KaMedia – Catatan waktu 10,97 detik di nomor 100 meter sudah cukup bagi Achmad Febrian Dwi Wibowo untuk mengunci gelar juara di Piala Panglima. Namun, bagi sprinter muda asal Kabupaten Sidoarjo ini, medali emas tersebut hanyalah salah satu pijakan awal dari ambisi yang jauh lebih besar: menggebrak panggung internasional.
Langkah lompatan Febrian terbilang melesat pesat. Berawal dari Unjuk Gigi di Kejuaraan Daerah (Kejurda) KONI Jawa Timur di Surabaya, performa impresifnya langsung memikat pemandu bakat hingga membawanya memperkuat kontingen Jatim pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) di Solo
“Sebenarnya saya mengikuti Kejurda dulu di KONI Jatim, Surabaya. Terus dipanggil Tim Jatim buat mewakili Jawa Timur di Kejurnas Solo,” kenang Febrian.
Siapa sangka, di balik konsistensi torehan prestasinya, ada porsi latihan ekstrem yang ia jalani secara mandiri. Demi memangkas sepersekian detik di lintasan lari, Febrian menggembleng fisiknya hingga tiga kali dalam sehari.
”Latihan rutin sehari dua kali, kadang sampai tiga kali, saya nambah-nambah sendiri porsinya,” tegasnya.
Kerja keras tanpa kompromi itu membuahkan rekor pribadi (Personal Best) yang tergolong mengerikan di level nasional. Febrian sukses mencatatkan rekor waktu 10,53 detik di nomor 100 meter. Tak berhenti di situ, ia juga membuktikan dominasinya di nomor 200 meter dengan catatan waktu rentang 21 detik.
Meski sudah menembus angka 10,53 detik, rasa lapar Febrian akan prestasi belum terpuaskan. Target berikutnya adalah melampaui batas kemampuannya sendiri.
”Catatan 10,53 detik itu yang terbaik bagi saya saat ini, tapi saya masih mau mengejar lagi. Personal Best berikutnya saya inca 10,4 kecil,” ujarnya optimistis.
Kini, buah manis dari kedisiplinan itu membawanya ke gerbang panggung dunia. Febrian tengah bersiap menanggalkan seragam daerahnya untuk mengenakan jersey Merah-Putih di arena internasional.
“Insyaallah saya mau berlaga ke Vietnam, sekarang tinggal menunggu surat resminya,” tutup sang sprinter penuh keyakinan.











