KaMedia – Setiap tahun kita mengibarkan bendera merah putih dengan dada membusung. Lagu kebangsaan dinyanyikan, upacara digelar, pidato tentang kemerdekaan disampaikan dengan suara lantang. Kita merayakan kebebasan seolah negeri ini telah sepenuhnya merdeka. Namun ada pertanyaan yang seharusnya tidak kita bungkam, merdeka dari apa, jika rakyat masih dijajah oleh korupsi?
Ironinya, bangsa yang dahulu melawan penjajahan dengan darah dan nyawa kini harus berhadapan dengan penjajahan dalam bentuk yang lebih licin. Tidak ada kapal perang asing. Tidak ada tentara penjajah yang berdiri di depan rumah. Yang menggerogoti negeri justru sering kali mereka yang mengenakan pakaian resmi, duduk di kursi kekuasaan, dan bersumpah di depan kitab suci untuk mengabdi kepada rakyat.
Korupsi bukan sekedar tindakan mencuri uang negara. Korupsi adalah perampokan terhadap masa depan. Ketika anggaran pendidikan dikorupsi, yang dicuri bukan hanya angka dalam laporan keuangan, tetapi kesempatan anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Ketika dana kesehatan diselewengkan, yang dirampok bukan sekadar uang, melainkan keselamatan manusia. Ketika proyek publik dikorupsi, rakyat dipaksa membayar mahal untuk pembangunan yang kualitasnya sengaja dibuat buruk.
Lalu kita bertanya, di mana kemerdekaan?
Kemerdekaan tidak cukup hanya dengan bebas dari penjajahan bangsa lain. Kemerdekaan seharusnya berarti rakyat bebas dari ketakutan, ketidakadilan, kemiskinan yang dipelihara, serta kekuasaan yang memperkaya diri sendiri. Jika hukum tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas, jika jabatan dapat menjadi jalan menuju kekayaan pribadi, dan jika kejujuran justru dianggap sebagai kebodohan, maka kemerdekaan kita masih menyisakan ironi besar.
Yang lebih menyedihkan, korupsi sering kali tidak lagi dianggap sebagai aib luar biasa. Skandal datang, masyarakat marah, berita ramai beberapa hari, lalu semuanya kembali normal. Kita terbiasa melihat pejabat ditangkap, uang disita, hukuman dijatuhkan, kemudian kasus berikutnya muncul. Seolah korupsi telah menjadi penyakit kronis yang hanya diobati ketika kambuh, bukan diberantas dari akarnya.
Di sisi lain, rakyat diminta untuk bersabar. Diminta taat aturan. Diminta membayar pajak. Diminta percaya kepada negara. Semua itu memang penting. Tetapi kepercayaan tidak dapat dibangun dengan slogan. Kepercayaan lahir dari keteladanan.
Negeri ini tidak kekurangan aturan. Yang sering kekurangan adalah keberanian untuk menegakkannya tanpa pandang bulu.
Merdeka seharusnya membuat kekuasaan tunduk kepada hukum, bukan hukum tunduk kepada kekuasaan. Merdeka seharusnya membuat jabatan menjadi amanah, bukan kesempatan untuk menumpuk kekayaan. Merdeka seharusnya membuat rakyat menjadi pemilik negara, bukan sekadar penonton yang menyaksikan uang mereka berpindah ke kantong segelintir orang.
Karena itu, setiap kali bendera merah putih berkibar, jangan hanya bertanya apakah kita sudah merdeka dari penjajah. Tanyakan pula apakah kita sudah merdeka dari keserakahan, penyalahgunaan kekuasaan, dan korupsi.
Jika jawabannya belum, maka perayaan kemerdekaan harus menjadi lebih dari sekadar seremoni.
Sebab bangsa yang merdeka bukan bangsa yang hanya mampu mengusir penjajah dari tanahnya. Bangsa yang benar-benar merdeka adalah bangsa yang mampu mengusir korupsi dari kekuasaannya.
Dan selama korupsi masih diberi ruang untuk hidup, kemerdekaan kita akan selalu menyimpan ironi, bendera memang berkibar di langit yang bebas, tetapi rakyat masih harus berjuang membebaskan negerinya dari para perampok yang bersembunyi di balik kekuasaan.
Penulis : Hermawan Priyono ( Jurnalis )











