KaMedia – Komisi D DPRD Kota Surabaya meninjau langsung operasional Sekolah Rakyat di kawasan Kedung Cowek, Selasa. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan sarana, prasarana, serta sistem pembelajaran di sekolah berasrama yang baru diserahterimakan dan akan menjadi tempat pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.
Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Dr. Michael Leksodimulyo, MBA, M.Kes, menilai Sekolah Rakyat memiliki konsep yang tidak hanya berfokus pada pendidikan akademik, tetapi juga membangun karakter, kedisiplinan, dan kemandirian peserta didik.
” Sekolah Rakyat ini bukan sekadar tempat belajar, tetapi menjadi wadah pembentukan karakter. Anak-anak dibiasakan hidup disiplin, menjaga kebersihan, bertanggung jawab, dan memiliki integritas. Harapannya, mereka tumbuh menjadi generasi unggul yang mampu melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi dan kelak mengangkat kesejahteraan keluarganya,” ujar Dr. Michael usai peninjauan.
Dalam kunjungan tersebut, Komisi D melihat berbagai fasilitas yang telah disiapkan untuk mendukung proses pendidikan. Para siswa mendapatkan asrama yang layak, ruang belajar yang representatif, serta jaminan kebutuhan makan sebanyak tiga kali sehari.
Selain itu, pembinaan spiritual juga menjadi bagian penting dalam kurikulum. Siswa Muslim dijadwalkan mengikuti kegiatan mengaji secara rutin, sedangkan siswa non-Muslim memperoleh fasilitas pembinaan sesuai agama masing-masing.
Menurut Dr. Michael, pembentukan karakter dilakukan melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Para siswa didorong untuk membersihkan kamar, menjaga lingkungan asrama, hingga merawat ruang belajar secara mandiri. Budaya keteladanan juga diterapkan oleh para guru dan pembimbing yang ikut melaksanakan piket kebersihan.
” Pendidikan karakter tidak cukup hanya diajarkan di kelas. Anak-anak harus melihat langsung contoh yang diberikan oleh para pendidik. Dari kebiasaan sederhana seperti menjaga kebersihan dan disiplin waktu, nilai-nilai kepemimpinan serta tanggung jawab akan tumbuh dengan sendirinya,” katanya.
Tak hanya itu, pembinaan kedisiplinan juga melibatkan pembina dari Taruna Angkatan Laut yang memberikan pelatihan mengenai kedisiplinan, kepemimpinan, serta semangat kebangsaan kepada para siswa.
Meski mengapresiasi konsep dan fasilitas Sekolah Rakyat, Dr. Michael menyampaikan beberapa masukan agar pelaksanaan program dapat berjalan lebih optimal.
Ia menilai fasilitas Unit Kesehatan Sekolah (UKS) masih perlu dilengkapi untuk mengantisipasi kebutuhan kesehatan siswa yang tinggal di asrama.
Selain itu, ia juga mengusulkan adanya tenaga kebersihan khusus untuk area luar sekolah sehingga siswa dapat lebih fokus belajar bertanggung jawab terhadap kebersihan area dalam asrama dan ruang belajar.
Dr. Michael juga menyoroti rasio pembimbing yang saat ini masih cukup tinggi, yakni sekitar satu pembimbing menangani lebih dari 20 anak. Menurutnya, kondisi ideal adalah satu pembimbing mendampingi maksimal 15 siswa agar proses pembinaan berjalan lebih efektif.
” Pendampingan menjadi faktor yang sangat penting, terutama bagi anak-anak usia sekolah dasar yang masih dalam masa adaptasi tinggal jauh dari orang tua. Karena itu, jumlah pembimbing dan pola pendampingan emosional perlu terus diperkuat,” ungkapnya.
Sekolah Rakyat merupakan program strategis nasional yang digagas Kementerian Sosial RI bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Sosial. Program ini ditujukan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu agar memperoleh pendidikan yang berkualitas sekaligus pembinaan karakter secara menyeluruh.
Dr. Michael berharap program tersebut mampu menjadi instrumen nyata dalam memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
” Jika anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, karakter yang kuat, dan kesempatan yang sama untuk berkembang, maka mereka akan memiliki masa depan yang lebih baik. Inilah investasi jangka panjang untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas sekaligus mengangkat kesejahteraan keluarga prasejahtera di Surabaya,” pungkasnya.











