiri Jawa Timur Sejahtera (KIP Putri Jawara). Program ini menjangkau para perempuan tulang punggung keluarga agar berdaya secara ekonomi.

​Khofifah memegang teguh prinsip No One Left Behind, tidak boleh ada satu pun warga yang tertinggal, termasuk penyandang disabilitas dan masyarakat di daerah terpencil. Bagi Khofifah, kepemimpinan tak boleh sekadar bersandar pada lembaran laporan di meja kerja.

​“Tidak cukup hanya mengandalkan laporan perangkat daerah (OPD). Pemerintah perlu turun langsung memastikan jangkauan layanan benar-benar dirasakan masyarakat,” tegasnya.

Perwakilan lembaga pemberi penghargaan dari Forum Azzahra for Moroccan Women sekaligus Ketua Asosiasi Program Mediterania 21 dari Tunisia, Muhammad Al Arabi bin Athiyyah, menyampaikan rasa hormat dan terima kasih mendalam atas hangatnya sambutan serta fasilitasi Pemprov Jatim dalam helatan internasional ini.

​“Terima kasih kepada Ibu Khofifah yang telah memberikan fasilitas untuk mengadakan The Sixth Fatima Al-Fihriya Awards 2026. Penghargaan ini adalah bentuk penghormatan atas perjuangan seorang wanita yang mendirikan tempat ilmu. Semoga penganugerahan ini memantik semangat seluruh perempuan di dunia untuk terus berkarya,” kata Muhammad.

Melalui bentangan jaringan kolaborasi antarnegara, penganugerahan ini diharapkan menjadi ruang bertukar gagasan untuk memperluas akses pendidikan, memajukan wirausaha perempuan, dan memastikan setiap suara perempuan terdengar dalam pengambilan keputusan publik / Foto : Pemprov Jatim.

​Malam penganugerahan yang dihadiri oleh Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi, Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta, Ketua Asosiasi Profesor Muslimat NU Amany Lubis, serta jajaran Forkopimda Jatim itu ditutup dengan pesan optimisme. Melalui bentangan jaringan kolaborasi antarnegara, penganugerahan ini diharapkan menjadi ruang bertukar gagasan untuk memperluas akses pendidikan, memajukan wirausaha perempuan, dan memastikan setiap suara perempuan terdengar dalam pengambilan keputusan publik.