KaMedia – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa optimistis komoditas kopi dan kakao Jawa Timur memiliki peluang besar untuk bersaing di pasar global. Menurutnya, penguatan hilirisasi, peningkatan kualitas produk, serta kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing sekaligus kesejahteraan petani.
Hal itu disampaikan Khofifah saat menutup Java Coffee & Flavor Festival (JCFF) 2026 bersama Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta di Alun-Alun Surabaya, Minggu (19/7) malam.
Penutupan festival turut dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Ibrahim, Anggota Komisi XI DPR RI Eric Hermawan dan Thoriq Majiddanor, Ketua Dekranasda Jawa Timur Arumi Bachsin Emil Dardak, serta pelaku usaha, eksportir, petani, akademisi, UMKM, hingga komunitas kopi dan kakao.
Mengusung tema “From Local Flavors to Global Horizon”, festival yang berlangsung pada 17–19 Juli 2026 itu menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, lembaga keuangan, akademisi, dan pembeli dari dalam maupun luar negeri untuk memperkuat ekosistem kopi dan kakao Jawa Timur.
” JCFF bukan sekadar festival atau ajang promosi produk. Ini adalah ruang kolaborasi yang mempertemukan petani, UMKM, dunia usaha, perbankan, akademisi hingga buyer dari dalam dan luar negeri untuk bersama-sama membangun ekosistem kopi dan kakao Jawa Timur yang semakin berdaya saing,” ujar Khofifah.
Menurut Khofifah, keunggulan kopi Jawa Timur tidak hanya terletak pada besarnya produksi, tetapi juga pada kekayaan cita rasa yang dipengaruhi karakter geografis setiap daerah. Karena itu, strategi pengembangan sektor perkebunan tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan produksi, melainkan harus diarahkan pada hilirisasi, pengolahan, branding, sertifikasi, dan perluasan akses pasar internasional.
Ia menilai tren konsumsi global yang mulai mengarah pada produk berkelanjutan dan bercita rasa premium menjadi peluang besar bagi kopi Jawa Timur untuk semakin diterima di pasar dunia.
“Ini tentu menjadi peluang besar bagi Jawa Timur untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu sentra kopi unggulan Indonesia,” katanya.
Khofifah menjelaskan, Indonesia saat ini menjadi salah satu dari empat produsen kopi terbesar di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia dengan kontribusi sekitar tujuh persen terhadap produksi kopi dunia.
Di tingkat nasional, Jawa Timur termasuk lima provinsi penghasil kopi terbesar dengan produksi mencapai 80.895 ton. Produksi tersebut ditopang oleh sentra utama di Kabupaten Malang, Banyuwangi, Bondowoso, dan Situbondo.
Selain itu, Jawa Timur memiliki luas perkebunan kopi rakyat sekitar 123.720 hektare yang tersebar di Malang, Banyuwangi, Bondowoso, Jember, dan Situbondo.
Tak hanya kopi, Khofifah mengatakan produksi kakao Jawa Timur juga terus meningkat. Pengembangan dilakukan melalui klasterisasi di sejumlah daerah seperti Blitar, Madiun, Trenggalek, dan Pacitan.
” Kopi dan kakao adalah dua agrokomoditas unggulan yang siap terus ditingkatkan daya saingnya guna menjamin stabilitas pendapatan para petani,” ujarnya.
Meski demikian, Khofifah mengingatkan persaingan pasar global semakin ketat. Karena itu, peningkatan produktivitas harus diikuti dengan perbaikan mutu, standardisasi produk, sertifikasi, inovasi pengolahan, hingga penguatan pemasaran digital.
Ia menegaskan, penguatan daya saing kopi dan kakao tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, Bank Indonesia, pelaku usaha, akademisi, lembaga keuangan, dan petani.
Khofifah juga mengapresiasi peran Bank Indonesia, khususnya Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, yang selama ini mendukung korporatisasi petani, digitalisasi sistem pembayaran, penguatan pembiayaan, hingga pembukaan akses ekspor melalui penyelenggaraan JCFF.
“Saya menyampaikan terima kasih kepada Bank Indonesia yang terus menjadi mitra strategis dalam memperkuat ekosistem kopi dan kakao Jawa Timur. Sinergi seperti inilah yang harus terus diperkuat agar petani memperoleh nilai tambah yang semakin besar,” katanya.
Ia berharap JCFF terus berkembang menjadi agenda strategis yang mampu mempercepat hilirisasi sektor perkebunan sekaligus memperluas jejaring perdagangan internasional.
Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta menilai JCFF 2026 semakin memperkuat ekosistem kopi dan kakao nasional.
Menurutnya, tema “From Local Flavors to Global Horizon” mencerminkan komitmen bersama untuk membawa komoditas unggulan Indonesia menembus pasar dunia melalui peningkatan kualitas, inovasi, dan kolaborasi.
Filianingsih menyebut produksi kopi, kakao, dan teh di Pulau Jawa sepanjang 2024 tetap terjaga pada kisaran 220.000–250.000 ton, dengan Jawa Timur sebagai sentra utama produksi kopi dan kakao di Pulau Jawa.
“Semoga JCFF terus berperan dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan UMKM serta memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian Indonesia,” ujar Filianingsih.











