Jatim

Dari Raudhah, Gubernur Khofifah Mengajak Umat Meneladani Cahaya Ilmu Sayyidah Aisyah

×

Dari Raudhah, Gubernur Khofifah Mengajak Umat Meneladani Cahaya Ilmu Sayyidah Aisyah

Sebarkan artikel ini
Gubernur Khofifah ketika mendapat kesempatan beribadah di Raudhah Asy-Syarifah, Masjid Nabawi, Madinah, Rabu (23/9) / Foto : Pemprov Jatim.

KaMedia – Di salah satu tempat paling mulia di Masjid Nabawi doa-doa dipanjatkan dengan penuh harap. Di antara pilar-pilar bersejarah yang menjadi saksi perjalanan dakwah Rasulullah SAW, ada satu nama yang terus mengingatkan umat Islam pada sosok perempuan dengan keluasan ilmu: Sayyidah Aisyah RA.

Suasana spiritual itulah yang dirasakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa ketika mendapat kesempatan beribadah di Raudhah Asy-Syarifah, Masjid Nabawi, Madinah, Rabu (23/9).

“Alhamdulillah, kami mendapat kesempatan cukup waktu di Raudhah,” ujar Khofifah.

Raudhah dikenal sebagai salah satu tempat yang sangat diharapkan dapat dikunjungi dan digunakan untuk beribadah oleh jamaah haji maupun umrah. Di tempat yang diyakini sebagai salah satu lokasi mustajab untuk berdoa itu, Khofifah mengajak umat tidak sekadar memperbanyak ibadah, tetapi juga menghayati sejarah dan keteladanan yang melekat di dalamnya.

Perhatiannya tertuju pada salah satu pilar bersejarah yang dikenal sebagai Tiang Aisyah atau Ustuwanah Aisyah. Tiang tersebut menjadi pengingat akan sosok Sayyidah Aisyah RA, istri Rasulullah SAW yang juga memiliki kedudukan penting dalam sejarah keilmuan Islam.

Sayyidah Aisyah bukan hanya dikenal sebagai Ummul Mukminin. Sepeninggal Rasulullah SAW, beliau menjadi salah satu rujukan penting umat dalam memahami ajaran Islam. Banyak hadis diriwayatkan melalui beliau, sementara pengetahuan dan pemahamannya tentang kehidupan Rasulullah menjadi sumber ilmu bagi generasi setelahnya.

“Di tempat mulia ini kita diingatkan kembali bagaimana Rasulullah begitu memuliakan dan mencintai Sayyidah Aisyah RA. Beliau adalah sosok perempuan yang luar biasa penguasaan keilmuannya, yang kemudian menjadi salah satu sumber ilmu bagi umat Islam,” kata Khofifah.

Ia kemudian mengutip ungkapan yang populer dinisbatkan kepada Rasulullah SAW mengenai keutamaan mengambil ilmu dari Sayyidah Aisyah.

“Khudz min nisfi dinikum min hadzihil humairo,” ujar Khofifah, yang dimaknai sebagai ajakan mengambil ilmu agama dari sosok Sayyidah Aisyah RA

Bagi Khofifah, Tiang Aisyah bukan sekadar bagian dari bangunan bersejarah di Raudhah. Pilar itu menghadirkan kembali kenangan spiritual yang pernah dialaminya sekitar dua tahun lalu.

Saat itu, seorang syarifah menunjukkan kepadanya Tiang Aisyah. Tidak hanya itu, perempuan tersebut memberikan tempat salatnya kepada Khofifah dan mengajaknya berdoa untuk kedua orang tua agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Kenangan tersebut kembali hadir ketika Khofifah berada di Raudhah kali ini.

Tiang Aisyah sendiri merupakan salah satu pilar bersejarah di kawasan Raudhah. Berdasarkan keterangan Saudipedia, tiang tersebut juga dikenal sebagai Tiang Al-Qur’ah. Penamaannya berkaitan dengan riwayat Sayyidah Aisyah RA mengenai tempat salat yang memiliki keutamaan di Masjid Nabawi.

Di balik kisah sebuah tiang, tersimpan pesan yang lebih besar tentang ilmu yang diwariskan, keteladanan yang dijaga, dan peran seorang perempuan dalam perjalanan panjang tradisi keilmuan Islam.

“Di sini kita juga belajar kembali meneladani Sayyidah Aisyah RA sebagai uswatun hasanah. Sungguh begitu tingginya Rasulullah memuliakan Sayyidah Aisyah RA,” ungkap Khofifah.

Kisah kehidupan Rasulullah SAW bersama Sayyidah Aisyah RA juga, menurut Khofifah, menyimpan pelajaran penting tentang bagaimana membangun kehidupan keluarga.

Cinta, penghormatan, dan kelembutan bukan sekadar nilai yang disampaikan dalam nasihat, tetapi juga tercermin dalam kehidupan Rasulullah SAW bersama keluarganya.

Dari Raudhah, pesan itu terasa semakin dekat: bahwa kemuliaan sebuah keluarga tidak hanya dibangun dengan kasih sayang, tetapi juga dengan penghormatan terhadap pasangan, kelembutan dalam berinteraksi, serta kesediaan untuk saling memuliakan.

Khofifah berharap kesempatan berada di Raudhah tidak berhenti sebagai pengalaman spiritual sesaat. Nilai-nilai yang ditemukan di tempat mulia itu, kata dia, semestinya dibawa pulang dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Terlebih, kesempatan untuk berada di Raudhah bagi jamaah memiliki waktu yang terbatas.

” Saat mendapatkan kesempatan masuk dan berada di tempat yang mulia ini, sebaiknya kita isi dengan ibadah, salat sunah, berdzikir, berdoa dan jika dimungkinkan membaca Al-Qur’an. Mengingat kesempatan bagi jamaah di Raudhah tidak bisa lama,” pesannya.

Pada akhirnya, perjalanan ke Raudhah bukan hanya tentang menjejakkan kaki di sebuah tempat bersejarah. Ia juga menjadi kesempatan untuk kembali menengok jejak kehidupan Rasulullah SAW dan orang-orang terdekat beliau.

Dari sana, Khofifah mengajak umat membawa pulang satu pelajaran sederhana namun mendalam: menjadikan ilmu sebagai jalan kemuliaan dan kasih sayang sebagai bahasa dalam keluarga.

” Semoga kita bisa mengambil keteladanan dari Rasulullah SAW dalam memperlakukan keluarga dengan penuh kasih sayang, penghormatan dan kelembutan,” pungkasnya.