HeadlineJatim

Pameran Turots Muktamar ke-35 NU, Ikhtiar Menghidupkan Kembali Mata Rantai Keilmuan Ulama Nusantara

×

Pameran Turots Muktamar ke-35 NU, Ikhtiar Menghidupkan Kembali Mata Rantai Keilmuan Ulama Nusantara

Sebarkan artikel ini

KaMedia – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Wakil Rais Aam Syuriah PBNU KH Afifuddin Muhajir dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi meresmikan Pameran dan Klinik Turots, rangkaian Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8).

Hadir pula Rais Syuriah PBNU KH Syadid Jauhari, tim Nahdlatut Turots, serta sejumlah kepala OPD Pemprov Jawa Timur. Pameran ini menjadi ruang temu antara khazanah intelektual ulama Nusantara dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masa kini.

Di hadapan para ulama, tokoh NU, muktamirin dari berbagai daerah, perwakilan PCI NU dari mancanegara, dan ulama dunia, Khofifah menegaskan bahwa turots bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan mata rantai keilmuan yang harus terus dihidupkan.

Turots bukan sekadar peninggalan, tetapi warisan mata rantai keilmuan ulama Nusantara yang harus dihidupkan, dikaji dan dikembangkan supaya menjadi referensi bagi dunia.” kata Khofifah.

Pameran menghadirkan beragam naskah kuno ulama dari pesantren Nusantara, katalog naskah pesantren, sejarah NU dari masa ke masa, galeri ke-NU-an, jejak aksara Nusantara, ragam manuskrip pesantren, hingga karya ulama Nusantara dan Masayikh PBNU.

Sementara di Klinik Turots, pengunjung dapat berkonsultasi mengenai naskah, menyaksikan proses digitalisasi, serta melihat langsung teknologi restorasi manuskrip.

Khofifah menilai khazanah pemikiran ulama Nusantara memiliki kedalaman keilmuan yang luar biasa dan tetap relevan untuk menjawab persoalan kontemporer. Karena itu, manuskrip dan karya ulama Nusantara harus digali melalui preservasi, digitalisasi, penerbitan, kajian, dan penguatan jejaring internasional.

” Peradaban dunia itu rasanya bisa berkiblat ke Indonesia terutama Jawa Timur.” lanjut Khofifah.

Menurut Khofifah, Jawa Timur memiliki kekayaan tradisi Islam yang dapat menjadi rujukan dunia, khususnya dalam praktik Islam yang mengedepankan moderasi dan mampu hidup berdampingan dalam keberagaman.

Ia mengisahkan pengalamannya menemukan inovasi preservasi manuskrip dalam sebuah expo inovasi pada 2019. Teknologi tersebut memungkinkan kertas manuskrip yang lapuk diperkuat sekaligus membuat tulisan yang sebelumnya tidak terbaca kembali terlihat.

” Kertas yang lapuk itu kalau dikasih tisu kemudian dikasih jeli dengan kualifikasi khusus, maka bisa kembali baik lagi kondisinya dan jadi lebih kuat. Dan tulisan yang tidak tampak itu jadi tampak.” lanjut Khofifah.

Upaya tersebut kemudian dikembangkan melalui kerja sama dengan KBRI di Riyadh. Ketika karya-karya ulama Nusantara dipamerkan di sana, respons dari diplomat, pemerintah, dan kalangan akademisi setempat disebut sangat positif.

” Mereka kemudian mengenali pikiran dan kedalaman keilmuan ulama-ulama kita. Oleh karenanya, kita harus menguatkan format kemitraan kita tidak hanya dengan ulama yang punya karya-karya di Jawa Timur tapi ulama Nusantara.” urainya.

Khofifah bahkan menyebut kedalaman keilmuan ulama Nusantara tidak kalah dengan ilmuwan besar dalam sejarah peradaban Islam.

” Betapa hebatnya keilmuan ada Ibnu Sina, Al Faraby, Al Jabbar. Keilmuan itu ternyata dimiliki ulama-ulama kita.” papar Khofofah.

Ia menilai penguatan turots sangat selaras dengan momentum Muktamar ke-35 NU. Digitalisasi, preservasi, penerbitan, dan kajian manuskrip dinilai akan memperkaya referensi keislaman sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam percaturan intelektual dunia.

” Saya optimis referensi kita akan makin kaya. Bagaimana keilmuan ulama Nusantara dari ratusan tahun sampai dengan hari ini, keilmuannya tetap update untuk bisa membaca berbagai fenomena hari ini dan yang akan datang.” lanjut Gubernur Jatim ini.

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah menyerahkan dua kompilasi karya ulama Jawa Timur, yakni Majmūah al-Muṣannafāt as-Sāmiyah li Baḍ Ulamā’ Jawa asy-Syarqiyyah dan Majma` al-Anwār min Rasā’il al-Akhyār, hasil kolaborasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur dengan Nahdlatut Turots.

Penguatan kajian turots juga mulai dibangun di lingkungan akademik. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya kini memiliki program studi terkait turots untuk jenjang master degree.

Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhajir menegaskan, turots merupakan fondasi penting dalam menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam dan pesantren dari generasi ke generasi.

“Tidak akan ada kebangkitan ulama kalau tidak ada kebangkitan turots.” ujar KH Afifufddin Muhajir.

Menurutnya, turots memuat warisan keilmuan agama sekaligus ilmu alat yang menjadi bekal untuk memahami sumber-sumber agama secara mendalam. Karena itu, kebangkitan pesantren harus berjalan beriringan dengan perhatian serius terhadap kitab-kitab warisan ulama terdahulu.

“Pesantren ini menjadi memadukan kesalafan dan kemodernan. Unsur itu tidak mungkin terwujud tanpa memperhatikan kitab turots ini.” lanjutnya.

Ia berharap gerakan pelestarian dan pengembangan turots terus berlanjut dengan melibatkan seluruh pihak yang memiliki perhatian terhadap khazanah keilmuan ulama terdahulu.

“Mudah-mudahan ini terus berlanjut… semoga pengembangan khazanah keilmuan ulama terdahulu bisa terus dilestarikan.” papar Kyai Afifuddin

Pameran dan Klinik Turots akhirnya bukan sekadar etalase manuskrip lama. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ikhtiar untuk menghubungkan warisan intelektual ulama Nusantara dengan kebutuhan ilmu pengetahuan masa kini—agar turots tidak berhenti sebagai peninggalan, tetapi kembali hidup sebagai sumber pengetahuan dan referensi dunia.