KaMedia – Suasana Lapangan Perse, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (1/6/2026) mendadak bergetar oleh semangat nasionalisme. Di bawah langit Ende yang sarat sejarah, ribuan pasang mata menyaksikan jalannya Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tingkat Provinsi NTT yang berlangsung dengan sangat khidmat dan penuh haru.
Bertindak sebagai Inspektur Upacara, Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) memimpin jalannya upacara yang tahun ini mengusung tema kuat: “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.”
Peringatan kali ini terasa begitu magis. Pasalnya, Ende bukanlah kota biasa. Di kota inilah, sepanjang tahun 1934–1938, sang Proklamator Bung Karno diasingkan dan menghabiskan waktunya merenung di bawah pohon sukun hingga melahirkan butir-butir emas Pancasila.
Upacara ini tidak hanya dihadiri oleh ribuan ASN, personel TNI, anggota Polri, pelajar, dan organisasi kepemudaan se-Kabupaten Ende, tetapi juga menjadi panggung berkumpulnya para pemimpin daerah seperti Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, Bupati Ende, Yosef Benediktus Badeoda, dan Wakil Bupati Dominikus Minggu Mere, Bupati Nagekeo, Simplisius Donatus, Wakil Bupati Ngada, Bernadinus Dhey Ngebu dan Anggota DPR RI, Dipo Nusantara Pua Upa, serta jajaran Forkopimda.
Saat membacakan pidato Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi, Gus Ipul menegaskan bahwa Pancasila adalah jangkar Indonesia di tengah badai ketidakpastian global.
“Pancasila adalah bintang penuntun yang telah membuktikan ketangguhannya. Di tengah dunia yang diwarnai ketidakpastian dan ancaman fragmentasi, Indonesia tetap berdiri kokoh sebagai contoh nyata bagaimana keberagaman dapat disatukan dalam satu ikatan kebangsaan,” tegas Gus Ipul.
Ketegangan upacara formal seketika mencair saat Gus Ipul mengajak seluruh peserta yang hadir untuk bernyanyi bersama. Lagu “Pancasila Rumah Kita” karya Franky Sihalatua menggema di Lapangan Perse, menciptakan momen emosional yang mempererat rasa kebersamaan.
Usai upacara, Gus Ipul bersama rombongan pejabat melakukan napak tilas sejarah ke Taman Renungan Bung Karno. Mereka berdiri di bawah Pohon Sukun, tempat legendaris di mana Bung Karno dulu duduk merenungkan masa depan bangsa ini.
”Saya sangat berterima kasih diberi kesempatan ikut dalam peringatan di Ende ini. Suasananya luar biasa khidmat, dan antusiasme masyarakat begitu besar. Ini adalah bagian penting bagi jiwa bangsa kita,” ungkap Gus Ipul haru.
Kemeriahan mencapai puncaknya ketika Gus Ipul, para pejabat, dan sekitar 3.000 pelajar serta warga Ende melebur menjadi satu. Mereka bergandengan tangan, membentuk lingkaran besar, dan menarikan Tarian Gawi secara massal. Tarian tradisional ini menjadi simbol nyata dari persatuan, gotong royong, dan hilangnya sekat status sosial.
Di akhir kunjungannya, Mensos menitipkan pesan mendalam bagi seluruh masyarakat Indonesia. Ia mengingatkan agar Pancasila tidak sekadar menjadi hafalan di luar kepala atau jargon politik.
“Dengan Pancasila, kita bisa menjadi bangsa yang kuat seperti sekarang. Maka dari itu, mari kita laksanakan sila-sila Pancasila itu dalam kehidupan sehari-hari. Ini bukan sekadar jargon, ini adalah pandangan hidup nyata kita,” ujarnya.
Gus Ipul juga melempar pujian setinggi langit bagi kekompakan para kepala daerah di NTT. Ia melihat adanya energi luar biasa dari Gubernur dan para Bupati/Wali Kota se-NTT dalam mendukung program strategis Presiden Prabowo.
Semangat kolaborasi ini, menurut Gus Ipul, adalah modal utama untuk mengeksekusi berbagai program besar pemerintah pusat di daerah. Mulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) lewat penyelenggaraan Sekolah Rakyat, hingga pembenahan bantuan sosial agar lebih tepat sasaran melalui penguatan konsolidasi Data Tunggal.
Dari Ende, NTT, Indonesia kembali diingatkan: Pancasila bukan masa lalu, melainkan masa depan yang harus terus dihidupkan.











