KaMedia – Hidrogen, X-Bow, dan material karbon menjadi senjata tim Hydromodelling–Arkana ITS untuk merancang kapal lepas pantai yang nyaris tanpa emisi. Hasilnya? Juara 2 dalam kompetisi desain kapal tingkat internasional.
Ketika industri maritim dunia dituntut semakin hijau, tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) justru memilih tantangan yang tidak sederhana: merancang kapal lepas pantai bertenaga hidrogen dengan emisi karbon mendekati nol.
Terobosan tersebut mengantarkan kolaborasi tim riset Hydromodelling dan Arkana ITS meraih Juara 2 Dr James A Lisnyk Student Ship Design Competition 2026, kompetisi desain kapal internasional yang diselenggarakan oleh The Society of Naval Architects & Marine Engineers (SNAME), organisasi profesi yang bermarkas di Amerika Serikat (AS).
Kompetisi yang berlangsung secara daring sejak Maret hingga Juni 2026 itu menguji lebih dari sekadar kreativitas desain. Peserta dituntut menghasilkan rancangan yang inovatif, realistis, feasible, dan dapat dipertanggungjawabkan secara teknis melalui perhitungan.
Staf Ahli Divisi Desain Tim Hydromodelling ITS, Farizha Habibie, menjelaskan bahwa peserta harus benar-benar menerapkan ilmu naval architecture yang diperoleh di bangku kuliah.
“Inovasi yang diusulkan juga harus bisa diterapkan pada desain kapal dan dibuktikan lewat perhitungan,” paparnya.
Tim ITS menghadirkan desain kapal bernama Flying Dutchman, kapal yang diproyeksikan untuk mendukung operasi lepas pantai dan laut dalam, termasuk di perairan Natuna.
Kapal tersebut memiliki length of perpendicular 90 meter, lebar 20 meter, tinggi 8 meter, dan sarat air 6,4 meter. Dengan kecepatan dinas 14 knot, kapal ini mempunyai bobot mati hingga 4.000 ton dan mampu membawa muatan mencapai 3.600 metrik ton.
Muatan yang dibawa pun bukan sembarangan. Flying Dutchman dirancang untuk mengangkut modul struktur bawah laut, logistik rig, peralatan inspeksi dan perbaikan pipa, hingga fluida pengeboran.
Tim mengusulkan sistem hybrid fuel engine berbasis hidrogen. Hidrogen bertekanan tinggi dialirkan langsung ke mesin dual-fuel untuk dibakar dan memutar generator listrik. Energi listrik tersebut kemudian digunakan untuk menggerakkan motor propulsi azimuth thruster sekaligus menyuplai kebutuhan seluruh peralatan misi bawah kapal.
“Melalui integrasi hidrogen ini, kapal dapat beroperasi 12–20 hari di Natuna dan emisi karbon mendekati nol,” ungkap Farizha.
Teknologi tersebut memang masih menghadapi tantangan untuk diterapkan secara luas pada kapal komersial. Justru di situlah keberanian desain Flying Dutchman diuji: mendorong teknologi maritim keluar dari zona nyaman menuju masa depan yang lebih bersih.
Untuk mengurangi hambatan sekaligus meningkatkan stabilitas, Flying Dutchman menggunakan desain lambung X-Bow. Sementara itu, struktur atas kapal memanfaatkan material komposit Carbon Fiber Reinforced Polymer (CFRP).
Penggunaan CFRP ditujukan untuk mengurangi bobot di bagian atas kapal. Bobot yang lebih ringan di area tersebut membuat stabilitas kapal menjadi lebih baik sekaligus meningkatkan ketahanan terhadap korosi akibat lingkungan laut.
” Inovasi ini menjawab owner requirements karena sesuai standar resmi dan data perhitungan yang valid,” ucap Farizha.
Kemenangan tersebut memperlihatkan bahwa inovasi mahasiswa Indonesia mampu ikut berbicara dalam percakapan global mengenai masa depan industri maritim industri yang kini menghadapi tuntutan besar untuk menjadi lebih efisien, tangguh, dan rendah emisi.
Melalui kompetisi ini, Farizha berharap inovasi Flying Dutchman dapat memberikan dampak lebih luas bagi dunia perkapalan dan maritim global.
” Semoga tim kami nantinya mampu terus membawa nama Indonesia lebih harum lagi,” tutupnya.
Capaian Hydromodelling dan Arkana ITS sekaligus sejalan dengan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau, SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.
Dari Natuna ke panggung dunia, Flying Dutchman membawa satu pesan: masa depan kapal tidak harus selalu identik dengan emisi tinggi. Dan mahasiswa ITS baru saja membuktikan bahwa masa depan itu bisa mulai dirancang dari ruang kuliah.











