KaMedia – Meningkatnya angka perceraian di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) menjadi perhatian serius. Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Timur menilai penguatan ketahanan keluarga, optimalisasi peran orang tua, serta komunikasi yang sehat menjadi kunci menekan perceraian yang berdampak langsung terhadap tumbuh kembang anak.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Shodiqin, mengatakan pencegahan perceraian harus dimulai sejak sebelum pasangan membangun rumah tangga. Karena itu, BKKBN memperkuat berbagai program pembangunan keluarga, mulai dari edukasi bagi calon pengantin hingga layanan konsultasi keluarga berbasis digital melalui siapbahagia.com.
“Yang kami lakukan adalah membangun ketahanan keluarga sejak awal. Edukasi diberikan kepada calon pengantin melalui kerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag), termasuk terkait pendewasaan usia perkawinan, kesiapan mental, ekonomi, hingga kesiapan reproduksi,” ujar Shodiqin menjelaskan.
BKKBN Jatim kini menjalankan sejumlah program strategis, di antaranya GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting), TAMASYA (Taman Asuh Sayang Anak), GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia), SIDAYA (Lansia Berdaya), serta pengembangan Super Apps Keluarga yang menghadirkan layanan konsultasi keluarga berbasis kecerdasan buatan (AI).
Selain itu, penguatan Program Bangga Kencana juga terus dilakukan melalui Kampung KB dan GEMATI (Gerakan Edukasi dan Pendampingan Inti Keluarga) sebagai upaya menciptakan keluarga yang tangguh, harmonis, dan berkualitas.
Menurut Shodiqin, terdapat dua aspek utama yang perlu menjadi perhatian untuk menekan tingginya angka perceraian, khususnya di kalangan ASN.
Pertama, penguatan kembali peran ayah dan ibu di dalam keluarga. Di tengah semakin banyaknya perempuan yang menduduki jabatan strategis dan tingginya tuntutan pekerjaan yang dihadapi laki-laki, tanggung jawab sebagai orang tua tidak boleh terabaikan.
“Perempuan saat ini banyak yang menduduki jabatan strategis, begitu juga laki-laki yang memiliki tuntutan pekerjaan tinggi. Namun, peran sebagai ayah dan ibu dalam keluarga tidak boleh dilupakan. Nilai-nilai tersebut perlu terus digaungkan,” ungkapnya.
Faktor kedua adalah komunikasi dalam keluarga. Kesibukan ASN yang kerap disibukkan pekerjaan maupun penugasan luar daerah dinilai berpotensi mengurangi intensitas interaksi dengan pasangan dan anak apabila tidak diimbangi komunikasi yang terbuka.
“Komunikasi menjadi sangat penting. Hal-hal kecil sekalipun perlu disampaikan. Ketika komunikasi berjalan baik, akan tumbuh saling memahami dan saling mendukung di dalam keluarga,” imbuhnya.
Shodiqin juga mengingatkan bahwa dampak perceraian tidak berhenti pada pasangan suami istri, tetapi turut dirasakan anak. Tingginya angka perceraian berisiko memicu fenomena fatherless, yakni kondisi ketika anak kehilangan figur dan keterlibatan ayah dalam proses pengasuhan maupun tumbuh kembangnya.
Untuk memperkuat peran orang tua, BKKBN mengembangkan program Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) yang telah diterapkan hingga tingkat RW di Kota Surabaya. Dalam program tersebut, keterlibatan ayah menjadi salah satu syarat utama.
“Dalam salah satu modul, ayah wajib hadir dan terlibat. Kami ingin memastikan bahwa pengasuhan anak bukan hanya tanggung jawab ibu, tetapi juga membutuhkan peran aktif ayah,” tegas Shodiqin.
Sementara itu, Sekretaris Pokja II Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Timur sekaligus Humas Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Aulia Dikmah Kiswahono, menekankan pentingnya memperkuat ketahanan keluarga melalui penerapan delapan fungsi keluarga.
Menurutnya, keluarga yang mampu menjalankan fungsi keagamaan, kasih sayang, reproduksi, pendidikan, perlindungan, sosial budaya, ekonomi, dan pembinaan lingkungan akan memiliki fondasi yang lebih kokoh dalam menghadapi berbagai persoalan rumah tangga.
“Fungsi keagamaan menjadi dasar yang sangat penting. Ketika nilai-nilai keluarga dijalankan dengan baik, maka ketahanan keluarga akan semakin kokoh dan berbagai persoalan, termasuk masalah ekonomi, dapat dihadapi bersama tanpa harus berujung pada perceraian,” ujarnya.
Melalui berbagai program pembangunan keluarga tersebut, BKKBN bersama Tim Penggerak PKK Jawa Timur berharap mampu memperkuat ketahanan keluarga sejak dini, menekan angka perceraian, sekaligus melahirkan generasi yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sehat, harmonis, dan penuh kasih sayang.











